Latest Entries »

Dunia konstruksi 1


Sudah hampir dua tahun ini, saya terlibat aktif dalam fase konstruksi. Dimana sebelumnya, hanya mengeksekusi fase engineering saja. Ya, semua itu termasuk dalam sebuah cerita yang terangkai dalam dunia EPC.

Didalam fase Konstruksi ini, kita dituntut untuk merealisasikan desain yang telah ‘digodog’ selama  masa engineering. Dengan bahasa lebih sederhana ialah, merealisasikan ke dalam bentuk nyata.

Selama proses konstruksi ini, semua disiplin bekerja bersama. Tentu saja di mulai dari civil yang mempersiapkan semua pondasi, mulai dari pemancangan, sampai pengecoran pondasi. Setelah pondasi siap, maka dari equipment bisa masuk untuk memasang alat yang sudah dibuat sebelumnya dan ataupun alat yang dibuat dilapangan.

Adapun untuk peralatan yang sudah jadi, tahapan yang harus dilakukan ketika fase konstruksi ialah:
1. Chipping dan padding
2. Erection
3. Levelling
4. Plumbness
5. Grouting
6. Pemasangan internal (jk ada)
7. Boxing up

Itu langkah2 yang harus dilakukan jika kita bekerja di konstrusi sebagai seorang mechanical engineer. Setelah semua tahapan selesai, maka disiplin lain bisa masuk untuk mengkoneksi peralatan tersebut. Piping, electrical, instrument.


Beberapa waktu yang lalu, saya baru saja menyelesaikan sebuah kegiatan pre commissioning dan commissioning untuk dehydration unit package. Sebuah unit yang dipergunakan untuk menyaring kadar air yang terkandung dalam gas. Ketika gas itu akan dijual, kadar air yang terkandung dalam gas, harus lah seminimal mungkin. Dalam kasus yang saya hadapi, kandungan air dalam gas setelah keluar dari dehydration unit ini ialah <= 7 mmscfd.

Selain untuk dijual, gas dari unit ini dipergunakan untuk bahan bakar Gas Turbine Generator dan Thermal Oxidizer. Prinsip dari Dehydration unit ini sebenarnya sangatlah sederhana, yaitu dengan menkontakkan Gas dengan Glycol dalam contactor. Gas, setelah di olah dari beberapa sistem upstreamnya (seperti GSU, AGRU, dan CTU) kemudian sebelum di jual lewat metering, gas tersebut di olah di unit ini untuk mendapatkan kadar air yang di inginkan seperti dalam desain.

Dalam unit ini ada beberapa equipment utama yang harus ada diantaranya ialah:

1. Tower / Contactor

2. Reboiler dan Surge Drum

3. Flash Separator

4. Cold Heat Exchanger

5. Hot Heat Exchanger

6. Sock Filter

7. Carbon Aktif Filter

8. Pot Drum

9. Glycol Pump

10. Still Column

Sebenarnya dari beberapa unit diatas masih ada tambahan unit, untuk memanfatkan gas buang dari sistem kemudian dimasukkan kedalam sistem sebagai bahan bakar dari burner untuk memanaskan Rich Glycol dan menguapkan kadar airnya dan kemudian dibuang ke open drain dari plan.

Pada awal tulisan ini saya ingin membahas secara sederhana dulu saja mengenai proses dehydration ini. Wet gas, masuk kedalam contactor, kemudian lean glycol dari system melakukan contact dengan wet gas di dalam packing yang dipasang di contactor. Air akan terserap oleh Glycol dan Rich Glycol kemudian akan disirkulasikan kembali ke dalam sistem dehyration. Dimana rich glycol tersebut akan dipisahkan dari condensate yang mungkin terbawa, air dan h2s yang masih ada.

DHU

    “DHU under construction”

    Bersambung

Lelaki dengan Novel Burung Manyar


Chapter-1
Pertemuan pertama

Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas wajahnya ketika aku bisa duduk satu bangku dibelakangnya di kereta taksaka, jurusan jakarta jogjakarta. Aku sudah melihatnya semenjak berada di peron stasiun, lelaki itu duduk cuek sembari membaca sebuah novel karangan romo mangun. Kalau aku liat sekilas, sepertinya lelaki itu membaca burung-burung manyar. Lama aku mencuri pandang, di antara ribuan pemudik yg masih dengan setia menanti kereta yang akan berangkat pukul 20:45 itu.

Jarak antara tempatku duduk dengan lelaki itu cukup jauh, aku hanya bisa melihatnya secara samar. Entah mengapa, aku suka melihat penampilannya yang sangat cuek tanpa berusaha mempedulikan keadaan sekitarnya yang sangat hectic. Sesekali, lelaki itu membetulkan letak kacamata hitam yg menempel di wajahnya.

“Klik..”

Aku mencoba untuk memotretnya dengan kamera handphone ku, namun hasilnya kurang memuaskan, dan sangat kabur.

Ketika ada sebuah kursi kosong didepannya, aku segera mungkin menuju tempat itu, namun baru saja aku mau mengangkat kaki ini, ada seorang wanita yang sudah lebih dahulu mengambil tempat strategis itu.

