“Jo…gila kamu..itukan laptop mahal…mau kau banting begitu saja..?”
“…ehhh…Dri..Lu ga usah ikut campur deh.,perkara ni mau Gua banting itu urusan Gua…emang Lu yang beliin ni laptop ya?”

Jika tidak dikarenakan Adri, aku sudah membanting Vaio ku tersebut, entahlah setan apa yang merasuki pikiranku sore itu. Yang jelas setelah aku menghidupkan si hitam, terihat dengan jelas wajah yang sudah sangat tidak asing bagiku. Wajah tersebut selalu menghiasi laptop ku setiap kali aku menyalakannya.
Setelah itu pastilah aku kan menerawang ke masa lalu, dimasa dimana aku hanyalah seorang pecundang sejati. Selain pecundang, ku juga tergolong seorang pengecut. Ya itulah aku dan semua ketidak pecusan dimasa laluku..
Entah kenapa hampir selama seminggu ini wajah tersebut selalu menghantuiku, menghantui dan merasuki kalbuku.

+++

“Rie,aku ga suka kalau kamu pake baju pink, kamu udah tahu kan, atau kamu emang sengaja ya?”


Ya,,Ririe sore itu memakai baju pink++, kenapa aku bilang plus, dikarenakan semua asesoris yang menempel di badannya berwarna pink. Sebuah warna yang akan membuatku semakin sebel dan sebel ketika aku melihat seseorang berbaju pink. Bodohnya aku yang tidak suka akan pink, dikarenakan hampir semua cewek memakai baju dengan warna aneh itu. Apa mau dikata, meskipun semua ketidak sukaanku telah aku munculkan, namun Ririe tetap cuek saja. Akhirnya kami berdua meluncur ke jalan kaliurang, untuk buka puasa bersama.

+++

“Jo..kamu ga sahur ya?”….terdengar suara parau dari Adri…
“malas lah aku Dri, biarlah ku minum air putih aja pagi ini…”
Masih dengan perasaan malas ku mengambil air putih di dispenser butut itu…kulihat Adri makan dengan lahapnya, padahal Cuma dengan kerupuk saja, mungkin juga dia berempati denganku. Kuhidupkan kembali si hitamku, beberapa saat lamanya kulihat kembali wajah itu, mengiang kembali dalam pikiranku, menari dengan konyolnya dalam pikiran dan hatiku. Menggigit dan menderu dalam kalbuku.

+++

“Jo..kamu kenapa..?” ga suka dengan makanannya ya?”
Kupandangi wajah Ririe, wajah merona merah itu terlihat makin manis diterpa sinar bulan yang membulat malam itu. Lama kupandangi wajah itu, semakin lama akupun larut dalam indahnya wajah itu.
“Jo….Jo…, Rie tahu Rie emang manis, namun kamu jangan diam aja…Rie kan jadi takut…”


“Jooooooo….”
“Oh iya…maafin Rie,, abis kamu manis deh kalo ga pake baju pink, apalagi hari ini. Kau lihat kan bulan disana, walaupun purnama, namun dia tidak berani memancarkan terangnya sinarnya..aku tau dia pasti iri dengan kecantikanmu”


“bodoooooo…jelekkkkkkkkk”

+++

Ketika pena ini menggores kertas A4 itu, Rie tetap menari2 dalam benakku, pun aku telah mematikan laptopku..adilkah DIA terhadapku? Ku telah melahap ratusan buku tentang seni untuk hidup ikhlas. Namun itu jangan numpang lewat saja dalam pikiranku. Rie kenapa kamu selalu hadir tanpa ada jeda, tanpa kau tahu bahwa aku disini merindumu..namun…..hal itu tidaklah mungkin…sekarang kamu menjadi sebuah artefak dalam hidupku, yang akan muncul setiap saat setiap waktu.

malam telah menunjukkan pukul 2 dini hari..pisau lipat swiss army ini telah kugenggam sedari tadi, masi kutimang-timang pisau yang kubeli ketika aku menginjakkan negeri sakura untuk pertama kali..(ths)