“Lumayanlah untuk hari ini Bud, semua manisan sudah hampir habis terjual..”
“ emak pasti seneng dengan kita..pastilah kita nanti makan enak Bud…”
“..uda seminggu ini aku membayangkan kita makan dengan tempe goreng bu Atmo itu..”
“gimana ya rasa tempe goreng itu,,,hmmmm..harumnya selalu menusuk hidung, mengkoyak perut..”

Kaki kecil itu mulai melangkah dengan gontainya di antara padatnya jalanan dipancoran di sore itu. Terlihat kaki kurus, menghitam, dan terkelupas oleh panasnya udara Jakarta, namun si kecil Budi tetap saja melangkah dengan cerianya. Baju lusuh, dengan sebuah sobekan menganga dipunggungnya selalu menemaninya.
Metro mini dengan sombong mengeluarkan semua karbondioksidanya, hitam menggumpal. Ditambah lagi ruwet dan egoisnya kendaraan bermotor roda dua. Dijakarta yang termasuk kota dengan segala kekonyolannya, si roda besi inilah yang senantiasa menguasai jalanan, entah itu jembatan penyeberangan, trotoar atau tempat apapun bisa dilalui si pengemudi motor gila ini.

“…..woeyyyyy…bocah sial..bosan idup ya…!!!” teriak seorang tua Bangka kearah si kecil budi.

Hampir saja anak itu tersambar si tua Bangka tidak tahu diri tersebut..terihat dari kejauhan anak itu meringis kesakitan,walo sempat menghindar, rupanya motor tadi sempat juga mengenai dagunya.
Darah segar berwarna merah mengucur dengan deras dari dagunya., namun tetap saja anak itu diam tanpa suara tangisan. Manisan mangga yang tersisa 5bungkus pun tercecer entah kemana. Masih dalam diam anak itu perlahan beringsut menepi. Diambilnya sebuah Koran bekas, untuk menyeka lukanya. Luka itu semakin melebar dan menganga. Membuka dengan egoisnya.
Rintik hujan yang tidak diramalkan sebelumnya, sontak turun membasahi bumi Jakarta dengan derasnya. Hanya dengan seperseribu detik kota Jakarta telah larut oleh hujan lebat disore itu.

Terlihat seringai dari wajah Budi…,”argggggg…
“Wah pulang apa tidak ya?mana ujan deras lagi….”tapi bagaimana menjelasin manisan yang hilang tadi ke emak?”…
“Tapi…kurasa emak tidak akan marah dengan hasil yang aku peroleh hari ini..”

Dengan wajah meringis dan tubuh yang basah kuyup, akhirnya diputuskannya untuk pulang ketempat emak. Banjir yang menggenangi pancoran tidak dirasakannya. Dirinya hanya ingin segera pulang dan makan tempe goreng yang telah diangankannya selama seminggu ini.
Melewati lorong-lorong kecil menuju tempat persinggahannya. Lorong jalan yang menampakkan ketidak bersahabatannya untuk anak kecil seperti Budi. Nampak sekerumunan anak telah memadati sebuah rumah kecil di pinggiran pancoran, rumah berukuran 5×6 itu telah ramai dengan 5 orang anak yang telah berkumpul. Diantaranya ada sosok dewasa di hadapan mereka.

“….wah wah wah,…juragan budi sudah pulang ya…?”
Budi pun hanya menunduk lesu, diam dan terpaku.
“ngapain kamu seharian baru pulang?” tu temen Lu aja udah pulang dari tadi sebelum hujan..” bentak perempuan setengah tua itu.
Keenam anak lainnya yang rata2 berumur 7th itu pun hanya diam dan saling memandang satu dengan lain.

..”kamu si bud datengya telat…”
“diiaammmmmmmm…semua masuk dalam kamar dan jangan ada yang keluar dari ruangan sebelum emak perintahkan, kecuali kamu bud..Lu tetap disini…”

Sejurus kemudian keadaan tempat itu semakin mencekam, ditambah lagi dentuman petir yang menyalak menambah kengerian tempat itu.

“ Kamu tahu salahmu…..”

Belum sempat anak itu menjawab, sebuah tamparan keras mengenai dagu budi, keluarlah darah segar dari luka yang belum sempat mengering dengan sempurna. Lantai kayu itu penuh dengan percikan darah dari seorang anak kecil yang tidak tahu akan indahnya masa kecil

+++

Adek kecil, kakak beli manisan mangga nya ya..berapa ini harganya?..sosok wanita itu memberinya uang 10ribu rupiah..

“udah gakpapa sisanya buat beli permen ya”..wanita muda itu pun berlalu menjauhi budi.
“…mbak…mbak…” teriak budi kearah wanita muda tadi..
Dengan tergopoh2 akhirnya tersusul juga wanita muda tadi..
“..ini kembaliannya mba. manisannya Cuma 1ribu rupiah ko…” seketika uang telah berpindah tangan si budi pun kembali mengeloyor pergi.

+++

“Sakit mak….sakit…sakit…”
Tanpa mendengarkan rintihannya, berkali-kali rotan itu menghantam tubuh dekil budi..selama 1jam hal tersebut dilakukan wanita itu. Setelah puas akan ritual tersebut diambillah hasil penjualan manisan mangga tadi..
Keenam anak tadi diwajibkan untuk berjualan dan harus memberikan setoran kepada orang itu, orang yang mereka anggap sebagai emaknya, orang yang memberikan tempat bernaung yang bernama gudang, orang yang katanya akan selalu melindungi mereka..
Budi si bocah kecil dari tepian pancoran, yang akan selalu berjuang untuk sekerat nasi, bocah yang akan selalu berjuang melewati masa kecilnya tanpa ada yang dinamakan kesenangan, kegembiraan dan indahnya masa2 kecil seorang anak. Masa kecil yang telah terenggut oleh sebuah kemunafikan, sebuah kenistaan akan indahnya dunia yang fana ini. Semoga tangan-tangan kecil tersebut akan berkembang dan tumbuh menjadi sebuah tangan yang kuat, tangan yang akan membuatnya menjadi naungan tangan-tangan kecil laennya…tak terasa mata ini telah basah, hati ini sesak, pikiran ini tersumbat oleh adanya tangan-tangan kecil di tugu pancoran….(ths)