Hujan rintik ini mulai membasahi dan mendinginkan kota Yogyakarta, yang hampir selama seminggu  diterpa dengan panas yang luar biasa. Udara dingin ini pun segera masuk kedalam rongga dan sel hidupku. Menenangkan pikirku yang baru saja berkecamuk dengan rasa, bergelut dengan ego hati serta ingin rasanya aku segera membawa keluar semua keluh kesah ini.

Di pojok kelas itu, aku mulai menulis dan mengisi diary kecil ku. Hari ini merupakan hari pertama aku masuk sekolah menengah atas, dimana proses transisi ini akan segera dimulai, proses pendewasaan ini akan segera aku lakukan dan semua itu dimulai dengan adanya tatapan mata sayu, namun mempunyai aura yang luar biasa menggoda. Aku tidak tahu siapa dia, aku hanya tahu namanya saja, pun aku baru saja bertatap mata dengannya, hanya dalam hitungan detik, aku pun telah hanyut dalam buaian matanya, mata sayu namun menusuk tajam, menandakan ketegasan dalam bersikap, dan mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi.

Dear diary : ahhhhh…aku merasa bodoh tau…?? Aku kan baru saja melihatnya belum juga mengenalnya, tapi kenapa aku seperti mau jatuh……..ahhhh aku ga mau jatuh, aku ingin menggapai cinta..bodohkah aku ya?andai kamu tadi melihatnya, waktu orang itu berpidato di depan siswa baru, andai kamu melihat tatapan matanya, giginya….tau ga?giginya rapi dan sangat putih…idihh sampai segitunya ya aku memperhatikan dirinya..

“eh Nit, kamu lagi nulis apaan?” segera aku menutup diary kecilku ketika Marry datang menghampiri dan mengagetkanku, segera aku tersadar dari lamunan konyolku.

ah enggak, aku Cuma mbikin agenda hari ini aja, jadi supaya semua nya terjadwal dengan rapi” sahutku sekenanya…

Marry merupakan teman yang aku kenal pertama kali, dan kebetulan juga kami berdua satu kelas, yaitu di kelas 1B. Hari pertama sekolah merupakan hari yang teramat membosankan dan ingin aku segera mengakhiri semua uba rampe Masa Orientasi Siswa. Siang itu setelah gerimis mulai mereda dan mentari menampakkan sinarnya, semua siswa baru digiring kelapangan untuk melakukan aksi baris berbaris, dan hati ini mulai berbunga ketika aku melihatnya lagi, kebosanan yang membelenggu ini mendadak sirna. Tepat berdiri 2 meter di depan mataku dia berada. Luluh lantak perasaan ini, desir hati ini semakin kuat mengguncang dan hasrat pun ingin segera aku luapkan saat itu juga.

Kakak kelas itu membentakku, lamunanku bubar, gelagapan dan keringat ini menetes dengan derasnya. Semuanya menjadi gelap, semuanya menjadi dingin dan ketika mata ini mulai terbuka, aku sudah terbaring di ruangan UKS sekolah baruku.

“akhirnya sadar juga, maafkan kakak kalau bersikap terlalu keras, sempat khawatir juga, soalnya sudah hampir 3 jam ini dek Vanda pingsan.”

Kembali aku melihat mata sayu itu lagi, dan kembali aku hanya diam membisu dan terpana.

Dear diary :”Tidak terasa 1tahun sudah semenjak aku meninggalkan bangku sekolah menengah atas, masih lengkap dengan semua memory yang membekas, tatapan sayu itu. Diary, kenapa aku tidak mengatakannya ketika ada kesempatan..ahhh sudah 4 tahun berlalu dan dia selalu ada dalam hidupku..

Ohhh diary kecil ku, aku sangat merindukannya, kenapa dia menghilang bagaikan ditelan bumi, kenapa dia tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Wahai pujaan hatiku dimana kah engkau berada.

Hiks..hiks..aku menangis beneran tau.. coba kamu rasakan tetesan air mata yang membasahi kulit tuamu itu diary, ahhhh…sudah berapa ratus kali aku selalu menangis dihadapanmu dan kau pun tetap saja…..

Diary, umurku sekarang udah 18 tahun, dan semua rasa itu hanya mengumpul menjadi satu dan berpusat kedalam lingkaran mata sayu itu saja. (THS)