“Arrgghh..” geramku

Pandanganku berubah mengamati wanita muda tadi, memang cantik sih, dan ternyata wanita tadi juga mencuri pandang ke lelaki dengan novel burung manyar itu. Aku terus saja melihat kejadian yang tidak menyenangkan hatiku itu. Ingin rasanya aku menghalangi pandangan strategis wanita itu.

“Apaaa… dia mengeluarkan handphone.. ahhh..”

“Sial, dia sudah mengambil gambar lelaki itu..” gerutu semakin menjadi

Aku kemudian melangkah maju, sembari membawa tas karier dipunggungku, aku memutari tempat itu, dengan harapan dia melihatku. Namun, sial saja, tatapannya masih asyik melihat novel yang sedang dibacanya.

Kulirik jam tangan yang aku beli ketika aku PTT di kalsel dulu, 20:30, dan ketika pandangan ini beralih kulihat tempat duduk di pojokan sudah ditinggal penghuninya, dan juga wanita itu sudah tidak ada. Aku segera berlari, hampir saja aku terpeleset di anak tangga kedua stasiun yang menuju ke peron.

“Hati-hati mbak,keretanya masih 15 menit lagi kok” sapa petugas KAI dengan ramah.

Aku hanya tersenyum simpul saja, sembari segera naik ke atas. Sesampainya diatas, mata ini terus berusaha mencari sosok itu, namun tetap belum ketemu.

“Mbak, di gerbong berapa?” Tanya petugas kereta

“Oh iya, sebentar pak, saya liat tiket dulu, taksaka 6, 8D..” sahutku setelah melihat tiket yang sudah lusuh itu

Setelah aku masuk, aku kemudian mencari tempat duduk itu. Segera aku rebahkan diri di pojok dekat jendela.

“Ohh.. lelaki itu masuk gerbong ini,semoga dia duduk disisiku..” sembari memeluk jaket dan berdoa khusuk.

Satu, dua dan tiga langkah lelaki itu berhenti, melihat tiket dan diapun segera memasukkan tasnya diatas,tepat diatas kursi 8CD.

“Asyikkkk….” batinku

Aku pun memejamkan mata, karena aku tidak kuat untuk menerima anugerah ini. Aku masih saja memejamkan mata ini, sembari menunggu suara dentuman kursi disebalahku.

“Buukk..” suara itu terdengar lemah..

Aku segera membuka mata dan ingin mengucapkan sedikit salam kepadanya. Namun,bukan lelaki itu yang aku liat, seorang ibu2 yang ternyata duduk disampingku.

“Dimana dia?”

Sontak aku beranjak dari tempat duduk ku, dan mata ini melotot ketika melihat lelaki burung manyar itu duduk didepan ku bersama wanita yang sudah mencuri2 pandang di peron tadi.

“Ahhh sialan, lucky bitch…” amukku

Ingin aku menjambak rambutnya,namun keinginan itu aku pendam. Terdengar obrolan didepanku, renyah juga suaranya, dengan buku yang sudah di tutup dan berada di pangkuannya.

“Tri… oh bukan ternyata cewek itu yang namanya putri..”

Aku masih saja cuek mencuri dengar, percakapan yang sangat menyenangkan, kadang diiringi dengan suara tertawa dari kedua orang di depanku, yang tentu saja hal itu membuat ku sangat gondok dan jengkel setengah mati. Aku merasa perjalanan ini akan memakan waktu yang sangat lama dan tentu saja menyebalkan. Sambil meraih roti yang ada di tempat kecil sampingku, dan ku kunyah dengan sadis.

“Maaf mba..” kata ibu2 disampingku

Apaan sih ini orang, mengganggu kenikmatan ku saja, apa dia tidak tahu kalau aku lagi bete dan jengkel. Ditambah manggil aku lagi..

“Iya, ibu.. kenapa?” Sungutku dengan wajah yang kubuat manis

“Itu yang mbak makan roti saya, roti mbak kan sudah habis dimakan semenjak ada di cikampek tadi” katanya menjelaskan.

“Oh..iya ya.. maafkan saya ibu, aduh gimana ini.. adududu maaf ken” wajahku mendadak semakin tidak enak untuk dipandang, dan rona wajahku pun memerah tidak lucu. Untung saja, ibu itu mau mengerti, barangkali dilihatnya aku mungkin terlalu lapar.

“Ah, sialan, gara2 lelaki itu aku jadi malu setengah dewa”

Perjalanan kereta pun semakin mendekat ke jawa tengah, dan dengan banyak kegalauan aku pun lelap dipeluk dinginnya AC taksaka itu, selimut biru itu tidak lupa aku tarik untuk menutup semua badanku.

“Perhatian, bagi penumpang yang turun di stasiun purwokerto harap menyiapkan diri”

Aku terbangun mendengar suara itu, segera aku mengusap mata serta menutup mulut karena mendadak uap kantuk dari mulutku keluar.

“Apaaaaa….”

Kulihat gadis itu sudah bersandar di pundak lelaki itu, pasti hal itu dilakukannya dengan sengaja, dan dia pasti mencuri semua kesempatan itu.

“Curang….” kataku setengah berteriak

Mendadak semua mata tertuju kepadaku, ternyata teriakan ku lumayan keras,tak lupa lelaki didepanku juga berbalik melihatku. Malu, tentu saja, dan aku hanya diam tertunduk malu, sembari berpura-pura mengigau dengan membuat gerakan mengucek mata. Kulihat lelaki depanku sekilas tadi menampakkan senyuman yang manis, dan setidaknya karena teriakan ku tadi, gadis itu sudah tidak bersandar lagi dipundaknya.

