Entah sudah berapa billion detik, kaki ini masih sering terpaku di tempat yang sama. Goresan jejak langkah kaki itu pun masih terekam jelas dalam mata kalbu ini. Pun dengan uraian kata terakhir itu, masih melekat indah dalam jelaga hati. Ingatan ku pun langsung menerawang menuju ke dimensi waktu yang tidak akan pernah bisa terurai dan terenskripsi lagi. Hanya ada sebuah tatapan nanar tanpa arti, yang akan mulai menari dan bergolak didalam ruang rindu yang akan terus menerus memberontak dan menggelorakan sanubari ini.

Kugeser arah duduk ku, sembari mengambil sebuah catatan kecil, lengkap berserta pena berwarna biru, dari dalam tas hitam yang mempunyai corak merah sebagai pemanis. Hari ini tepat pukul 09.00 WIB, di bandara Internasional Soekarno Hatta, ku mulai menggoreskan pena ini, goresan yang ke 240 akan kembali aku ukir dan kudedikasikan untuknya. Pagi ini tepat sudah 5 tahun, dimana dia meninggalkanku dalam sunyi, sepi dan tersekat oleh kesendirian di negeri ini. Lembar demi lembar catatan kecil ini, mulai terus terangkai dan membentuk suatu sinergi yang saling bertautan satu demi satu dalam setiap minggunya. Tepat pada detik ini pula, pesawat penerbangan ke Perancis itu mulai bergerak dengan perlahan-lahan untuk meninggalkan bumi Indonesia, serta meninggalkan tubuh ini dalam bingkai sepi.

“Ya tepat 5 tahun yang lalu, jam di bandara menunjukkan pukul 09.00 WIB, diiringi cuaca yang sangat cerah dan langitpun sangat membiru, meskipun kelabu ini mulai singgah dan memenuhi hati ku. Tangis yang kusimpan dan kupendam ini, dengan pelan mulai menetes, selanjutnya bulir panas pun dengan deras mengalir menenami kepergiaannya. Hampir semalaman aku menginap di tempat itu, dengan seijin petugas bandara, aku mengatakan ingin menghabiskan air mata ini di tempat itu.

Namun sudah 5 tahun, air mata ini tetap saja tidak mengering, bahkan terus memancar dan mengalir dengan derasnya.

Andai kamu tahu, ditahun kelima ini, aku masih dengan setia mendatangi tempat ini, berharap pesawat itu akan membawamu datang kembali ke negeri ini.

Begitu bodohkah aku selama 5 tahun ini? Dimana setiap minggu nya aku selalu menyempatkan diri ketempat ini, hanya untuk sekedar mengenang dan mengharapkan dirimu datang kembali, meskipun itu hanya untuk memberikan sedikit senyuman mu kepadaku.

Tidakkah dirimu ingat kepadaku??

Ahh..kenapa juga kamu harus pergi, kenapa juga aku engkau tinggalkan di tanah tumpah darah ini sendirian. Kenapa? Kenapa? dan kenapa?

Tanpa aku sadari, darah ini mulai mengalir dari hidungku, menetes membasahi catatan kecil yang sudah teramat sangat usang dan sudah dipenuhi dengan ribuan isak tangis serta tetesan darah yang dengan nikmatnya keluar dari hidungku. Ya beginilah aku, ketika hati ini mulai lelah akan dirimu, tubuh ini pun tidak kuat untuk menemani ku.

Segera saja aku mengambil tisu berukuran kecil yang mempunyai corak boneka barbie sebagai penghias bungkusnya, untuk sekedar menyeka hidung ini, dengan isak tangis yang masih saja terus mengalir.

Tololkah aku Tuhan? Mengapa Engkau tidak pernah adil terhadapku?

Kenapa rasa ini tetap saja engkau hangatkan, meskipun sudah 5 tahun berlalu. Kenapa? Kenapa tidak Engkau bekukan saja dalam dinginnya Nitrogen di relung pikirku.

Ahhh..kenapa juga aku harus menantimu, tapi…..

Aku harus ada disini, siapa tahu minggu depan kamu akan pulang ke negeri ini dan menemuiku, karena aku percaya itu…

..karena engkaulah aku ada, ya karena dirimulah aku bisa beranjak untuk melepaskan semua belenggu masa lalu, yang dengan kejam tanpa belas kasih membelengguku, merantaiku dan menghempaskanku ke dalam derajat kenistaan.”


Mba..mau pesan Kopi seperti biasanya kah?” tanya perempuan setengah baya kepadaku

Aku pun segera mengangguk tanpa arti, sudah 5 tahun ini aku selalu memesan minuman yang sama kepada pelayan di bandara tersebut, yaitu kopi pahit dengan sedikit krimmer yang dicampurkan diatasnya, dengan perbandingan 2 sendok kecil kopi dan 1 sendok kecil krimmer, diseduh dengan air panas yang disajikan dalam gelas kecil yang terbuat dari kaleng. Ya dari gelas kaleng. Hal itu dikarenakan, aku dengan dirinya selalu menghabiskan waktu senggang dalam mencari ide dan menelusuri semesta pikiran ini, dengan selalu ditemani kopi krimmer yang diseduh dengan gelas kaleng. Gelas kaleng itu pun sengaja aku tinggal ditempat pelayan tersebut, yang dengan setia selalu membawakanku kopi krimmer itu.

Namun, tetap saja ada rasa yang kurang. Rasa kebersamaan itu tetap saja tidak menemani bersamaku. Bahkan ketika tegukan pertama ini mulai masuk dalam kerongkongan, membasahi rongga hati, tangis ini pun meledak, bulir-bulir panas ini mulai berjatuhan membasahi pipi dan menetes sehingga membuat catatan kecil itu semakin kusut.

Masih dalam tangis, aku pun mulai beringsut ke sudut sofa di terminal tiga itu. Nampak beberapa mata menatap dengan rasa iba dan penuh dengan tanda tanya. Tanpa ada suara, tanpa ada nada, hanya desahan nafas yang terasa semakin berat, dan semakin mengikat serta menyekat tenggorokan.

Mata ini terasa semakin berat, berputar, dan menampakkan binar kunang-kunang berwarna kuning keemasan. Masih dalam diam di pojok sofa berwarna merah marun itu, dengan berharap semua kegilaan ini menghilang dengan sendirinya. Namun…tubuh ini menjadi semakin ringan, kaki inipun mulai terasa dingin menggigil, pandangan ini semakin kabur, keringat dingin mulai membasahi semua nya, tangan, tubuh, dan pakaian yang kupakai pun bermandikan keringat  ini. Lemah kaki ini tidak mampu untuk sekedar menyangga, bibir ini pun serasa terkatup membisu serta terkunci rapat dalam diam tanpa mampu untuk sekedar meminta bantuan, tangan ini pun seperti terantai oleh dinginnya hawa kematian. (THS)

https://namakutree.wordpress.com