Menjelang  perayaan  imlek,  hujan biasanya mengiringi kedatangannya.
Entah  kenapa  setiap  perayaan imlek ini tiba, hujan pun senantiasa dengan
setia  selalu  menemaninya.  Bagi mereka yang merayakan perayaan ini, hujan pun  dianggap  sebagai  pertanda  akan  mengalirnya rejeki. Banyak hal yang mereka  persiapkan, seperti kue ranjang, membeli jeruk sebagai tanda supaya rejeki  lebih  lancar,  membeli  ikan  dan masih banyak hal yang tidak saya ketahui.

Namun ada sebagian masyarakat yang harus bersiap untuk mengungsi jika
hujan  ini  datang membasahi bumi. Mereka harus siap siaga untuk menghadapi tamu  tahunan  ini.  Sebagai contoh di kampung Melayu Jakarta timur, dimana ketinggian  air  hujan  bisa  mencapai 2 meter, semua tergenang dan air pun menggilas  kehidupan  mereka. Kedua ilustrasi itu hanyalah salah satu sudut cerita dari sang hujan diantara 2 kepentingan.

Pagi  itu  16 februari, cuaca Jakarta sedikit mendung disertai dengan
hujan rintik-rintik yang menyiram ibukota Indonesia ini. Tepat pukul 07.00, ku  mulai  bergegas  untuk  berangkat ke kantor ku yang terletak di kawasan kuningan,  sebuah  kompleks  perkantoran  yang  berada  di jakarta selatan.

Kuberjalan  menyusuri  jalanan di Mampang Prapatan menuju halte busway yang sudah  mulai  dipadati para karyawan yang hendak berangkat kerja. Selangkah berikutnya segera kutukar uang 2000 rupiah itu dengan karcis busway. Alunan nada  dari  Jak Radio 101 FM menemani ku dalam perjalanan pagi itu, dimulai Jason mraz berganti dengan Gita Gutawa dengan sempurna….

“ahhhh…sayang didunia ini tidak ada yang sempurna…”

Kadang  tawa  kecil  ini  muncul  juga menghiasi mulutku, ketika Tike dan Ronald mulai  membawakan  acara  pagi  itu  dengan guyonan khas mereka. Dan ketika mulut  ini membuka menampakkan keceriaan, nampak satu dua orang melihat dengan penuh tanya.

Busway  pun  datang,  segera aku masuk dan menikmati perjalanan yang kurang lebih  hanya  2  kilometer  itu.  Kusapu bus transjakarta itu, hampir semua penumpang  sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Segera aku menyandarkan diri  di  kursi  kosong  dekat  dengan  pintu yang digerakkan dengan sistem hidrolis itu.  Setelah 15 menit perjalanan, aku segera turun di halte kuningan, setelah  by  pass  Casablanca.

Hujan  masih  rintik mengguyur Jakarta, aku segera berlari menuju ke seberang perempatan casablanca untuk berganti angkot yang bergerak  ke  arah Mall Ambassador, dimana kompleks kantorku berada didepan Mall  megah  itu. Angkot pun berjalan dengan lambatnya, dikarenakan keadaan
telah  padat oleh ramainya mobil yang merayap dijalan itu.

Tepat pukul 7.30 aku  telah  sampai  di depan kompleks perkantoran kuningan. Setelah kubayar angkot  tadi,  aku  bergegas  berjalan menuju kantor. Sebenarnya ada shuttle bus,  namun aku agak malas mempergunakannya, hitung-hitung sebagai olahraga di pagi hari dan untuk membakar lemak yang sudah mulai menumpuk di pinggul.

Ketika  langkah  ini  mulai menapak beberapa jengkal, tepat dijalanan dengan  genangan  sedikit  air, aku merasa bahwa telapak kaki ku sepertinya agak  basah, jika hanya terkena hujan rintik, tidaklah mungkin telapak kaki ini basah.

“ahhh…payah sekali aku ini, sepatu sudah sikit lubang di alasnya saja tetap aku pakai, padahal hari ini juga hujan..” gerutu ku sendiri.

Berapa  sih  harga  sepatu  baru?  Paling  berkisar  300ribu – 500ribu. kenapa juga aku tidak membeli sepatu baru lagi?? Aku sebenarnya  sudah  berkali-kali  melihat, memilih dan memilah, namun sekali lagi  aku  masih  belum  ingin  membeli sepatu, aku masih mempunyai sepatu, walaupun  jika  hujan  turun, kaki ini selalu basah. Tidak tahu juga kenapa aku  begitu  “eman”  dengan sepatu kulit tua ini? Aku masih ingin menjalani kisah, mengukir langkahku dengan nya.

Ahhhh….kamu pasti tidak mengalami hal ini teman. Namun pernahkah kamu “meng eman” sesuatu dalam hidupmu?

Tunggu  dulu,  kamu  jangan hanya berorientasi barang saja, banyak hal yang kadang kita tidak “meng eman”, jika kita merasa “tidak butuh lagi”.

Sudahkah kamu menelpon orang tuamu hari ini?
Pernahkah kamu melihat orang tanpa alas kaki?
Pernahkah kamu….

ahh  sudahlah  teman kamu pasti telah memikirkan apa yang ingin aku katakan lagi, bahkan mungkin sekarang kamu sudah berpikir sangat jauh lagi.

Aku hanya mau bilang sudahkah kamu bersyukur hari ini? (ths)