Mungkin hal ini terdengar sangat konyol, namun itulah kenyataannya. Dengan semangat menderu aku mencoba untuk mengumpulkan kembali puzzle-puzzle ceritaku dengannya. Hanya dengan bermodalkan semangat inilah aku mencoba untuk sekedar bertanya, mencari dan mengetahui bagaimana kabar dirinya. Sosok masa lalu itu, telah meninggalkan jejak yang sangat mendalam dan berarti. Lirikan matanya telah menancap dengan erat di otakku. Hembusan nafasnya telah menghantui malam2 ku. Merdu suaranya telah mengacak acak rongga kesadaranku.

“kepingan yang tidak pernah utuh”

Agustus 2007, di rumah sakit gigi universitas ternama di kota Yogyakarta aku terakhir kali menatap wajahnya, menjabat erat tangannya. Sebuah keping puzzle yang ku kira tidak akan pernah bisa aku dapatkan lagi. Hanya sebuah sapu tangan merah jambu yang ditinggalkannya untukku.
Bermodalkan dengan sebuah kartu kecil aku mulai untuk menjelajah dunia maya, dunia dimana aku bisa mengacak acak semua egoku menjadi satu. Sudah hampir satu tahun ini aku akrab dengan semua jenis mesin pencari. Namun….ketika aku menekan tombol “Enter” itu, hanya muncul nama, NIM, dan judul skripsinya ketika dia menyelesaikan studi S1 nya. Selama hasil masih nihil, kuhanya berusaha untuk mengingat akan wajahnya, supaya dia tidak akan lapuk dimakan waktu, supaya dia tetap berada erat dalam dekapan hatiku. Semua ini hanya bermodalkan sebuah foto 3×4 yang aku sobek dari buku wisuda periode November 2005.

“silahkan buka mulutnya mas”

Win, apalah arti penantian mu selama ini? Apakah perjalanan mu dalam mencari nya akan menemui secercah titik terang?

Win, kamu tidak lelah ya, selama ini kamu mencarinya, apa sih yang masih kamu harapkan dari dirinya? Bukankan dia tidak akan bisa kamu miliki lagi?
Win, bukankah kamu juga mempunyai kehidupan sendiri, kehidupan yang harus kamu perjuangkan untuk dirimu, untuk emakmu dan untuk masa depanmu?
Win, kau telah terobsesi olehnya, bangunlah Win dari mati surimu. Bangunlah dari semua mimpi-mimpi kosongmu.
dering sms terdengar dari ponsel jadul ku:

“win, coba deh kamu liat di wall aku, Dia baru aja add gue lho…buruan kamu liat…tu yang kamu tunggu selama 2th ini telah muncul dalam dunia maya”

akhirnya aku mendengar kabar baik juga, dan semua itu atas bantuan situs jejaring social yang selama ini telah menjadi primadona di jagat planet ketiga ini. Pantas saja aku tidak bisa menemukannya, ternyata dia tidak menyantumkan nama aselinya, bodohnya lagi bukanya ini nama kesayangan yang aku berikan untuknya. Bodoh nya aku yang tidak mengetahuinya…
Selang beberapa saat setelah membuka profilnya, denyut nadi ini sontak berhenti. Aku tak bisa lagi untuk melanjutkannya, tenggorokanku tersekat, macet serta udara ini nampaknya sudah tidak sudi lagi untuk masuk kedalam aliran darahku. Dalam diam membisu kuhanya bisa menerawang kosong. Ya…itu memang dia, tapi siapa orang disebelahnya? Siapakah dia? Kenapa harus dia?
Ternyata Tuhan tidak berhenti untuk selalu mengaduk aduk rasaku, mencampurkan semua rasa ini,
menjadi satu kesatuan pahit yang harus aku terima dengan rasa kecewa.

“who is he ??…”

Aku teringat pada minggu pagi gerimis itu, kupernah mengutarakan kepadanya, jikalau besok kita tidak berjodoh, di hari pernikahanmu aku pasti akan menangis menderu dan mengadu. Entah apakah arti tangis tersebut?

Tidak terasa pula lelehan bulir-bulir panas ini mengalir deras dari pelopak mataku.
Dijulurkannya sebuah sapu tangan kearahku, ku hanya bisa terdiam dan sengaja untuk diam. Dimana sejurus kemudian disekanya air mata yang mengalir deras membasahi pipiku dengan lembutnya.

“Bulir panas ini terus mengalir..”

Kenapa kamu tidak memberitahu diriku? Apakah semua janji di gerimis itu tiada artinya bagimu? Apakah senyumanmu di pagi itu hanyalah bahasa bibirmu saja?
Ohhh…kau emang tidak pernah berubah May…
Sampai kapan engkau akan begitu padaku?
Apakah sampai detik ini, dimana aku akan selalu menunggu dan selalu mencarimu.

“apakah Kau telah mengunci rapat hatimu May..?”

Dalam penantianku pun, kau tetap tidak mau menemuiku. Pun ketika pintu ini hampir terbuka, namun engkau masih tetap berada di dalam ruang persembunyianmu…(ths)