Segera aku merapatkan kembali selimutku. Sambil tetap menahan malu yang sangat membuatku mati gaya.

Pukul 5:30 kereta sudah mulai masuk ke stasiun tugu. Kulihat semua penumpang sudah siap sedia, termasuk lelaki itu dan kulihat lelaki itu memakai kaos kagama, aku melihat kecil lambang itu, dan sebuah tulisan “kagama virtual”

“Ahhhh…kesempatan ini” gumangku

Sebelum berpisah aku harus tahu namanya. Setelah kereta berhenti aku pun berdiri didekatnya.

“Mas, kagama juga ya? Aku juga kagama. Namaku Neta” kataku dengan cepat padat singkat.

Oh ternyata orang nya itu, yang sering aku dengar serta aku baca tulisannya.

“What a small world ya” katanya singkat.

Oh, senyumnya menggetarkan hatiku, suaranya sangat menenangkanku. Dan obrolan singkat itu mewarnai hari pertama ku di jogja, 2 hari terakhir berpuasa untuk menyambut lebaran dikota kelahiranku. Oh sungguh indah jogja pagi ini.


Run out of idea

Sering kali saya kehabisan ide untuk sekedar menulis, inspirasi itu benar2 kosong melompong. Bagi saya hal seperti ini seperti membunuh dan mematikan semua logika serta pikiran saya untuk lebih maju lagi. Terutama untuk mendapatkan dopamine otak saya, dan lebih diperparah lagi hal itu sering berefek ke muka saya menjadi kusut dan perlu di setrika. Ya its true.

Bagi saya menulis merupakan sebuah olahraga untuk otak saya, mungkin saja itu hanya sebuah tulisan bodoh, dummy, namun untuk menuliskan ide ke dalam sebuah tulisan memerlukan kombinasi khayalan yang kadang membuat otak ini berpikir extra keras. Banyak hal yang tentu saja saya lakukan untuk selalu mengaliri otak ini dengan ide, banyak membaca, banyak melihat lingkungan, namun kalau semua itu sudah tidak mempan untuk menumbuhkan ide, saya harus pergi ke tempat baru. Its happen when I goes to Rambut Island.

Kadang kala, kita mempunyai banyak ide, namun sangat susah bagi kita untuk mengkomunikasikannya dengan orang lain. Bagaimana orang lain bisa tahu ide kita jika kita tidak menyampaikan gagasan kepada orang lain? Saya masih ingat pada tahun 2008 saya masih tidak bisa menulis dengan lancar. Dolo sewaktu kuliah hanya sempat satu dua kali menulis, termasuk mengenai mesin fluida. But then it stopped. Walaupun hal itu terhenti, namun hati ini selalu meronta ronta ingin menulis. Akhirnya banyak novel saya lahap, banyak cerita fiksi saya lahap dan akhirnya putaran rantai di otak saya bisa berjalan dengan lebih mulus lagi.

Nah, ini baru dari saya, kalau misalnya dari teman2 semua bisa menuliskan gagasannya menjadi sebuah tulisan sederhana, barangkali aka nada banyak sekali tulisan yang berwarna. Yang simple sajalah.

Yang pinter masak bisa saja menuliskan resep masakan, terdengar bodoh? Tentu saja tidak, kalau hal ini yang muncul, maka anda belum pede dengan tulisan sendiri.

Yang pinter ngoprek gigi, bisa nulis cara merawat gigi.

Yang pinter ndongeng, bisa menulis dongeng

Yang pinter nulis puisi bisa menulis puisi

Yang pinter photograpy bisa menulis trik dan tip poto

Dan lain lainnya…

Kalau belum mau muncul juga tulisannya, sudahlah diskripsikan saja tempat tinggal anda, jalan menuju kantor, ketemu siapa saja, bagaimana mood anda, bagaimana hari anda. Pastilah akan banyak sekali cerita sosial yang bisa terekam dalam kejadian selama satu hari anda.

Berani menuliskannya?


Sedikit cerita ketika pulang dari pulau Rambut. Sewaktu kapal itu berlayar menuju ke kembali ke daratan, saya sempat ngobrol satu duwa patah kata dengan mba Any Re. Beliau dari psikologi UGM angkatan 88. Obrolan ringan pertama ialah membahas masalah psikologi klinis. Sungguh sangat menarik sekali kalau masalah psikologi klinis itu diangkat ke permukaan.

Banyak sekali yang bisa diulas dan dibahas. Kebetulan beliau bekerja di RSUJ di magelang, dan semua psikolog di tempat itu banyak yang perempuan, hanya ada satu yang laki-laki. Nah, ketika mendengar cerita ini, pikiran saya kemudian meluncur ke penjara di Miami, sebuah penjara dengan beberapa kelas sistem pengamanan, mulai dari kriminal kelas kacang sampai kelas sadis. Ada sebuah kesamaan, yaitu banyak juga sipir perempuan disana. Nah, yang menjadi persoalan disana ialah para napi tersebut ketika melihat sipir perempuan mereka melakukan kegiatan mastursaru. Oh my dog. Tapi syukurlah tidak terjadi di RSUJ nya mba Any Re. Hanya saja ketika beliau menghadapi pasien cowok selalu ada pendamping.

