Dinginnya pagi menyergap minggu itu, rumput seakan tidak mau berdendang menyambut datangnya cerahnya mentari, bungapun semakin larut dalam kabut, yang masih menyelimuti indahnya pagi bersamaan datangnya sang dingin. Masih dengan berselimut tebal, aku menghabiskan minggu yang dingin itu. Seolah ku tidak mau berpisah dengan kehangatan yang membuai dan membuatku nyaman pada saat itu. Untuk beberapa saat ku masih hanyut dalam mimpiku, tanpa ada gangguan sama sekali…, sunyi dan sepi.
tuuut..tuuut…tuuut…” dering alarm telepon genggam, yang terletak diatas meja dari kayu dimana telah lapuk dimakan usia, membuyarkan kesunyian pagi dalam mimpiku.

Masih dengan keadaan setengah sadar, ku menyibakkan selimut tebalku. Dingin….,Ku bangkit dan berjalan menuju ke halaman rumah, dimana ayam telah bermain dengan riangnya. Di sebuah kursi tua yang berada diberanda teras menghadap dan menyambut sang penjaga siang, aku menyandarkan diri, masih dengan pikiran yang kosong,….hampa, dan dengan dibumbui perasaan malas.

“penyakit malas yang selalu bersamaku”

“uhhhheeeemmm….” kuhirup dinginnya udara pagi itu.
“Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa…” teriakku.

Segera ku bangkit dari lamunanku…,dinginnya pagi sudah tidak ku hiraukan lagi. Segera ku membersihkan diri, serta tak lupa pula, ku mengambil sekerat roti yang tergeletak di meja untuk menemaniku dalam perjalanan. Dengan memacu kuda besiku diatas kecepatan rata-rata, kubelah kabut pagi yang masih tampak tebal di belantara Djogja. Selang 30 menit kemudian sampailah aku ditempat itu.

Masih dengan ditemani dinginnya pagi yang kembali menyerang, ku melangkah gontai menuju ke kerumunan orang. Pandanganku menyapu dan melihat orang-orang yang berada dalam area tersebut…,
Untuk sejenak pandanganku terhenti, ketika ku melihat sosok yang memancarkan kelembutan dan kedamaian. Kulihat kilauan cahaya yang memancar dari rona wajahnya yang agak kemerahan.

“Siapakah dia?…..Apakah ini jawaban dari Mu ya Tuhanku..?” desahku dengan suara yang agak tertahan, tenggorokan ini terasa sesak seakan nafas ini tidak mau masuk untuk memberikan kesegaran dalam sel-sel darah tubuhku ini.
Kuhentakkan kakiku, kuraba detak jatungku, sekali lagi aku menarik nafas panjang. Tak terasa kaki ini telah membawaku menuju kearahnya.

“saat nya untuk mengenalnya”

“Arya….dan mbaknya sapa?” kontan derit suara ini keluar dari mulutku, tanpa ada satu kesatuan sinergi dari semua molekul tubuhku.
Sarie , sosok berjilbab dengan kacamata yang menghiasi dua buah bola mata yang sangat bening dan berkilau. Niat semula datang ketempat dikawasan jogja timur untuk mengikuti pelatihan manajemen, kontan berubah haluan mengikuti deburan arus ombak yang datang dari sosok yang membuatku menahan nafas tersebut.

Tanpa kusadari aku telah terbawa arus kehidupan yang terpancar dari rona wajah seorang gadis dengan kilau mata yang memukau. Tanpa disertai dengan pikiran yang jernih dan tanpa ditopang dengan suara hati nurani, ku mengikuti rasa ini. Ku tahu ini baru berlangsung berapa ribu detik tatapan mata, akan tetapi rasa yang berkecamuk ini menggelora dan menderu menjadi satu kekuatan yang mendorongku untuk lebih mengenal dirinya lagi…,ya mengenalnya lagi.
Waktu terus bergulir dan perjuangan ini hanya dilalui dengan indahnya bahasa SMS, tanpa emosi, tanpa ekspresi dan yang ada hanyalah kata demi kata yang terukir indah dalam monitor kecil berukuran 30 x 40 mm. Masih tetap dengan bahasa SMS, kami saling mengenal dan memahami, tanpa ada waktu untuk bersua bersama dan saling memadukan kedua mata ini berdekatan. Tak terasa pagi pun terus berganti dan sampai suatu saat, dimana petir yang tidak aku inginkan menyambar disiang hari yang begitu teriknya.

“arrrghhhh…”

“Ya Tuhan..ternyata bukan dia….tapi mengapa?”…ratapku dalam hati. Seketika itu juga seluruh sel darah dalam tubuhku terhenti untuk mengalirkan darah kehidupan, nafas ini menjadi tersengal dan ingin rasanya jiwa ini pergi dari raga yang telah ditemani selama dua dasawarsa ini.
Ketika impian ini dirasa hampir saja terengkuh, dan tergenggam dalam indahnya suatu mimpi…, akan tetapi sang waktu tidak menginginkan ini menjadi akhir penantianku dilorong waktu yang begitu gelap, pekat tanpa ada satu nyala pijar didalamnya. Ya…, hanya ada aku dan pekatnya malam, serta seribu pintu yang tertutup rapat dan memandangiku dengan angkuhnya, tanpa bersedia memberikan sedikit senyuman padaku, yang dalam hitungan detik akan roboh, teronggok tak berdaya.

“aku capek jika harus melangkah lagi”

Dalam ketidakberdayaanku, ku terombang-ambing dalam derasnya ombak kehidupan yang telah menyadarkanku dari mimpi-mimpi dan khayalan indahku. Ketika ombak itu datang menerpaku ku hanya bisa pasrah, tanpa ku bisa mencoba untuk menghindar. Karena daya, upaya, dan tenaga ini telah terkuras dan tersedot habis terbawa oleh binar indah mata bening dari gadis berjilbab.(THS)