Sungguh suatu hal yang sangat membahagiakan bagi orang tua, yang telah dikaruniai seorang keturunan. Di karenakan dengan adanya keturunan akan menyambung trah keluarga tersebut. Namun apakah kita lebih menyadari, bahwa pola didik kita juga akan berpengaruh dengan kepribadian putra-putri kita?

Dimana lingkungan keluarga merupakan “pewarna” kehidupan pertama kali untuk sang buah hati. Tentu nya kita ingin anak kita menjadi seorang yang dapat dibanggakan, banyak pergaulan, banyak teman dan tidak minder (ekstrovert). Tidak menjadi seorang yang introvert, dimana dia akan selalu terkungkung dalam pikirannya sendiri, pendiam dan cenderung untuk selalu menyimpan masalahnya sendiri.
Adapun konsep tentang introvert ini dikemukakan pertama kali oleh Carl Jung, seorang psikolog ahli semenjak tahun 1920. Dimana orang introvert itu tidaklah sangat pemalu serta tidak anti untuk bergaul dengan orang lain, hanya saja kadar nya tidak seperti orang yang ekstrovert, dimana orang ekstrovert pasti akan ada saja yang diobrolkan, dan suasana akan cenderung sangat ramai, berkebalikan dengan introvert ini.

Dalam perkembangan di dunia sikologi, Joseph Luft dan Harrison ingham pada tahun 50an mengembangkan suatu model analisa kepribadian yang bernama “Johari Window”, metode ini dipergunakan untuk memahami perilaku, perasaan dan kepribadian kita.

Dalam Johari Window ini, dibagi menjadi empat kuadrant, yaitu : open, blind, hidden dan unknown.

Open / terbuka : kita sebagai seorang sosok dengan kepribadian yang bisa terbuka untuk semua hal kepada orang laen, dengan terbuka masalah yang ada pada kita akan berkurang separuhnya ketika kita bisa membagi masalah tersebut. Dan di kuadrant ini baik pelaku maupun orang laen menyadari perilaku ini

Blind / buta : pada kuadrant ini orang laen menyadari akan perilaku, perasaan kita, namun kita sendiri tidak menyadarinya. Atau dengan lebih mudah dapat dikatakan sebagai orang yang over confidence alias sok tahu sedikit.

Hidden / tersembunyi : perilaku ataupun perasaan yang selalu disembunyikan seorang pelaku, tanpa disadari oleh orang laen, dengan kata laen ingin selalu memberikan kejutan-kejutan terhadap lingkungannya.

Unknown/ tak diketahui : baik orang lain maupun pribadi kita tidak menyadari akan perasaan, perilaku yang sedang terjadi dalam hidup kita.

Dan sudah jelas terlihat bahwa orang introvert akan cenderung ke kuadrant unknown. Dan hal ini saya amati bahwa lingkungan keluarga berpengaruh besar terhadap terbentuknya suatu kepribadian, setidaknya akan jadi seperti apa anak tersebut setelah beranjak dewasa, mungkin dapat kita amati dari saat ini.

Oke, kita bisa memulai mengamati dari lingkungan pertama kita tinggal dalam hal ini ialah keluarga, keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, kakak maupun adik. Seseorang yang lahir dalam keluarga yang harmonis akan berbeda dengan dari keluarga broken. Dikarenakan peran orang tua ini sangat sentral dalam perkembangan seorang anak. Langsung saja kita pilah, latar belakang seorang anak menjadi introvert.

1. Peran orang tua
Orang tua yang baik ialah orang tua yang selalu bisa menjadi teman, sahabat, orang tua, pendengar yang baik. Jadi disini kita sebagai orang tua bisa memainkan banyak peran, sehingga anak akan menjadi nyaman dengan orang tuanya. Sebagai contoh kalau anak sedari kecil sudah terbiasa untuk menceritakan semua kegiatan yang dialaminya, baik itu disekolah, waktu bermain, hampir dapat dipastikan anak tersebut sampai dewasa akan menjadi anak yang bisa terbuka (open). Hal yang sederhana ini yang dapat dilakukan dengan mengadakan makan malam secara bersama2, dilanjutkan cerita2 tentang kegiatan hari itu. Jika hal sederhana ini dilakukan terus menerus, tidak hanya anak yang mendapatkan suasana keluarga yang nyaman, namun keharmonisan Rumah Tangga juga akan terjaga. Selain melakukan kegiatan diatas, dapat juga kita pergi rekreasi keluar bersama keluarga.