Ngeri juga, saya membayangkan perubahan kepribadian yang mungkin bisa saja terjadi (kalap, marah dll) ketika proses konsulatasi itu sedang dilaksanakan. Namun beliau enjoy dan menikmati itu semua. Pasien yang sangat menyebalkan ialah penderita narkoba, karena banyak dari mereka yang tidak sadar bahwa hidupnya itu terancam, dan mereka tidak ingin sembuh. Hal konkrit yang bisa terlihat ialah, ketika pecandu itu diantar oleh keluarga, pacar, kerabat untuk berobat. Nah, kata kunci ada pada kata diantar, karena disini si penderita itu sudah tidak ada niatan dari dalam dirinya untuk sembuh dari ketergantungan. Benar juga, kalau dorongan itu tidak berasal dari dalam diri sepertinya akan sangat susah dan akan kembali lagi untuk ke tempat kubangan itu. Yang lebih parah lagi ialah dipaksa untuk sembuh (ya, walaupun untuk kebaikan namun sepertinya akan sangat susah untuk sembuh).

Selain itu ngobrol juga mengenai masalah anak2 dengan kepribadian spesial, dan beliau juga menyebut bahwa peran dari lingkungan sekolah itu juga bisa banyak menstimulus mereka untuk lebih maju. Jadi stimulus serta perkembangan itu juga bisa beragam, tidak hanya dengan anak2 sesamanya namun dari pergaulan yang lain. Nah dilingkungan ini kita semua harus support saudara2 kita tersebut.

Topik selanjutnya ialah, masalah kebosanan di tempat kerja. Bosan dengan tempat kerja? Ya ciptakan tantangan supaya tidak bosan, itu topik selanjutnya. Kadang kala kita atau mungkin saya sering kali dilanda kejemuan ditempat kerja, jenuh dan bosan akan semuanya. Nah, sarannya ialah ciptakan tantangan itu, bunuh kebosanan itu. Jika memang masalah nya pada kebosanan, buang dan hadapi dengan sebuah tantangan yang lebih menyenangkan.

Sepertinya masih banyak lagi yang bisa dibahas, namun kapal ini tidak terasa sudah berada ditepi daratan.

Bluwok Pulau Rambut


Ada sebuah momen yang menurut saya sangat luar biasa di Pulau Rambut. Kejadian yang bisa menunjukkan sebuah hubungan yang sangat harmonis antara manusia, alam dan burung. Saya lupa tidak sempat untuk menanyakan namanya, sebut saja pak Udin, dia orang yang bertugas di pulau itu.

Keseharian yang nampak sangat sederhana namun bersahaja. Ya, dari nya lah, saya diperlihatkan sebuah interaksi yang sangat manis antara burung bluwok dengan dirinya.

Karena saya lupa untuk mengabadikannya, disini saya coba untuk mendiskripsikan saja. Pada suatu siang pak Udin memanjang salah satu sarang dari bluwok tersebut, sebuah kamera digital 16 mp, tak lupa diikatkan dengan sebuah bambu untuk merekam kejadian itu, pada awalnya setelah naik dan berada di dekat bluwok tersebut beliau bicara mengenai spesies itu, ya bluwok itu tidak terbang menjauh, setelahnya dia pun memegang kaki bluwok itu dan masih saja, burung itu diam seribu bahasa. So sweet. Sayang untuk elang laut hanya ada fotonya saja.

Saya jadi teringat acara sejenis discovery channel, hampir mirip namun lebih sederhana. Sebuah interaksi antara manusia dengan makhluk habitat dimana dia berada.

Bapak tersebut secara tersirat mengajarkan kepada saya khususnya untuk selalu mencintai alam dan isinya, jagalah dalam buaianmu, sayangilah seolah dia pualam hatimu. Maka alampun akan mencintai semua ketulusanmu.

(Mari kita membiasakan diri untuk mengurangi penggunaan stirofoam, gelas plastik dan barang yang tidak mudah terurai ketika kita melakukan aktivitas sehari2, demi sebuah kombinasi hidup yang indah)


Kita pasti masih ingat dengan kejadian 33 pekerja tambang yg terkubur selama 17 hari diperut bumi tanpa akses keluar dengan minimnya logistic  serta berada pada kedalaman hampir 800 meter di Chile beberapa waktu yang lalu. Ketika tambang itu runtuh, pada 15 menit awal mereka yang terjebak panik dan mengurusi diri mereka sendiri, semua kacau, tidak ada pemimpin sama sekali dan mereka pun tidak tahu ada berapa orang yg terjebak disana.

“Jika saya mati, maka saya akan mati” kata mario sepulveda

Namun sesaat kemudian mereka segera bisa memetakan semua dan berangsur pula kepanikan itu mereda, walaupun wajah ketakukan itu tetap menghiasi wajah mereka. Mereka segera mengumpulkan apa yg kiranya bisa diambil untuk bertahan hidup, dan akhirnya di lemari penampung mereka menemukan beberapa kaleng tuna saja, serta obat2an. Untuk minum mereka mendinginkan air kotor yang berada di sekitar mereka (suhu dibawah sekitar 40 deg C). Dalam membuat penerangan, mereka memcopot aki kendaraan dan dibuat lampu penerangan seadanya. Semua yg terjebak ialah pekerja, tidak ada satupun insinyur didalamnya. Semua pekerja itu berjumlah 33 orang, dan mereka termasuk tim yang solid. Bahkan semenjak hari pertama terjebak, mereka sudah mulai untuk mengkoordinasikan semuanya

“Kalau ada satu insinyur yang ikut terperangkap dg kami, maka kami pasti akan cepat mati” kata Mario Sepulveda Perry, salah satu pekerja tambang.

