Badrun nama yang terlintas dalam benak saya waktu tulisan ini mulai tergores, ialah  seorang sarjana ekonomi dari universitas negeri di Yogyakarta. Ekonom muda ini, setelah menyelesaikan studinya bekerja di suatu badan perekonomian yang terletak di kawasan bundaran Hotel Indonesia, sebuah kawasan elit yang terletak di Jakarta pusat. Sudah hampir 3 bulan Badrun bekerja sebagai seorang ekonom muda, dengan tampilan necis alias rapi, kemeja lengan panjang dengan dipadu celana kain katun berwarna hitam selalu menjadi ciri khasnya. Sebagai lulusan dari Universitas dari Yogyakarta, Badrun terkenal sangat gila kerja, hampir tiga perempat hidupnya dihabiskan di depan layar komputer. Teman-teman kerjanya sangat salut akan kekuatan fisik dan kemampuan kerjanya yang sangat luar biasa dan dapat dikategorikan sebagai seorang workaholic.

Namun, Badrun tetaplah manusia,yang suatu saat akan mencapai titik lelah. Dan benar juga titik lelah itu terjadi juga di suatu pagi di hari libur. Tanpa mengetahui sebab yang pasti, sabtu itu sehabis bangun tidur, badannya tidak enak, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya, demam pun segera menyerangnya. Tanpa berpikir panjang, dia pun segera menelepon taksi biru, dikarenakan Badrun merupakan orang yang sangat mandiri, dengan tertatih-tatih dia pergi ke rumah sakit dengan taksi biru sendirian. Sesampainya di rumah sakit, dia pun segera ke Unit Gawat Darurat, dan disanalah dia segera mendapatkan pertolongan awal, dan vonis pun sudah diketuk, dia terkenal tipes dan mengharuskannya untuk istirahat di RS tersebut.

Apa boleh buat kalau begitu mba.” Katanya sembari dengan bangga dia mengeluarkan kartu assuransi dari dalam dompetnya.

Disini bisa pakai paijo asuransi ya suster?” katanya.

Setelah itu, suster tersebut bersedia membantu untuk mengurus semuanya, dan dia pun akhirnya di rawat di bangsal kelas VIP (bukan Very Impolite Person lo😀 ). Aku memang tidak salah bekerja di kantor yang sekarang, semua biaya kesehatan ku pun dikover dan mendapatkan tempat yang terbaik, kalau begini caranya aku akan semakin giat untuk bekerja, karena aku sudah termasuk karyawan yang “secure” jika ada masalah kesehatan menggangguku, gumam Badrun dalam hati.

Seminggu kemudian, diapun diperbolehkan pulang, dikarenakan kondisi badan yang sudah berangsur baik dan memungkinkan dirinya untuk segera pulang. Dia pun segera ke bagian administrasi untuk menyelesaikan semua pembayaran.

Bagaimana Pak, semua sudah ditanggung sama Asuransi Paijo kan?” katanya bersemangat.

Pak Badrun, kami sudah mengirim berkas biaya bapak ke asuransi paijo, namun belum ada jaminan dan kepastian dari asuransi yang bersangkutan Pak. Jadi Bapak harus membayar sendiri terlebih dahulu, jika ingin segera pulang.” Penjelasan bapak petugas pembayaran.

walah..pie to iki, lha wong aku ki karyawan teladan, lah kok sakit aja mbayar dewe” spontan bahasa jawanya keluar dan dia pun diam seribu bahasa sembari membayar semua biaya pengobatannya, nominal yang sangat lumayan dan menguras tabungannya.

Kecewa dan marah, itu  yang ada di dalam hati Badrun. Semua yang dia lakukan tidak ada gunanya, bekerja giat sampai mengabaikan kondisi badan pun pernah dijalaninya, namun begitu KO dia tidak mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya.

Permasalahan yang di alami mas Badrun, mungkin juga pernah ada pada kita, pernah kita alami. Padahal kita yakin bahwa kesehatan kita sudah dijamin oleh pihak asuransi yang disediakan perusahaan tempat kita mengais rejeki. Point yang ingin saya sampaikan ialah, jika dalam bekerja ingatlah selalu untuk menjaga kesehatan kita, jangan lah kita menjadi seorang yang sangat gila kerja dan mengabaikan semuanya, dan pastikan kita dilindungi oleh asuransi yang sangat bonafid, sehingga bagitu kita mengadukan klaim, hal itu akan lebih memudahkan kita, tidak hanya menjadikan masalah yang berlarut-larut di belakang. (THS)