Dan disini saya juga menekankan, bahwa kita sebagai orang tua janganlah memaksakan kehendak kepada anak kita, jika kita paksakan kehendak, maka takutnya hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang diinginkan anak kita. Hal lain yang dapat kita uraikan dari paragraph diatas ialah, membiasakan komunikasi pada anak kita, dengan terbiasa bercerita mulai dari kecil, anak tersebut secara tidak langsung telah dilatih untuk menceritakan hal apa yang dialaminya, apa yang diingininya dan lainnya.
Kita boleh menjadi orang tua yang tegas, namun ketika kita memainkan peran sebagai seorang orang tua yang akan mendidik anaknya, akan melindungi anaknya, mengatakan hal yang benar dan lainnya.
Oia, ini mungkin terdengar sepele, ketika ada temen anak kita maen kerumah, usahakan sebagai orang tua kita menyambut teman anak kita selayaknya anak kita sendiri, dengan demikian anak tesebut bisa nyaman bermain, dan itu akan berpengaruh terhadap anak kita secara tidak langsung.
Jika tidak, mungkin anak kita akan berpikiran, wah gimana sih bapak ibu itu, ketika aku maen ketempat si A, aku bisa nyaman banget disana, sedangkan ketika A maen kerumah ko suasananya terkesal protokoler ;(

2. Lingkungan
Dengan bekal dari keluarga yang cukup, saya rasa akan akan dapat beradaptasi dengan baek dilingkungan. Kenapa saya bisa menyimpulkan hal ini? Komunikasi. Ya, anak pasti akan selalu mengkomunikasikan semua yang dialaminya kepada orang tuanya. Dan kembali lagi orang tua harus selalu mengawasi anak tercinta kita.

3. Pergaulan
Jika sedari kecil anak telah ditanamkan norma dan diajarkan tentang bagaimana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dikerjakan, mungkin dia dalam pergaulannya akan mempunyai rem pegaulan. Dan dalam fase pergaulan ini semua nya bisa terjadi, yang putih bisa menjadi abu2, atau bahkan menjadi hitam. Dan kembali lagi kita sebagai orang tua, selalu memberikan nasehatnya untuk putra-putri tercinta.

Jika sedari kecil kurang adanya komunikasi yang cair dalam keluarga kemungkinan akan banyak terjadi beda persepsi. Dan akan lebih berbahaya, jika orang tua sampai bertengkar didepan anak2, serta jangan sampai pula ada piring terbang dan sejenisnya.
Lha payah, kalau dalam lingkungan keluarga saja keadaan seperti ini, mungkin anak akan muak dengan semua kejenuhan di rumahnya. Rumahku bukan lagi istanaku, namun nerakaku.
Dengan semua kejadian tersebut biasanya anak akan lari dan mencari pelampiasan diluar, entah itu baik atau buruk tergantung kepribadian yang terbentuk selama ini.

Dan itu akan membuat anak berisiko :
a. Menjadi tertutup
b. Emosi tidak stabil
c. Suka memendam masalah (berkaca dari ortu yg sering bertengkar)
d. Mempunyai teman imajiner dalam dirinya sendiri (schizofrenia atau kepribadian ganda), contohnya seperti di 24 wajah billy.

Namun saya belum bisa membaca dari bahasa tubuh seseorang yang tergolong introvert berat. Namun bisa kita lihat, apakah anak itu pendiam atau tidak (tidak bisa digebyah uyah tapi). Jika kadar ini sudah termasuk stadium kronis akut, maka akan ditakutkan bahwa anak akan bisa menjadi depresi. Dikarenakan senang menyimpan masalah tanpa bisa mengkomunikasikan dengan orang laen, termasuk orang tuanya. Seperti disebutkan diatas, bahwa emosi bisa menjadi tidak stabil. Analoginya begini : anak introvert cenderung untuk menyimpan semua masalahnya sendiri, pun ketika sebel ma seseorang, nah ketika suatu saat, emosi itu sudah memuncak, dan ada peristiwa apapun yang bisa memicu (trigger), maka akan meledaklah semua emosi terpendamnya. Orang seperti ini sangatlah berbahaya, soalnya bisa saja dia kalap dan melakukan apa yang tidak dipikirkannya.(THS)