Dia menambahkan bahwa dalam situasi seperti itu, insinyur akan membanggakan gelarnya, cenderung arogan serta menonjolkan egonya. Dan semenjak awal, semua pekerja itu kompak untuk bertahan bersama dan tidak menyerah dg keadaan.

+++

Diatas bumi, perusahaan tambang dan pemerintah jg mulai berencana untuk melakukan evakuasi, namun semua tidak terencana dg baik dan malah terkesan menunggu. Oleh karena itu, Lely Gomez istri dari Mario gomez (penambang paling tua), berinisiatif untuk mendirikan kemah dan berusaha menarik perhatian khalayak, usaha ini berhasil. Akhirnya seluruh Chile melihat dan mendengar, semua nya fokus serta memberikan bantuan untuk segera bisa mengeluarkan mereka dari perut bumi.

“Kami hanya ingin mereka peduli, jangan kalian tinggalkan dan abaikan para korban yang tertimbun” seru Lely

+++

Kembali lagi ke bawah, mereka masih tetap berusaha untuk survive  dengan makan makanan kaleng yang dimakan tiap 2hari sekali satu sendok makan. Kondisi tubuh pun menjadi sangat buruk, bahkan Avega Barrios kehilangan berat sampai 16kg. Sebanyak 33 cangkir gelas telah dibagikan rata, dan setiap waktunya makan, hanya dengan tuna ditambah dengan air. Dengan beralaskan kardus mereka menghabiskan hari, entah itu siang maupun malam.

Avega barrios merupakan sosok seorang yang suka dengan humor, untuk membangkitkan semua optimisme, selain sering berusaha untuk menghibur dengan kejenakaannya, dia sering membayangkan bahwa dia sedang berkumpul dengan keluarga tercinta dengan putri cantiknya. Dengan begitu rasa optimisme itu selalu ada di dadanya.

“Saya menulis surat ini untuk istri saya yang cantik, kamu harus meneruskan semua hidup dan menatap masa depan” kata Avega sembari terus menulis sampai 2 lembar banyaknya.

“Saya akan membungkus surat ini dalam plastik, sehingga ketika jenazah saya rusak, surat ini tidak rusak dan bisa dibaca. “ kata nya sembari menitikkan air mata

 +++

Para sukarelawan serta petugas penyelamat, masih berdebat untuk menentukan dimana tepatnya lokasi mereka, mereka melakukan banyak  pengeboran ke dasar bumi, dan setelah lubang itu terbentuk mereka menyertakan sebuah kamera untuk melihat kondisi didalam. Namun semua itu masih sia-sia, dan mereka hanya mendapati puing-puing tanpa melihat adanya tanda-tanda kehidupan maupun korban.

 +++

Selama 4 hari pertama terjebak di perut bumi, mereka tidak pernah mendengar adanya sebuah kegiatan penyelamatan dari atas, entah itu suara bor ataupun suara lainnya. Mereka hanya bisa saling menguatkan satu dengan yang lain, serta memasrahkan semua kepada Tuhan.

 “Saya menggantungkan semuanya di atas kepala saya, saya pasrah, namun jika saya tidak pernah bisa keluar dari tempat ini dan mati, saya tidak akan pernah menyalahkan Tuhan” Kata Avega

 Memasuki hari kesepuluh, kondisi mereka masih tetap sama, dan Avega pun berkeliling melihat kondisi rekannya.

 “Kenapa kamu menangis?”

“Kamu tahu, aku tidak akan pernah bisa lagi melihat perkembangan anakku, aku tidak pernah bisa mendidik mereka lagi” kata Zamora

Mendengar itu semua, Avega pun berjanji bahwa dia akan berusaha untuk bertahan hidup dan bisa keluar dari tempat itu, dia pun kemudian kembali ke pembaringannya yang berupa karton tebal. Memasuki hari ke 14, para pekerja yang terjebak itu mendengar suara bor, senter itu kemudian mereka arahkan ke langit2, dan berusaha untuk melihat dari sudut manakah alat bor itu akan keluar. Namun, beberapa saat kemudian suara bor itu hilang dan hilanglah harapan mereka. Suasana pun senyap.

Hari ke 16, disaat mereka akan makan Tuna terakhir, mendadak Avega Barrios bilang untuk tidak makan lagi selama 24 jam. Kondisi Avega saat itu sangatlah parah diantara rekan yang lain, namun dia mengusulkan untuk menghemat persediaan makanan itu. Dan mereka pun tidak makan, selama 72 jam perut mereka kosong tanpa ada makanan yang masuk

 “Aku sudah pasrah, aku tidak yakin bahwa akan selamat dari sini, namun aku tidak mau terlihat konyol ketika aku harus mati” Kata Mario.

