“Secangkir teh panas, tempe mendoan dan sebuah deposito senilai 10M
tersimpan manis di bank pemerintah”

Kalimat diatas saya petik dari guyonan teman sekantor saya. Mungkin
terdengar seperti khayalan yang terlalu mengada-ada, namun hal tersebut
pastilah kita inginkan dan dambakan. Dalam artian, kita tidak akan lagi
dikejar masalah perhitungan, masalah Man Hour, sampai di uber-uber, kenapa proyeknya molor dan mundur dari master schedule yang telah direncanakan sebelumnya. Tentulah orang yang mempunyai kegiatan santai, dimana semua hari baginya ialah hari libur, bukanlah seorang yang masih berkutat dalam kuadran karyawan/ buruh. Dan dilihat dari segi penghasilan pun tentulah berbeda, dimana karyawan akan cenderung mempunyai gaji agak stagnan, dikarenakan kenaikan yang relatif kecil tiap tahunnya, serta cenderung menyesuaikan dengan angka inflasi. Hal demikian ini berbeda dengan seorang pengusaha ataupun seorang juragan, dimana pendapatan yang dihasilkan relatif cenderung tidak stabil, kadang bisa dapat 50juta, kadang malah 100 juta ataupun turun drastis hanya mendapatkan 4 juta per hari (pengusaha dawet selasih di pasar gede solo).
Well, itu semua terjadi jika kita telah sukses dalam merintis usaha.
Pastilah kita semua ingin sekali pindah kuadran, dari karyawan menjadi
juragan, dari engineer menjadi pemilik modal. Apakah anda juga mengangankan dan menginginkan hal yang sama dengan saya?

Mari kita coba untuk menelisik lebih lanjut, kita pahami lebih dalam
dan kita nilai lebih jauh, mengenai kesiapan diri kita untuk pindah
kuadran. Disini saya akan melihat dari sudut pandang engineer yang paling
junior (rantai makanan terendah), yang mempunyai mimpi segera mungkin mencapai tahap financial freedom. Dimana mimpi untuk bebas finansial pastilah selalu kita dambakan, pun dengan Mas Comet (kroco mumet)ini.
Begitu lulus dari universitas di negeri impian, seperti kebanyakan fresh
graduate, pastilah akan mengapply banyak surat lamaran kerja, PT. A, PT. B, PT. C dan masih banyak perusahaan yang lain tidak luput dari serangan
sporadis CV Mas Comet tadi. Sebagai seorang insinyur, tak berapa lama pun Mas Comet diterima di perusahaan raksasa yang bergerak di bidang
konstruksi, dan posisi Jr Eng pun disematkan kepadanya. Rutinitas kerja
yang membutuhkan pemikiran, membutuhkan waktu dan membutuhkan energi yang super selalu menghiasi hari-harinya. Setelah hampir 6 bulan dia bekerja sebagai seorang Jr Eng. Mas Comet pun mulai berpikir, berpikir keluar dari idealisme nya.

“wah kalau begini terus menerus, aku tentu tidak akan bebas secara
finansial dan aku pasti akan tergantung dengan perusahaan tempat ku
bekerja”

Angan-angan pun mulai menggelembung mengganggu pikirannya, menggerogoti idealisme nya, serta menghancurkan pola pikir konyolnya.

Dari sekelumit narasi diatas, apakah dia harus segera pindah haluan, dengan kata lain,apakah dia harus segera memulai untuk berinvestasi?
Kalo menurut saya, belum saatnya lah dia berpindah haluan. Lho
kenapa? Saya melihat, untuk amannya jangan tergesa-gesa dahulu, soalnya dia baru saja memulai untuk menapakkan kakinya. Jadi secara keuangan dia belumlah cukup kuat. Dengan logika sederhana ini, kita dapat menarik benang merah. Jika keuangannya belum kuat selanjutnya dia mulai merintis usaha, dimana sebagai seorang pemula, tentulah dia belum mahir akan trik-trik mengelola suatu bisnis. Dengan berandai-andai, misalnya bisnisnya berjalan sesuai jalur, hal itu tentu akan pasti menggembirakan. Namun, jika gagal pastilah akan mengacaukan stabilitas keuangannya. Bukan berarti tidak boleh mencoba, dikarenakan untuk menjadi pengusaha diperlukan keberanian dan mental juga, akan tetapi tidak hanya sekedar berani, juga harus diikuti dengan kemampuan, pengetahuan serta jeli dalam melihat peluang. Jadi tidak hanya modal nekat saja, itulah yang ingin saya tekankan disini, tentulah kita tidak ingin hancur dan berantakan karena kenekatan kita bukan?

Untuk seorang engineer yang telah berada berada dalam zona
kemakmuran, boleh lah dia berusaha untuk menjadi seorang juragan, dengan pertimbangan, jika usaha yang dirintisnya gagal, dia masih mempunyai pegangan dan tidak akan hanyut terbawa arus. Pastilah kebanyakan orang, tidak hanya yang berprofesi sebagai engineer saja, mereka pasti akan melakukan hal yang sama. Selagi masih menjadi karyawan, dia pun punya usaha sendiri. Dan untuk anda, Cobalah untuk berpindah secara perlahan setelah periode ini tercapai.
Dan sebagai seorang engineer kita pastilah mempunyai beberapa nilai lebih, seperti lebih teliti, cermat dan ulet, nilai positif inilah yang harus kita
kembangkan dan kita pupuk terus menerus supaya tumbuh subur dalam dunia baru yang akan kita rintis.

Sekarang setidaknya kita sudah dapat meraba seberapa kuat dan
seberapa siap kita untuk memulai sebuah delusi. Kenali diri kita, kenali
potensi kita, serta kenali kemampuan kita. Setelah itu semua kita kumpulkan dan kita simpulkan, saatnya kita harus menggerakkan keberanian kita untuk menyingkap kabut tebal didepan kita dan mulailah untuk melangkah.

Kita dapat mengelola usaha secara langsung, atau kita dapat mencari
orang yang bisa menjalankan usaha kita (baca: capable) dan jujur. Dan
jangan lupa politik 267 harus kita terapkan. Carilah relasi sebanyak
mungkin, karena dengan semakin besar angka 267 kita, maka peluang untuk mengembangkan usaha kita akan semakin besar.

Ingatlah, setiap orang mampu memproduksi, namun tidak semua orang bisa memasarkan.

Delusi, angan-angan, khayalan dari belakang meja seorang engineer,
pastilah akan segera terwujud jika kita telah memikirkan semuanya. Mari
kita berpindah kuadran dan menikmati secangkir teh panas dengan harumnya mendoan dipagi hari, tanpa khawatir akan adanya PHK. (ths)