Sepeda motor dengan merk Honda itu segera ku keluarkan, merah menyala, mesin pun upgrade dari motor tangguh dikelasnya serta dengan tampilan mesin dan rangka dibalut krom yang mengkilap. Pasti engkau membayangkan betapa bahagianya aku dengan motorku teman. Motor itu dengan setia telah menemani ku semenjak masih SMA, masa-masa menyenangkan, dimana hanya ada kesenangan dan kegembiraan saja. Aku sungguh merindukan masa-masa sekolah menengah itu teman. Masa dimana… ahhh, tidak usahlah aku berusaha untuk menjelaskannya, engkau pasti pernah mengalaminya.

Aku akan sedikit menggambarkan diriku, tidak perlu detail lah, dikarenakan aku dinilai tidak dari tampangku yang kacau saja, walaupun demikian aku memiliki prestasi sebagai seorang yang pintar akan ilmu pasti..hehehe. Bolehlah aku membanggakan diriku sendiri. Dari pada aku terus berceloteh tidak karuan mari kita lihat diri ku ini, seorang pemuda dengan rambut sebahu, dengan kacamata minus 1, perawakan bisa dibilang ramping, dengan didukung tubuh yang menjulang dan disupport oleh sebuah kejahilan sebagai prosesor otakku. Aku disusun dengan komposisi 99% celelekan dan 1% kebaikan.

Sudahlah cukup itu saja yang perlu engkau ketahui teman, dikarenakan petualang ini akan segera dimulai, bolehlah engkau mengambil sedikit makanan dan minuman untuk mendukung imajinasimu. Engkau memberikan waktu untuk membaca, maka ya bacalah tanpa berharap engkau akan mendapatkan keberuntungan, dikarenakan aku bukan seorang peramal, penerawang dan seorang pengubah nasib. Aku hanyalah pemuda yang dilahirkan dan dibesarkan di kota gudeg, kota dengan seribu keanekaragaman budaya, dimana engkau akan melihat bahwa aku memang ada disana, titik.

Kucoba untuk mengerti kenapa aku bisa menyebut dan menyematkan istilah pecundang. Hanya dikarenakan, menurutku istilah ini begitu enak di telingaku. Menjadi seorang pecundang bukan berarti kita bisa disepelekan dengan mudahnya, dikarenakan jika orang memandang sebelah mata, then we show to them who is the real boss.Ah sudahlah tidak perlulah kita “gedhe ndase“.

Okelah teman aku akan memulainya,  semua ini dimulai dari masa SMP, masa-masa pembentukan diri, pengenalan diri, pengenalan lingkungan dan pengembangan potensi. Jika aku mengingat itu semua aku merasa bahwa diriku sangat lah pecundang sejati. Tapi dari sisi itulah, tanpa kusadari aku bisa menggali dan memahami potensi, memahami bakat dan minatku dan yang jelas aku menjadi dewasa karena adanya masalah yang silih berganti mendatangiku. Kegagalan demi kegagalan, terpuruk demi terpuruk, namun aku bisa  melihat itu semua sebagai suatu ilmu yang teramat sangat mahal artinya. itu pandangaku saat ini teman, jangan engkau kira waktu SMP aku sudah berpikiran seperti itu😀

Teman, tahukah kamu, jika kamu pada masa-masa perkembangan, masa pergaulan, masa bermain, namun kamu tidak memanfaatkan itu semuanya dan engkau baru menyadari saat ini, apa yang akan engkau lakukan?

Benar. Aku selalu berpikiran, bahwa aku akan kembali ke masa laluku, aku akan merubah semua, aku akan mengembangkan semua potensi besarku, ahhhh..itu tidaklah mungkin teman, dikarenakan kita tidak hidup di dunia imajinasi, dunia doraemon ataupun dunia marty di back to the future. Tapi sekali lagi aku ingin ke tahun 1995, dimana itu merupakan titik balik ku, mungkin aku akan menjadi seorang yang berbeda jika aku bisa kembali ke masa itu. Tahun berapa engkau ingin kembali teman? Kamu harus mengetahuinya, kamu harus mencoba untuk mengingat, dan apakah jika kamu kembali ke masa itu, apa yang akan terjadi denganmu. Apakah kamu dapat melihat perubahan yang akan terjadi teman? Seperti aku melihat perubahan  yang akan terjadi di dalam hidupku.

Apa kamu bilang? Sudah..!! sudah..!! dan tidak ada gunanya menyesali semua yang terjadi? apa kamu kecewa dengan masa lalumu teman? Tidak bisa teman, aku akan selalu mengingat titik itu, dikarenakan titik itu akan bisa membuatku, akan menguatkanku, walaupun terkadang menggores hatiku, menusuk hasrat hidupku. Sudahlah kau dengarkan saja celotehan ku ini, celotehan seorang pecundang yang ingin merubah nasib dan hidupnya menjadi lebih berarti lagi.

Banyak teman, banyak hal yang aku lewatkan, banyak hal yang aku diamkan begitu saja. Entah apakah yang ada dalam benak pikiranku waktu itu? Melihat dari lingkunganku yang sangat tidak mendukung? Mungkin juga hal itu bisa saja mempengaruhi pikiran masa kecilku. Masa dimana aku tidak melihat besarnya potensi, tidak melihat betapa luasnya ilmu pendidikan, dan semua itu semakin kacau dengan sifatku yang cenderung untuk menjadi pendiam. Sekali lagi potensi itu terpendam dan tidak tergali, meskipun Pisuku* menyadari adanya potensi luar biasa dalam diriku, namun aku tidak pernah “manut” oleh nasehat dari beliau. Dan sekarang ini aku baru menyesal dan menyesal….

Ahhhh Tuhan, seandainya ENGKAU mengijinkan aku untuk pulang lagi kemasa itu, aku akan merubah semua, aku akan mengulang semua dan aku akan membuat suatu perbedaan yang mencolok dalam kehidupanku. Namun mungkin jika itu semua terjadi, aku tidak akan bisa berkenalan denganmu teman, di negeri perantauan nan jauh dari tanah air. Ya aku mungkin tidak akan menjadi seorang TKI* disini bersamamu teman. Mungkin juga aku akan berkerja sebagai seorang pegawai pajak, atau juga seorang dokter di sebuah rumah sakit di negeri kita tercinta.

Benar teman, memang aku menjadi pecundang dengan mengorbankan semua masa laluku, seharusnya aku bisa menjadi seorang yang bisa lebih dari individu lain, namun Tuhan menciptakan diriku dengan semua keegoisanku dan kebodohanku. Masa sekolah menengah pertama, masa sekolah menengah atas dan masa-masa awal kuliah. Dan aku baru menyadari itu semua ketika masa sekolahku hampir selesai, ketika gelar ini hampir kurengkuh. Aku hanya bisa mengembangkan itu semua selama 2.5 tahun. Padahal aku mempunyai waktu efektif hampir 13 tahun..

Okelah kalau begitu, saya akan membuatmu lebih bisa merasakan yang kurasakan sekarang teman. Apakah engkau menginginkan dirimu yang sekarang ini? Adakah hal yang engkau lewatkan teman? Seperti, kenapa tidak ikut kegiatan ini-itu, tidak menjadi seorang ketua BEM, tidak aktif dalam kegiatan mahasiswa, tidak ikut mapala, atau apalah yang bisa membuatmu kecewa jika engkau mengingatnya..

Aku tunggu jawabmu teman, jangan hanyalah kau tundukkan kepala dan apalah itu istilahnya…(ths)

*Pisuku = ibuku, TKI = Tenaga Kerja Insinyur