“Perhatian untuk penumpang kereta api Taksaka 2 jurusan stasiun Gambir – Tugu Yogyakarta, bahwa kereta telah berada di jalur 4, untuk para penumpang dimohon segera menuju ke gerbong masing-masing”

“ting..ting..ning..nung..ting..ting..ning..nung….”

Jam baru menunjukkan pukul 20:30 WIB ketika pengumunan itu dikumandangkan, setelah selesai menunaikan ibadah isya, aku segera berjalan menuju ke lantai 2 stasiun Gambir, dimana kereta keberangkatan telah menungguku. Ketika berjalan aku melewati ibu tua yang tengah berjualan minuman, segera aku menghampirinya dan memesan teh panas beraroma melati. Tak lupa pula kupersiapkan tiket keretanya, pemeriksaan berlangsung ketat, hampir semua barang bawaan diperiksa petugas dipintu peron stasiun. Setelah diyakini aman, aku baru bisa melenggang dengan leluasa kedalam. Semenjak Jakarta diguncang oleh ledakan sebuah bom beberapa saat yang lalu, hampir disemua fasilitas umum, hotel, mall pastilah pemeriksaan ketat dilakukan.

Ramai dan penuh sesak situasi serta keadaan stasiun gambir malam itu. Entah apa yang aku pikirkan, hanya hawa dingin yang menusuk ke sumsung tulang yang aku rasakan. dingin bercampur getir. Sembari menghabiskan teh manis itu, kusapu sekeliling, mencoba untuk mencari dan mengamati…

“Pak, ini benar kereta Taksaka 2 jurusan kota Yogyakarta ya?” tanyaku kepada petugas KAI.

Segera aku masuk gerbong 4, sesuai dengan yang tertera dalam tiket. Ternyata gerbong itupun telah penuh juga. kuberjalan menuju tempat dudukku. Setelah aku taruh tas dan barang bawaan, langsung saja aku merebahkan diri di kursi berwarna biru itu.

“permisi mas..mas duduk disini ya?…wah kalo begitu kita satu tempat duduk ini” sapa seorang perempuan yang aku taksir berumur 23 tahunan.

“oh iya..silahkan, mbak mau duduk disisi sebelah mana?” jawabku sembari membetulkan letak kacamata.

“sebelah dalam saja, itu juga kalau mas tidak keberatan…” sahutnya dengan menampakkan sebuah lesung pipit menawan hati.

+++

“Mak, aku mangkat Jakarta ndisik, Emak ojo lali ngibadahe, maeme dijogo yo”

Kulihat Emak meneteskan air mata, hampir saja semuanya tumpah, untung saja ada kakakku yang menemani dan menenangkan Emak. Seperseribu kejapan mata kemudian, Bus jurusan Jakarta itupun segera meninggalkan stasiun jombor, pelan namun pasti langkah putaran roda itu beranjak menjauh, air mata pun pecah dan meluap mengiringi perjalanan ku menuju ke ibukota Jakarta. Semakin lama bayanganpun semakin pudar dan menghilang ditelan tikungan. Kini ku sendiri, sendiri untuk mulai menggapai semua mimpi dan anganku sendiri untuk menatap kabut tebal yang masih harus kusingkap.

+++

“Wah sepertinya novel yang menegangkan ya mas?”

sontak lamunanku buyar dan semua memori itu memendar dibawa oleh terangnya sinar rembulan yang bersinar cemerlang di malam itu, Metta telah membawaku kembali ke dunia nyata.

“iyah dek Metta, kemaren baru aja beli ini novel” sahutku ringan

Sepanjang perjalanan itu pun, akhirnya kami larut dalam sebuah percakapan yang mengalir dengan riangnya. Saling mencoba untuk mengerti dan memahami, serta bertukar cerita kehidupan kami.
Tidak terasa hampir semalaman kami bercakap-cakap, Sampai akhirnya obrolan kamipun harus dipisahkan oleh stasiun Tugu Jogjakarta. Tak lupa kami bertukar kartu nama dan nomer telepon.

“sampai ketemu lagi ya mas, senang bisa berbagi kisah dengan mas, sampaikan salam juga buat ibu ya”

Hampir 2tahun, aku sudah tidak menginjakkan kaki di bumi kota pelajar ini. Semua perasaan ini menjadi campur aduk, menjadi sebuah alunan nada kehidupan yang sangat menyayat hati. Aku tidak bisa menggambarkan betapa runyamnya hati ini.
Pun selama perjalanan dari stasiun menuju kampung ku, yang memakan waktu kurang lebih 2jam, perasaan menjadi semakin tidak menentu dan galau pun tak sungkan untuk datang menghampiri. Namun aku tidak dapat berbuat lebih banyak. selang beberapa waktu, nampaklah Gerbang selamat datang telah menyambutku, gerbang yang tetap sama seperti 2 tahun yang lalu. ketika berjalan menyusuri jalanan berdebu dikampung, kumulai menjumpai tetanggaku, kusapa, kujabat tangan mereka, kutanya kabar mereka satu persatu.

“Akhirnya kamu pulang juga Man, Emak………..” Emak segera memelukku, semua air mata yang dipendam selama 2tahun ini mengalir dengan derasnya, membasahi semua dahaga kerinduan hati.

Aku hanya dapat diam terpana, memaku tanpa bisa bersuara, kulihat semua menjadi samar dan semakin kabur oleh kabut rindu itu..
Kupandangi Emak, kuseka air mata yang mengalir, kulihat pula kulitnya keriput dimakan usia senja, usia dimana ia membutuhkan anak2nya untuk menemaninya, dalam keheningan di hari tua, dalam indahnya usia senja. Segera aku bersimpuh dikaki nya.

“Mak, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian….”(ths)