Kemudian, dia mengenakan seragam tambangnya, lengkap dengan sepatu boot serta helm dikepalanya, kemudian dia merebahkan diri ditempat itu, tanpa daya, dan pandangan mata mulai sangat kabur. Namun, memasuki hari ke 17, sayup mereka mendengar suara bor itu lagi, suara itu semakin jelas dan akhirnya sebuah mata bor sampailah menembus bunker bawah tanah itu, sontak semua gembira, dan ketika mata bor itu berhenti bergerak, mereka segera memukul dengan segenap hati, untuk mengabarkan bahwa mereka masih ada. Dentuman metal itu pun beradu dan menandakan akan adanya sebuah harapan. Kemudian mereka menyelipkan sebuah pesan bahwa mereka masih hidup kemata bor tadi.

 +++

 “Surat dari perut bumi, mereka masih hidup” seru Sebantian Pinera dilokasi kejadian

 Sontak semua bersorak gembira, namun tidak dengan Lely Gomez, karena dia yakin bahwa suaminya masih hidup, karena dia selalu berdoa kepada Maria, dengan sembari memegang roknya.

 “aku tahu kamu tidak pernah mengecewakan doa ku” katanya.

Selanjutnya para pekerja itu dievakuasi dengan sebuah kapsul yang bisa mengangkat satu orang dari perut bumi. Saat ini pertambangan itu sudah ditutup dan para pekerja menuntut pabrik karena safety yang sangat kurang. Semoga tidak ada kejadian serupa yang terjadi

Moral of the story:

–          Untuk teman2 yang bekerja di konstruksi, tambang, oil Co pastikan selalu bahwa semua perlengkapan darurat itu tersedia.

–          Pastikan bahwa lingkungan kerja anda safe dan jika menemukan gejala akan sebuah bencana, maka segera dilakukan pencegahan.

–          Dalam bekerja selalu hati2 dan mentaati prosedur, karena keluarga anda selalu menanti anda pulang kerumah.

–          Ketika dalam keadaan kritis, janganlah membawa ego masing2, karena ego itu bisa membunuh anda.

–          Bekerja sama serta saling menguatkan untuk menyelesaikan permasalahan.

–          Selalu ingat untuk berdoa J

 

Ths

Reff: Discovery channel, internet, History

Chatting yuk..


Buzz…

Dari zaman mempergunakan MIRC, Yahoo Messanger, Skype sampai aplikasi modern yang langsung terintegrasi ke ponsel seperti BBM, Whatapps, chat on dll, aplikasi ini sudah sangat berkembang dengan pesatnya dan dengan tampilan yang sangat user friendly semakin memudahkan kita untuk menjalankannya. Tentu saja dengan semakin majunya sebuah tehnologi akan semakin memudahkan kita untuk saling berkomunikasi. Saya masih ingat chat pertama saya dengan teman di tekim, dengan mempergunakan aplikasi Yahoo Messanger atau lebih populer dengan singkatan YM, saya berbicara dalam bahasa tulisan dengan teman saya tersebut. Ternyata hal itu sangat menyenangkan, dan yang jelas murah meriah untuk ukuran kantong mahasiswa. Sewaktu kuliah, saya sering akses internet di Blangkon net, selatan Fisipol sekip, kadang bisa sampai berjam2 menghadap layar monitor.

Dengan adanya fasilitas YM ini, bisa mendekatkan yang jauh menjadi lebih dekat, apalagi rencananya tahun ini semua wilayah di Indonesia sudah bisa terjangkau fasilitas internet, dan Pak Menkoinfo TS mengatakan bahwa tarif Internet akan semakin murah lagi. Saya jadi ingat, beberapa waktu lalu waktu bertemu dengan om NL, beliau mengatakan bahwa sebenarnya saluran utama dari dunia maya ini (khususnya untuk Indonesia) masih sangat kosong dan lalu lintas data masih sangat kecil dari kapasitas sebenarnya yang sangat besar. Analogi sederhana nya ialah, misalnya pipa utama itu berukuran 48 inch maka saluran-saluran kecil penghubung baru 0.5 inch saja. Nah oleh karena itu, koneksi internet di Negara ini sangat busuk😦.

Nah kembali lagi ke chating, sebenarnya jika koneksi sudah sangat baik, maka jarak akan semakin tidak menjadi sebuah masalah dan dunia ini akan semakin kecil saja. Tidak akan banyak DC DC an lagi, dan layar Skype akan jernih tanpa terputus putus. Ya, you can grab earth in your hand. Namun bagaimanakah dampak dari chating ini sendiri?

Dampak Chating

Seperti mata uang, tentu saja ada dua sisi yang berbeda, side A dan side B. Bagi keluarga yang berpisah jarak dan ruang, keberadaan fasilitas ini sangat membantu untuk berkomunikasi dengan keluarga, saling menatap walaupun itu hanya sebatas gambar di dunia maya. Selain itu pula, kita akan lebih mudah akrab dengan teman yang mungkin baru kita kenal, PS juga bisa🙂.

