hari : Rabu 07 octo 09
jam : 18.00 ~ sak2e
tempat : kafepisa CITOS

“we meet agen”

Mendung dan macet tidak menghalangi kami untuk bertemu. Bertemu untuk sekedar bercanda, diskusi dan membuat hati ini semakin dekat serta saling memiliki. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, dan aku sudah menginjakkan kaki di Citos lagi untuk kedua kalinya. Masih sama, dan memang benar masih sama. Munas di kafe pisa Citos ini merupakan munas kampung kedua yang aku ikuti, dan untuk acara hari aku ditunjuk menjadi EO nya. Cek sini cek sana, browsing sini browsing sana, dan akhirnya ketemulah tempat ini.

Nampak di ujung pojok, telah ada KH dan Kang Danar beserta keluarga telah asyik bercakap-cakap, segera aku menghampiri mereka berdua dan duduk manis untuk mendengarkan ceramah KH yang telah dimulai. Sembari tangan ini tidak lepas dari buku menu, untuk mencari dan mencoba semua yang ada di resto ala italia itu.

Sore itu, Jakarta diguncang macet yang luar biasa. Dan kemacetan pun mengurungkan niat Pakdhe Vick, Om Hendi dan Mbak Intan untuk mengikuti acara munas kampung ini, dan di last minute Om Eshape pun menelpon dan mengabari tidak bisa bergabung, dikarenakan Lilo sang putra bungsu sedang dirumah sendirian..

Beberapa saat setelah minuman dingin itu disajikan, datanglah duta dari BSD dengan senyuman khasnya. Sore itu mas Anung datang dengan setelan jaket warna hitam dan berkesan santai. Segera kami berempat meramaikan suasana sore yang diguyur hujan rintik mengarah ke deras.

“teh panas+diskusi agama semakin panas”

Ketika obrolan semakin panas, dengan topik-topik yang memberikan pencerahan, muncullah pakdhe Ki dengan tampilan Biker Harley Davidson. Semakin lama semakin panas dan membuat hati ini dag dig dug. Ceramah KH yang disusun dengan bahasa yang sistemtis dan disampaikan dengan penuh data data serta dalil-dalil membuat mata ini semakin cerah..ahhhh seperti mendapatkan air sejuk dikemaraunya gurun sahara.

“jagoan udah pada ngumpul”

Tangan kecil ini tak luput pula untuk mengajak maen Vian, putera Kang Danar yang begitu menggemaskan. Lucu dan mempunyai energy yang luar biasa, lari kesini, trus ngajak lari lagi kesana..

Beberapa saat kemudian nampak sosok gagah tinggi besar terlihat di ujung tangga,

“Alhamdulillah doa ku terkabul, Om Nukman ga dapet tiket Air Supply, jadine bisa datang ke Munas,,hehehehe”

Aku pun segera berjabat tangan dengan mas Anung, menandakan kemenangan.

Obrolan semakin rame, diselimuti pula dengan gumpalan rokok yang mengepul dan menggumpal. Semua pendapat keluar, semua argument tersampaikan dan ketika hal lucu itu datang, kami ketawa “ngakak”

Tidak terasa hari sudah beranjak malam, menandakan bahwa kami harus segera beranjak menutup acara sore itu, acara dimana kami mendapatkan apa yang dinamakan silaturahmi. Tidak hanya berkumpul, namun kami juga berbagi, bercanda dan membalut semua itu dalam sebuah wacana ala kampung.

“Vian yang ngangeni”

keenam enjinir dari angkatan 72 sampai 2001 telah mewarnai sore mendung di CITOS
keenam enjinir dengan berbagai macam profesi itu larut dalam warna bumi yang selalu berotasi…
keenam enjinir itupun mempunyai warna yang khas…

ya…, 6 enjinir dimana 1 seorang kyai, 2 juragan dan 3 masih jadi enjinir. Kami akan segera bertemu dan berkumpul di kesempatan dan keadaan yang laen.