“Ah..,kamu tahu ga sih..kapasitas kamu itu masih sebatas kotoran hitam di jari kelingking ini, jadi belum pantaslah jika kamu berusaha keras untuk sekedar meyakinkannya, belum pantaslah jika kamu beradu argumen dengannya, karena pengalaman kamu itu sangat minim, jadi ilmu kamu juga kurang. Sudahlah kamu itu diam saja, kamu itu manut dan menurut saja. Apa sih, yang sebenarnya kamu harapkan? Apakah kamu ingin suatu penghargaan? Apakah kamu ingin terlihat pintar?”

“heh..kamu tahu pasti kan kemampuanku, kamu tahu kan kapabilitasku, setiap kali ingin berdebat dengan seseorang, aku pasti mempunyai data, aku mempunyai suatu alasan yang logis, dan semua yang aku debatkan pasti penuh dengan berbagai dokumen terkait. Okelah dari segi pengalaman aku kalah telak, namun dari segi ilmu aku sudah hampir bisa dikatakan sama, dan kemampuan analisisku sudah jauh lebih baik lagi, jika aku bisa menguasai itu dalam 5 menit kenapa juga aku harus menunggu 5 tahun untuk berdebat dengannya. Dan kenapa juga argumen ini ditolak mentah, padahal aku yakin, hal itu pasti tepat dan argumen itu landasannya sangat kuat”

Sering kali, ketika kita menginjakkan kaki kita untuk pertama kali dalam dunia yang dinamakan dunia kerja, kita pastilah mengalami hal tersebut, mungkin juga memang ada aturan yang tidak tertulis :

Pasal 1. Senior itu pasti benar

Pasal 2. Jika senior salah, lihat kembali pasal pertama

Apakah kita akan terus seperti itukah dalam bersikap, jika memang pekerjaan yang kita lakukan memang benar?

Ahhh kalau menurut saya, tidaklah. Kita harus mengadu argumen kita (ngeyel tapi punya dasar) dengan senior, jika memang data yang dipergunakan senior kita salah.

“emang kamu sering melakukannya mas?”

Kalau mau jujur aku sering melakukannya, jika hal itu memang tidak sesuai dengan apa yang aku lakukan, dengan data yang ku kupakai dan kalau memang itulah adanya, Namun, jangan lupa membawa semua bukti yang kuat sebelum adu argumen.

Tentu saja ada etika yang harus senantiasa kita jaga, dikarenakan, kita biasanya bekerja dalam sebuah tim, dan ketika kita berdebat, hal itu juga untuk kemajuan tim dan progress perkerjaan yang sedang kita lakukan. Perlu diingat dan digaris bawahi, jangan sampai terjadi debat kusir, jika hal itu sudah dirasa akan terjadi, maka, lebih baik kita mundur saja, meskipun hal itu terasa pahit, setidaknya kita sudah menyampaikan opini yang sesuai dengan data.

Kita tidak usah takut untuk selalu mendebat, meskipun yang kita debat itu seorang ekspat (tenaga kerja asing), mereka juga kan manusia yang makan nasi dan bisa juga melakukan sebuah kesalahan. So be proaktif to show the right data.

Sekali lagi selamat datang dalam dunia kerja, dunia yang sangat berbeda dengan bangku kuliah, dunia dimana kita akan tergilas jika kemampuan kita tidak meningkat (stagnan), kenapa? Karena kita akan menjadi orang pertama yang akan di PHK ketika perusahaan kolaps, dikarenakan kemampuan kita yang pas-pas an dan tidak ada peningkatan sama sekali, meskipun kita sudah berkerja selama puluhan tahun.

Ada sedikit hal yang bisa kita lakukan selama kita bekerja :

  1. Be Smart
  2. Be Proaktif
  3. Jangan pernah merasa pintar, merasa bodohlah, dikarenakan dengan bodoh, maka kita akan berusaha untuk selalu mencari tahu dan terus menggali semua informasi.
  4. Berani untuk berdebat dengan berdasarkan data dan fakta.

Baik yang sudah berkerja, ataupun fresh graduate yang sedang memulai untuk bekerja, teriring teriakan : Selamat berdebat, selamat beradu argumen dan bersemangatlah selalu untuk bekerja dengan penuh rasa ingin tahu, dikarenakan semakin tinggi tingkat keingin tahuan kita, maka itu semua akan semakin bagus untuk kemapuan kita dan masa depan kita (THS).