Waktu telah menunjukkan pukul 22:00 WIB, suasana parkiran di depan taman makam pahlawan kalibata semakin ramai. Silih berganti orang datang dan pergi, dan semakin larut malam, suasana semakin ramai dan semarak. Kepulan asap tembakau pun semakin menggumpal membentuk suatu aliran dinamis mewarnai malam cerah itu. Kuda besi ini segera aku parkirkan berdekatan dengan warung angkringan langgananku.

“pakdhe, teh jos nya satu ya?..jangan lupa dengan gula batu lho..”

Teh panas pun segera diseduh dengan gula batu sebesar kepalan tangan anak kecil, serta tidak lupa bara arang itu pun dicelupkan ke dalam seduhan teh yang dibawa langsung dari Wonosobo. Kepulan asap efek dari bara arang itu masih mengepul. Satu dua tegukan teh panas itu memasuki ruang dalam kerongkonganku. Segera ku mengambil beberapa potong ketela goreng, bakwan dan mendoan. Selanjutnya aku mengambil duduk di tempat yang agak remang.

“misi ya bang..ane duduk sebelahnya..” seloroh orang setengah baya dengan mengenakan jaket kulit berwarna coklat yang sudah memudar dimakan jaman.

Ku hanya mengangguk kecil, tanpa berusaha untuk sekedar menatap mata maupun untuk mengajaknya bicara. Namun, tanpa aku komandoi orang itu mulai bercerita tentang harinya, tentang kerjanya dan semua hal yang aku sendiri tidak ingin mendengar lagi. Aku sudah muak dengan hariku dan aku tidak mau menjadi lebih jengkel ketika aku harus memulai membuka pembicaraan dengan orang itu.

“gini ya bang, tahu tidak hari ini ane baru saja naik gaji lho.makanya ane terus makan di angkringan ini.,berarti ini hari keberuntungan abang bisa bertemu dengan ane, soalnya nanti ane yang mbayarin pesanannya abang ..hehehehe” sambil tertawa terkekeh orang tua itu trus bercerita tentang kebahagiaannya hari ini.

“wahhh..wah wah..abang in termasuk orang yang pendiam ya.. ko dari tadi hanya senyum dan mengangguk kecil saja…”

Orang itu itu pun terus berusaha untuk membuka mulutku, membuka kebisuanku dan mencongkel keheningan sanubariku yang telah membeku oleh rapuhnya situasi hari jumat kelabu nan membelenggu. Teh panas itu segera masuk untuk ketiga kalinya dalam mulutku, memecah keheningan ruang jantungku, urat nadiku serta urat sarafku yang telah kosong.

Kutarik nafas dalam-dalam, sembari membetulkan posisi dudukku..

“emang gaji bapak berapa?”..tanyaku membuka percakapan

“wah ternyata suara abang merdu juga ya..hehehehe..bercanda ane bang..ummmm….sebagai petugas kebersihan di stasiun kota, lumayanlah bang, sekitar 500rebuan, dimana sebelumnya, sebulan ane mendapatkan 450 rebu bang..” kata orang tua itu dengan logat Jakarta yang amburadul.

“Setiap pagi ane berangkat dari rumah ane yang ada di bojong gedhe bang, naek KRL, turun di stasiun kota, dan kemudian langsung membersihkan semua fasilitas yang ada, mulai dari lorong-lorong stasiun, kamar mandi, kantor dan semua ruangan di stasiun itu…”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul saja mendengarkan penjelasannya..

“hampir setiap hari bang, ane melakukan itu semua, kadang minggu juga disuruh masuk, namun gantian ma temen ane..dan hampir 15 jam ane tidak berada di rumah..”

“ya bagaimana mau dikata lagi bang, ane saja tidak tamat SD, dan harus membiayai anak-anak, untuk makan dan supaya pendidikan mereka lebih layak dari babenya..”

Nafas ini mendadak sesak, tenggorokan ini serasa tercekat dan semua nya  menjadi hampa..ketika aku berusaha untuk menerawang kembali kejadian pagi ini. Kejadian yang teramat sangat mengguncang akal sehatku.

“God dammit..!!!…tak cukupkah semua pengorbananku selama ini,apakah aku memang pantas dinilai dengan koin ratusan…amarah ini hampir saja meledak, menggelegar di suasana Jakarta yang diliputi dengan hujan petir…shhhhhh!!!!”

“wah bapak bisa hidup ya dengan uang segitu dijakarta?” tanyaku dengan muka serius dan penuh selidik untuk mengungkap kebenaran dari ceritanya..

Semua cerita itu terus mengalir, semakin malam dan semakin larut cerita hidup dan kehidupan orang tua itu membuatku terpukul, membuatku tersentak hebat. Bergitu hebatnya perjuangan seorang kepala keluarga dengan penghasilan jauh dari upah UMR untuk provinsi daerah khusus ibukota. Namun, ya sekali lagi namun dia bisa menikmati hidup, menghargai hidup dan membuat hidupnya lebih berharga dan berarti. Sebuah kisah kecil, obrolan kecil dan membuatku berpikir serta merenung.

Hampir jam 2 malam, berarti sudah 4 jam aku duduk di tikar plastik yang digelar di area parkir TMP kalibata. Dimana orang tua tadi sudah beranjak pulang, 3 jam yang lalu, rencananya akan menginap di rumah saudaranya yang berada di pancoran barat, belakang pom bensin pancoran. Dan seperti janjinya semua pesananku telah dia bayari.

Sudah 3 gelas besar teh joss kuhabiskan, dingin pun tidak aku rasakan lagi, hanya ada sayup-sayup cerita orang tua tadi terdengar menusuk keegoisanku dan menghancurkan idealisme ku.

Dan mulai detik ke 60 selepas pukul 3 pagi aku bertekad untuk lebih mengasah kapabilitasku, menjadi seorang yang mempunyai harga, tidak hanya kepingan logam ratusan  yang akan masuk dalam kesinisanku, namun akan lebih besar dan lebih berarti, dan karena dengan itu semua aku akan menjadi lebih berarti…

“pak jon, tenang saja, suatu saat aku akan gantian mentraktir dirimu beserta keluarga ditempat yang lebih tak bisa engkau bayangkan…”

Tepat terdengar suara adzan subuh, kubergegas untuk pulang, dan mulai merangkai asa, harapan dan impian. Dan aku tidak akan hidup dalam hitungan sen lagi…(ths)