Untuk sisi yang lain, mungkin kita akan menjadi seorang yang akan cenderung sedikit tidak mau melihat ke dunia luar. Oh ya? Ketika kita sedang sibuk melakukan chating dengan teman kita, padahal kita sedang berkumpul/ kopdar/ munas/ rapat dengan temans nyata, mungkin akan sedikit terlihat bahwa kita sedikit egois dan tidak memperhatikan sekeliling dengan lebih fokus. Ya, kita akan lebih kehilangan fokus untuk tetap memperhatikan hal yang seharusnya kita perhatikan.

Hal ini mungkin juga disebabkan oleh budaya kita yang sangat suka dengan sebuah komunitas, apapun wadahnya dan bagaimanapun typenya. Kalau kita mengambil slogannya Nokia “connecting people”, maka chating ini juga salah satu sarana untuk menghubungkan orang.


Sukapura, merupakan tempat pertama kali aku mengenal Jakarta. Disebuah daerah yang bisa dikatakan kumuh aku kos untuk pertama kalinya. Berdua dengan temanku, kami membayar harga 200K IDR untuk pondokan satu bulan. Selama kurang lebih setengah tahun aku berada di tempat itu. Ditempat itu aku mengenal para pekerja yang rata2 mempunyai keahlian menjahit dari berbagai daerah, ada yang dari Sragen, Padang, Pemalang, Kebumen, Purworejo, Lampung dan dari Cirebon. Kost tempat ku berteduh itu terdiri dari 20 kamar tidur dengan 5 kamar mandi. Didepan nya ada sebuah padang rumput yang agak kotor bertumpukan sampah serta tidak lupa pula ada sebuah kandang kambing, dimana kadang kala kambing-kambing itu suka berkeliaran dengan bebasnya, bahkan sampai diperumahan mewah disebelahnya. Hanya dibatasi sebuah sekat dari tembok, dua pemandangan kontras itu terhampar di mata aku, ironis memang dan hal itu membuat aku kembali berpikir, “apakah aku akan tinggal di Jakarta dan beraktivitas dengan lingkungan seperti ini?”. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sembari menarik nafas panjang.

Aktivitas ku selama enam bulan itu mungkin bisa dikatakan statis namun penuh dengan warna. Malam hari, seperti biasanya aku dan teman-teman di kos selalu mengisi ember ukuran +- 10 L untuk mandi di keesokan harinya, jika kami tidak menampung air dimalam hari, maka pagi hari nya kami agak kesusahan untuk mengisi air, dikarenakan air pam dipagi hari aliran airnya sangat kecil bahkan bisa mati. Namanya juga kos, ada juga teman yang “jahil methakil” dimana mereka malas untuk mengisi ember mereka sendiri dan pagi harinya mereka bangun lebih pagi dan kemudian mengambil punya teman yang lain. Bahkan ada yang sampai dihabiskan satu ember penuh. Itulah aktivitas statis dimalam sampai pagi hari di tempat itu.

Setelah mandi serta memakai pakaian rapi, kami berdua dengan berjalan kaki berangkat menuju ke perusahaan pembuat spare part untuk otomotif terbesar di Indonesia. Melalui perumahan mewah, dimana pedangdut Mansyur S mempunyai rumah di tempat itu, kami berjalan. Kami melihat ibu-ibu yang berjualan bubur ayam yang dijajakan dengan sepeda jengki butut dan tidak lupa pula diiringi teriakan khas yang terdengar cempreng, “buurr ayaammmm, buburrr ayamm”.

Setelah keluar dari perumahan kami masih harus berjalan menuju ke jalan utama Semper-Pulo Gadung, dan masih harus melanjutkan dengan mempergunakan angkot merah. Menyusuri jalan pergangsaan 2 selama 10-15 menit untuk sampai ditempat kami magang kerja. Lagi-lagi pikiran ini beradu pendapat, “haruskah hidup di kota ini? Jalanan yang macet, sungai yang menghitam dan menimbulkan bau yang sangat menyengat luar biasa serta tingkat polusi yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya”

Di tempat itulah perusahaan itu memeras semua otak dan fisikku dengan imbalan yang sangatlah kecil untuk bisa hidup layak di Jakarta. Entahlah, namun aku menjalani itu semua hampir setengah tahun dan aku hanya berpikir bahwa itu merupakan sebuah siklus kuliah yang harus aku selesaikan.

+++

Sabtu dan minggu ku kadang aku habiskan hanya dengan duduk bengong sambil belajar bermain Gitar, dan kadang pula bercakap dengan teman yang sedang tidak bekerja sabtu ataupun minggu itu. Oia aku belum bercerita kalau kos itu merupakan kos campuran, ada cowok dan cewek serta satu keluarga dengan satu anak kecil. Aku sering kali menggali banyak hal dari mereka, kehidupan mereka serta banyak hal yang aku telusuri. Dua cewek padang yang sangat keras dan kadang pula mereka berpakaian seksi hanya dengan hot pant dan tank top yang memperlihatkan sebagian kulit putihnya, ada pula gadis asal sragen lulusan sekolah menengah pertama yang sangat cuek dan sangat bebas begaul dengan pacarnya, dan ada pula mas-mas yang religious. Semua bercampur menjadi satu kontrakan dan menggoreskan sedikit cerita dikontrakan dua puluh kamar itu. Dikarenakan dikos itu hanya aku dan temanku saja yang mengeyam bangku kuliah, maka banyak dari mereka yang sering minta pendapat tentang masalah mereka, entah pekerjaan, pacar dan berbagai mimpi mereka.

