Ketika tangan ini telah membeku, oleh dinginnya rasa yang telah membelenggu raga.

Ketika lidah ini telah kelu, untuk sekedar mengungkapkan bunga cinta.

Ketika langkah kaki ini tidak mau melangkah menuju ke diorama hati seorang wanita.

Hampir selama 5tahun lebih, aku selalu terkungkung oleh matinya jiwaku ini. Semua bunga yang lewat, hanyalah lewat tanpa berusaha untuk singgah. Mungkin hal ini dikarenakan oleh rapuhnya aku, takutnya aku, kerdilnya aku, serta bodohnya aku. Ku hampir dipastikan tidak akan mampu mengutarakan rasa dan gejolak ini. Kadang ketika gejolak rasa ini menggigit kalbu, ingin rasanya aku berteriak, ingin aku menjerit, serta ingin aku meluapkan semua hal gila ini. Namun sekali lagi aku terbentur oleh ketidak berdayaanku dalam menghadapi wanita.

“belenggu ini sungguh menggigit ku”

Di hari senin itu, aku telah disibukkan dengan rutinitas harianku, sebagai seorang pembuat kopi di sebuah kafe yang terletak di jalan jendral sudirman, jakarta pusat. Tangan kecilku ini telah bergulat dengan kopi dan mesin pembuat minuman kopi sudah semenjak 10 tahun yang lalu, tahun dimana aku baru mulai menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di ibukota jakarta. Ibukota yang mengajariku untuk lebih mengenal arti akan hidup dan kehidupan. Jam telah menunjukkan pukul 10.00 WIB, ini tandanya aku dan rekan pelayan lain harus membuka gerai Kafe Manga, kafe yang mayoritas sahamnya dikuasai oleh orang mandarin. Meskipun seorang minoritas, namun bos ku ini orangnya sangat baik dan bahkan cenderung loyal kepada karyawan. Sering kali jika pemasukan melebihi target bulanan, dia mengajak kami berlima selaku karyawannya untuk makan di resto2 yang berada di seputaran senayan. Sudah lama juga aku bergelut dengan dunia perkopian ini. semua campuran, takaran, dan metode pembuatan kopi pun aku sudah hafal. Rata2 para pelanggan sangat puas dengan kopi buatan tanganku.

“ramuan kopi ini telah mewarnai hari2 ku”

“pesan apa mbak Vanda”..kataku kepada pelanggan setia cafe ini.

“kopi luwak dengan campuran krimer+susu+sedikit jahe, seperti biasa saja mas”

Vanda, ialah gadis berusia 25tahun, mempunyai tinggi kurang lebih 165cm dengan berat badan 55kg. Sosok gadis berwajah oval dan berkulit putih bersih itu sangat menyenangkan. Dengan perpaduan jilbab dan baju yang selalu nampak cantik membalut tubuhnya. Vanda menjadi pelanggan setia Kafé Manga ini semenjak beberapa waktu yang lalu. Setelah menyelesaikan masa studinya di universitas negeri yang terletak di surabaya, gadis ini diterima bekerja di BUMN di kawasan sudirman. Dari puluhan pengunjung cafe ini, hanya Vanda lah yang menarik perhatianku. Selain dikarenakan anaknya yang sangat ceriwis,dia sangatlah cantik menurutku.

Detik pun selalu datang menghampiri, menit tidak ketinggalan untuk menemani dan tidak kusangka pertemuanku dengan Vanda sudah hampir 6 bulan lamanya.Gelas demi gelas kopi luwak ini, telah aku buatkan spesial buat Vanda. Kopi dengan hati, kopi dengan rasa, dan kopi dengan sedikit harap yang ingin kusampaikan kepadanya.

heeyyy…mas bambang ko ngalamun sih..lagi mikir opo to mas?..,lagi mikir cewek e yo?” sapa Vanda dengan logat jawanya yang medhok dan dengan diiringi ketawanya yang menggema, membuat hatiku semakin pilu untuk mengakui bahwa, Vanda semakin mengoyak dan meluluh lantakkan hatiku.

“eee…mba Van..bikin kaget aja?…wah aku ga nduwe cewek mba, durung payu.” kalimat ini meluncur tanpa adanya rem yang mencoba untuk menghadangnya.

Getir memang, ketika aku yang hanya lulusan SMA ini, pekerja kasar, dan harus berhadapan dengan kenyataan bahwa aku mulai menaruh hati kepadanya. Senyumnya, tawanya, hal konyol yang dilakukannya selalu mewarnai mimpi-mimpi konyolku. Namun……

“mimli-mimpi ini mengiang dalam kepalaku”

Sudah 2 minggu ini, Vanda tidak terlihat mampir untuk minum kopi. Entah apa yang terjadi, hati ini menjadi galau, hati ini menjadi kacau. Hampir tiap hari ku selalu menanti, menanti dan hanya menanti untuk dapat melihat binar indah wajahnya. Bulan pun telah berganti, hampir lebih dari 10juta detik putaran nafas aku tidak melihatnya serta mendengarnya.
“Apa yang terjadi dengan Vanda ku?”…
hahahaha..bambang, bambang, sejak kapan engkau dengan pede-nya mengakui dia milikmu?
Apakah engkau tidak melihat dirimu?siapakah kamu?kamu itu hanyalah lulusan SMA, kamu tidak layak bersandar di pelaminan dengan Vanda yang lulusan sebuah universitas terkenal di surabaya dan lagi, dia ialah seorang staff BUMN..

kamu???apalah kamu itu???
kamu hanyalah pembuat kopi…!!!!
ya aku ulangi lagi..kamu hanyalah pembuat kopi…

“kini hanya tergolek tak berdaya”

Ketika sebuah surat ini telah aku selesaikan selama hampir 1 minggu lamanya, Vanda tidak pernah lagi ada, tidak pernah lagi terdengar kabarnya.(ths)