Kamis 28 januari, Jakarta masih dibalut oleh kabut tipis dan diselimuti dengan awan mendung yang menggumpal berwarna hitam kelam, tertiup angin bergerak menuju arah Banten. Jam masih menunjukkan pukul 04.00 pagi, suasana kost tempat ku melepaskan lelah di komplek perumahan angkatan darat itupun masih begitu sepi, hanya sesekali terdengar kokok ayam yang berada tepat di belakang kompleks. Aku segera menyeduh secangkir teh dengan gula batu, aroma teh dengan perpaduan melati pun segera semerbak dikamar berukuran 2.5X3m itu.

Beberapa saat kemudian, handphone disamping ku bergetar, tepat pukul 04.15 pagi. Entah apa yang kurasakan pertama kali ketika aku membaca sms itu, sms yang begitu singkat namun mempunyai makna yang sangat dalam. Langsung saja ku dekatkan jidat ini menyentuh keramik berwarna putih yang telah memudar akibat gerusan usia, dingin pun tidak lagi aku hiraukan.

“Ayah…tadi pagi bunda ngecek pake alat test, dan hasilnya 2 setrip…alhamdulillah..” bunyi sms yang menyelinap masuk pagi itu.

Terus terang aku masih tidak percaya akan kabar yang kudengar. Apakah ini mimpi? Jikalau ini mimpi kenapa rasa teh itu masih menganga dalam mulutku. Ku kucek kedua mataku, bahkan aku mencubit kedua tanganku untuk lebih memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi.

Sakit!!!!

Kulihat tangan kiriku mengeluarkan darah segar, akibat cubitan oleh tangan kanan yang mempunyai kuku sedikit panjang dan tajam. Segera kuseka darah yang mengalir itu dengan tisu kering.

Ya Tuhan, aku tidak bermimpi dan tidak sedang berhalusinasi. Hampir 30 menit aku disibukkan oleh hilangnya kesadaran ini. Apakah ini dikarenakan aku terlalu bahagia?? Ya aku bahagia…sangat bahagia..

Perjuangan ini ternyata tidak sia-sia, pengorbanan ini pun telah berbuah manis dan DIA telah memberikan amanah ini kepada kami berdua.

Hal yang  Luaarrr biasa  yang aku rasakan pagi itu, walaupun kami terpisah jarak ribuan kilometer, terbentang oleh panjangnya rel kereta Jakarta-Jogja, namun kami berdua merasakan kegembiraan yang sama dan tidak dapat kami gambarkan.

“Inikah jawabmu atas doa-doa panjang kami, atas permohonan kedua orang tua kami ya TUHANKU?..”

Pikirku segera menerawang, terbalut oleh manisnya teh melati itu. Mungkinkah diusia ke 27 ku, aku akan segera memiliki seorang putra kecil? Ya, hal itu mungkin akan terjadi,

…..ahh ingin segera aku pulang untuk menemui istriku.

Hari itupun semua berjalan dengan cepat, semua perkerjaan telah selesai sebelum waktunya. Kabar itu, berita tersebut, sms itupun telah memberikan energi yang teramat sangat luar biasa, sehingga hari jumat pun telah menghampiri.

Pagi itu segera kukemasi semua pakaian serta ku masukkan bekal untuk perjalanan pulang. Segera setelah semua aktivitas di jumat itu selesai, aku pun bergegas menuju stasiun senen untuk pulang.

Kopaja P20 membawa tubuh ini mengaliri jalanan di Jakarta, dimulai dari kuningan dilanjutkan menteng, belok kiri sampai gondang dia, sejurus kemudian mampirlah di stasiun gambir dan sampai juga  aku di terminal senen, terminal yang bersebelahan dengan stasiun senen.

Aku sudah tidak sabar lagi, namun kereta senja utama Yogyakarta itu baru berangkat pukul 19.20, masih ada waktu kurang lebih 1.5 jam lagi. Suasana stasiun pun telah ramai seperti jumat malam biasanya. Kujejakkan kaki ini melangkah menuju ke rangkain jalur 3, dimana kereta ku akan berhenti. Lalu lalang orang pun semakin memadati stasiun yang minim dengan tempat duduk itu. Kurebahkan badan ini bersandarkan tiang penyangga yang berada di tepi jalur 3. Jam menunjukkan pukul 18.45, masukkan kereta express ekonomi jurusan bekasi. Disusul lima belas menit kemudian kereta api Sawung Galih jurusan Kutoarjo.

“perhatian, dari arah barat untuk jalur 3 akan masuk kereta api senja utama jurusan Yogyakarta, kereta ini akan berhenti di stasiun Cirebon, Purwokerto, dan di stasiun Tugu Yogyakarta. Adapun susunan kereta api dimulai dari paling timur, gerbong 1, gerbong 2 bla bla bla bla……” suara petugas pemberangkatan kerata terdengar nyaring dari setiap sudut pegeras yang diletakkan di dekat peron masuk.

Tubuh ini telah kurebahkan di dalam kereta, kugelar Koran bekas sebagai alas tidurku, aku sudah tidak begitu mempedulikan orang yang berlalu lalang dihadapanku. Aku juga tidak begitu peduli oleh para penumpang yang “nembak” di dalam kereta. Ya inilah Indonesia, dimana suap telah meraja lela. Sudahlah aku tidak mau mengusik rejeki mereka.

Ketika jiwa ini telah masuk dalam alam mimpi dan raga ini sudah tidak sabar untuk sesegera mungkin menginjakkan kaki di bumi kota tercinta Yogjakarta, kota dengan sejuta kenangan.

Ternyata hasrat rindu ini dirasakan oleh kereta yang telah menemaniku selama 2 tahun ini, laju kereta yang membelah jarak, mengoyak rasa dan dengan setia selalu menunggu ku, menunggu untuk mengantarkanku menuju calon buah hatiku.

Tidak terasa, Subuh pun sudah sayup-sayup terdengar, ku gerakkan mataku, kugeliatkan tubuhku. Segera ku bangun dan melongok ke luar, ternyata aku telah tiba di Yogyakarta, dan beberapa menit lagi, ya beberapa menit lagi, aku akan…… ahhh aku tidak dapat menggambarkan lagi suasana hatiku pagi itu. Setelah kereta ini berhenti, segera aku mengelusnya, dan kutepuk tubuh kokohnya.

“sampai bertemu lagi di minggu sore kawan…”

Dengan ojek seharga 15.000 aku segera meluncur, udara pagi itu telah membasahi paru-paru ku, membasahi urat nadiku serta menyegarkan pikiranku..

“ahhhh…aku selalu merindukan udara ini..” sembari kuhirup udara ini sekuatnya.

Pelukan itu akhirnya mendarat juga, rasa kangen itu tercampur aduk, kemudian aku segera menyapa jagoan kecilku di dalam kandungan bundanya.

Aku sudah tidak sabar, pun dengan bundanya. Kami ingin lebih memastikan bahwa dia telah hadir diantara kami, tidak hanya dengan 2 garis merah yang terlihat di kertas berwarna putih, kami pun mengulang, mengulang dan mengulang untuk melakukan tes itu dan hasilnya tetaplah 2 garis merah.

“wahhh..ini bahaya…hamil anak yang pertama ya?” suara dokter spesialis di rumah sakit panti rapih. Itulah dokter yang kami datangi, khas dalam menangani pasien, sehingga kami berdua tidak grogi dan suasana pun cair oleh canda dari dokter berusia 50an tahun itu.

“ini mas, panjangnya 35 mm, usia kandungan 2 bulan dan kemungkinan cowok”…penjelasan dokter Sri kepada kami berdua…..(ths)