Malam minggu merupakan malam yang sangat menjengkelkan, dikarenakan banyak yang “ngamar” dengan pasangan masing2, walaupun pintu dibuka, namun tetap saja hal itu menyebalkan bagiku. Entah apa yang mereka lakukan aku tentu saja tidak mengetahui dan tidak mau tahu.

“Jakarta seperti ini ya pergaulannya?” entahlah.

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kabar, bahwa ada temen cewek kos yang hamil diluar nikah dan di usir dari tempat itu. Oia, aku juga belum bercerita tentang orang asli didaerah itu yang cenderung rese, mereka sering mengambil sandal, sabun cuci, sabun mandi serta sering berisik dimalam hari dengan bermain musik sangat keras. Aku juga mengamati ada sekelompok orang yang kerjaannya main kartu dan hanya main kartu selama enam bulan itu. Didekat kandang kambing itu mereka bermain kartu dengan dibumbui uang ribuan sebagai pelengkapnya.

Hujan deras di akhir 2003 itu sering melanda Jakarta termasuk sukapura, dan momen inilah yang sangat aku sukai, dimana semua jalan terendam dan kekumuhan itu sedikit sirna diterjang oleh air yang menggenang sekitar 20cm. Ditemani lagu dari incubus, aku menikmati banjir itu. Aku sering menyusuri daerah yang aku anggap kumuh itu, bau got pun terasa sangat menyengat disela-sela rumah yang sempit itu. Ada beberapa tempat makan ditempat itu, dan kadang pula aku melakukan kas bon ditempat makan itu, salah satunya diwarung makan milik orang semarang itu.

+++

Gambaran enam bulan hidup di Jakarta serta bekerja dalam tanda kutip disebuah pabrik produksi membuatku terus berpikir dan berpikir serta merujukkan ke sebuah kesimpulan sederhana, bahwa aku tidak mau hidup di kota ini, serta dengan lingkungan seperti ini. Sekitar bulan maret, tugas magangku selesai dan aku harus kembali lagi ke Jogja, sebuah hal yang sangat menyenangkan bagiku. Sukapura, Semper, Plungpang, Kelapa Gading, Pulo Gadung serta jalan sepanjang trayek Mayasari P8 dilanjutkan menuju ke depok itu telah memberikan gambaran Jakarta yang sangat tidak menyenangkan untukku. Itulah sekelumit kecil gambaran Jakarta dimata seorang ndeso yang menginjakkan Jakarta untuk pertama kalinya.

-Perfect stranger-


-Perfect stranger-

Bagi para jomblowan maupun jomblowati, jika bisa menemukan seorang yang terkategorikan Perfect Stranger, pada awalnya mungkin akan ada banyak sekali tanda Tanya akan orang itu. How is he/she? Wow He/ she is so … and masih banyak how akan mencuat ke permukaan. Ya, itu merupakan hal yang wajar, karena dia sangat so so..

Eh, tentu saja harus ada persyaratan khusus mengenai seseorang itu bisa dikatakan PS. Adapun syarat khusus seorang PS ialah:

–          Tidak ada satu pun keluarga kita yang kenal akan orang itu

–          Bukan teman kantor, teman sekolah, teman kuliah maupun teman main

–          Orang itu tidak teridentifikasi sama sekali oleh teman2 kita

–          Pure orang baru dalam kehidupan kita, lingkungan kita maupun keluarga kita

Ketika kita menemukan seorang PS dan kita dibuat penasaran untuk mengenalnya lebih lanjut, apakah yang akan kita lakukan?

–          Diam saja atau

–          Berusaha mendekat ?

Kalau kita diam saja dan hanya sebatas menjadi secret admire mungkin hal itu tidak akan menjadi sebuah kisah yang menarik (tentu saja bagi yang mengalami dan pernah bertemu dengan PS). Nah, cerita akan menarik ketika kita berusaha menindak lanjuti. Dengan tanpa modal informasi sama sekali, kita akan berusaha untuk mendekati orang tersebut, entah how, namun proses pencarian informasi itu akan menjadi sangat menarik untuk ditindak lanjuti. Tentu saja, kita masih melakukan sebuah perjudian untuk mendapatkan informasi semua tentang sang PS. Mungkin pada awalnya mungkin dia terlihat sebagai seorang PS, namun bisa jadi dia bukanlah seorang yang Perfect (ya, nobody perfect, but, we talk about perfect stranger :D). Mungkin dengan memanfaatkan media internet kita akan dapat mengumpulkan informasi itu, maybe? Selain itu pula, kita dapat secara langsung untuk mendekati sang PS tersebut untuk mendapatkan informasi akan dirinya. Susah memang dan tentu saja memerlukan sebuah kesabaran ekstra.

Mengejar sang PS

Dolo kala, ketika tehnologi masih sebatas sms dan telp. Satu2nya cara ialah dengan pdkt satu dengan yang lain dengan cara sms yang intens, oh tentu saja kita harus mendapatkan nomer kontaknya (ini agak susah, namun pasti akan selalu ada cara). Selanjutnya menjalani semua cerita itu, dikarenakan cerita yang akan terangkai pastilah berbeda untuk tiap pelaku dalam mengejar PS (bagi yang membaca goresan ini monggo silahkan Sharing ;D)