Lia, begitulah gadis itu biasa dipanggil. Dengan perawakan kecil dan
mempunyai rambut lurus sebahu. Lia merupakan gadis yang sangat lincah,
cerdas dan tidak suka ketika dia menemukan hal yang tidak sesuai dengan
nuraninya. Dibesarkan dari keluarga yang terdidik dan mempunyai latar
belakang disiplin yang luar biasa sehingga membuat gadis ini mekar dengan nyaris sempurna. Namun dia tetaplah seorang wanita yang mempunyai rasa, mempunyai kecewa dan pasti akan meneteskan air mata begitu lelah yang datang menghampiri tidak lagi mampu dia tanggung sendiri.

+++
Sudah hampir 5 tahun dia menjalin hubungan dengan seorang cowok lulusan teknik sipil universitas di jogjakarta. Hubungan yang mereka jalin ini sudah mereka bina semenjak mereka bertemu untuk pertama kali pada waktu di adakan inisiasi kampus. Dan dari pandangan pertama itulah keduanya saling menaruh hati. Sekedar bersapa, berbicara, bercanda dan di akhiri dengan gelak tawa yang menggelegar. Gayung pun bersambut ketika pada suatu sore Awan, begitulah nama anak lelaki itu dipanggil, mengutarakan niatnya untuk menjalin hubungan dengan Lia.

uhmmm…kamu tahu ga Lia? Kata Awan dengan sedikit tersipu

Akhirnya perbicaraan tanpa ada arah antara kedua insan manusia itu
terpecahkan. Hampir 4 jam mereka saling menutupi rasa yang hinggap di kedua lubuk hati mereka. Tepat pukul 12.15 hari selasa, Awan dan Lia resmi untuk mencoba menjajaki masing-masing. Suasana Kantor Pusat Tata Usaha dibumi teknik itu mendadak menjadi milik mereka berdua. Ributnya mahasiswa yang berdiskusi, hilir mudik karyawan dan celoteh yang diiringi tawa riuh para penghuni KPTU tidak lagi mereka hiraukan. Kedua anak manusia itu telah dibuai oleh indahnya asmara.

+++
Semester pun terlewati, tahun pun berganti, semua menjadi saksi akan
indahnya hubungan mereka, akan hubungan yang nyaris tanpa adanya cacat yang menggores tajam. Pun ketika mereka harus terpisah oleh kegiatan Kuliah Kerja Nyata, dimana Awan dtempatkan di daerah bencana tsunami aceh, sedangkan Lia KKN terpadu di daerah Gunung Kidul. Dilema jarak yang membentang selama hampir 3 bulan ini dapat terlampaui dengan indahnya.
Walaupun batu kerikil sering menghadang keduanya. Namun keduanya tetap kukuh untuk tetap menjaga komitmen di KPTU itu, dan Motor biru itu telah menjadi saksi perjuangan keduanya dalam menghadapi akan adanya badai dan gelombang yang selalu menghantam keduanya.

+++
“Mas, tau g?..tadi temen 1 unit ad yg blg suka ma aq..aq blg aq g bisa.”

Derit sms pun diterima Awan dinegeri serambi mekah..
Hampir tiap denyutan nadi ada saja yang mengatakan suka sama Lia. Entah itu teman kuliah, teman sma maupun teman KKN.
Kadang aku merasa tidak kuat dengan semua gangguan ini. Entahlah dengan Lia, aku sendiri tidak mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Sebagai manusia tentulah wajar jika rasa cemburu ini menggolak dan menderit dalam batinku.
Itulah Natalia Kusuma Dewi, nama lengkap gadis yang telah bersamaku selama ini. Seorang calon dokter gigi satu universitas denganku, seorang gadis yang berjuang jauh dari tanah kelahirannya di Nusa Tenggara Timur. Berjuang untuk orang tuanya, berjuang untuk dirinya dan masa depannya.

++++
Memasuki semester akhir, kami berdua telah disibukkan dengan kegitan
skripsi kami. Walaupun kesibukan ini luar biasa padat, namun kami selalu
berusaha untuk mempunyai waktu berdua, sekedar untuk melepaskan penat yang menggantung di leher, dan terbawa dalam buai mimpi.
Rencana kami ialah lulus dari “penjara” itu secara bersama, melenggan
bersama di aula graha saba dengan predikat sebagai mahasiswa tepat waktu.
Dan mimpi itu ternyata tidak jauh panggang dari api, walaupun Lia harus
menunggu 2 bulan setelah dia menyelesaikan sidangnya. Maklumlah kalau
mahasiswi kedokteran harus revisi sini revisi sana dengan dokter yang
lumayan luar biasa ribetnya.

+++
“dek.,mas diterima S2 di swedia.” Sepenggal sms itu meluncur deras ke
memory hape Lia..

Ini berarti kami harus berpisah ribuan mill jauhnya. Apakah kami sanggup.
Kenapa hal ini harus menimpaku. Dimana setelah selesai wisuda, bapak
mengharuskan aku untuk segera menikah dan memberikan mereka cucu.

“mas..semua tergantung mas, semua keputusan itu tergantung mas. Lia tidak akan menghalangi mas Awan untuk terbang tinggi meraih mimpi, cita dan asa.
Namun ada hal yang begitu rumit membelenggu jalan kita mas., namun sekali
lagi Lia tegaskan Lia tidak akan menjadi batu sandungan untuk mimpi mas
Awan”

Semua getir ini menjadi satu, melebur menjadi suatu campuran rasa yang
mengiris hati, menggores dengan sembilu tajam. 5 tahun kami berusaha untuk mencapai tujuan, 5 tahun kami bermimpi, 5 tahun kami merajut harap…namun…
Lia tidak akan merusak mimpi mas Awan meraih gelar sampai tinggi, karena itulah mimpimu, namun…ketika palu orang tua yang bergitu mendadak ini diketuk..luluh lebur hatiku..hancur menjadi sepihan debu yang tiada guna…

Lia tidak berguna mas…
Dalam diam membisu, rambut tergerai dan terjuntai oleh angin sepoi2 menerpa di pesisir pantai di NTT….(ths)