“Pagi itu aku hanya bisa bertemu dengannya untuk sekian menit saja, ketika kaki ini telah menjejak bumi jogjakarta, setelah hampir 1bulan lamanya kuberada di Ibukota. Sabtu dan Minggu ini ketika aku pulang jogja, dia tidak bisa menemaniku menghabiskan waktu 2 hari libur ini, dikarenakan dia harus menjadi pembicara di seminar tentang autisme di universitas negeri di kota kelahiranku. Kecewa, namun rasa rindu yang begolak ini mampu aku redam dalam kotak hatiku.”

Penggalan narasi diatas merupakan salah satu kegiatan saya tiap sabtu minggu, yaitu sebagai seorang yang menjalani rutinitas hidup dengan PJKA*. Saya termasuk salah satu penganut ajaran LDRiyah. Yaitu suatu hubungan yang dibina dan dibesarkan oleh jauhnya jarak antara kami berdua. Sudah hampir 3tahun saya menganut aliran ini, namun saya masih tergolong orang yang beruntung, dikarenakan jiwa dan raga ini hanya terpisah oleh jarak kurang lebih 800km, masih dalam satu pulau hanya berbeda tempat berpijak dan bernafas saja. Saya masih belum bisa membayangkan bagaimana rasanya jika jarak ini semakin jauh, terpisah benua dan terbentang oleh luasnya samudera.

Semua orang pastilah tidak menginginkan model hubungan seperti ini, namun ketika keadaan mengharuskan kita untuk melakukan LDR, apakah kita akan mengingkarinya? Ganti yang laen?
entahlah…banyak godaan itu pasti, banyak cobaan itu tiap hari selalu ada, beda persepsi itu sering terjadi. Apalagi dengan menyandang status yang tidak pasti, istilah saya ialah jomblo musiman. Ketika musim jomblo itu datang, kami berjalan dengan tanpa iringan pasangan, begitu pula sebaliknya. Suck itu pasti, sebal itu sarapan pagi ku. Apalagi ketika godaan dari cewek Lebanon itu datang menyerang, dunia ini seolah menjadi seperti kamuflase, seperti bayangan sumber air di gurun sahara, dimana jumlah pasirnya yang lebih dari satu.🙂

Namun, ketika komitmen yang dibuwat semasa masih sama2 ingusan itu muncul kepermukaan, hal tersebut bisa menjadi suatu kontrol diri saya, untuk selalu meminjakkan kedua kaki ini ke tanah. Looooong Distaaaaancee Reelathioooonship is depending on how we looked at it?

Kita juga bisa melihat hal lucu yang sering terjadi dalam LDR ini. Hal ini saya perhatikan ketika kita bekerja di Remote area (hutan, rig de el el), ada beberapa teman melakukan rutinitas dan ritual yang lucu menurut persepsi saya.

1. Si A selalu membuka sebuah album poto, album tersebut berisi poto kedua anaknya yang masih menggemaskan, saking seringnya album itu dibuka, sekarang ini bentuknya sudah kucel bukan maen

2. Si B selalu telpon istrinya tiap pagi untuk menanyakan pakaian warna apa yang akan istrinya pakai pada hari itu, lalu dia akan menyamakan warnadengan pakaian istrinya.

3. Si C tiap malam selalu telepon pacarnya dengan memandang bulan (catatan : ada bulan), wah bulannya indah ya, walo kita tidak beralaskan tikar yang sama, namun kita beratapkan atap yang sama:-)

4. boleh ditambahin lagi bagi yang melakukan LDR🙂

Namun, yang pasti suatu hubungan itu akan lebih indah jika tidak dilakukan dengan LDRiyah.🙂

buwat para pembaca yang menganut LDRiyah ini pasti lebih paham, gimana lika liku serta seluk beluknya..apalagi yang terpisah benua..😦
ato para “pembaca” yang masih kuliah di Jakal km nol, apakah ada yang mengalami LDR juga? atokah masi menjabat predikat JoJoBa🙂

Mumpung masih kuliah, coba untuk dimanfaatkan waktunya secara maksimal dengan cara hunting ke semua jurusan yang ada di UGM. Untuk yang kuliah di Teknik, coba carilah ke segitiga emas UGM…
gimana tip dan triks coba baca modus mencari cewek waktu kuliah dolo🙂

*PJKA = Pulang Jumat Kembali Ahad