Beberapa waktu yang lalu, mungkin tepatnya 5 bulan yang lalu..hehehehe..saya bersama rekan kantor melakukan refreshing pikiran, adapun lokasi yang kami tuju ialah jalan-jalan sambil menikmati indahnya teh berjalan, eh jalan-jalan di kebun teh di Gunung Mas Mbogor.

Kebetulan tema yang diambil ialah backpakeran, dikarenakan dengan methode ini kita bisa menghemat biaya, dan bisa lebih menikmati hidup. Tepat pukul 06.00 WIB, saya sudah siap dengan peralatan mendaki saya, tas kapasitas 30liter telah diisi dengan dengan satu sleeping bag, matras, bekal makanan siap saji dan serta mengandung energi seperti roti tawar dengan selai, sosis siap makan, dan tak lupa pula beras pun uda masuk dalam kantong plastik dan siap direbus di medan penginapan. Pagi itu dari Mampang Prapatan, kami mengendarai Kopaja 57 jurusan Blok M – Pasar Rebo, ongkos yang kami keluarkan ialah 2000 rupiah, dan kebetulan kopaja tadi Full dengan AC (Angin Cendela) dan bergerak sangat cepat di pagi yang agak sedikit mendung yang menggelantung memayungi Jakarta.

Jam pun sudah menunjukkan pukul 6.30, dan kami pun sudah berada di pasar Rebo, lalu lintas cenderung masih sepi, namun sesepinya Jakarta masih saja kendaraan lalu lalang dengan seringnya. Dari pasar rebo kami kemudian naik bis jurusan Tasikmalaya. Penuh sesak bis ukuran ¾ yang kami tumpangi. Dengan bermodalkan uang 12.000 kami pun mulai menikmati detik demi detik perjalanan kami, cuaca pun semakin mendukung perjalanan kami, semilir dingin AC pun membikin kami terkantuk-kantuk.

Dua jam pun akhirnya kami tiba juga di pintu gerbang kebun teh Gunung mas, dimana kami telah disambut oleh segarnya udara pegunungan. Udara yang membebaskan kami dari belenggu polusi Jakarta.

Dan wisata ini akan segera dimulai, namun perut ini terasa memanggil. Dan saya putuskan untuk membeli 2 buah arem2 yang dijajakan seorang ibu paruh baya. Udara dingin menyegarkan ini membuat saya semakin lahap memakan arem2 yang dibungkus dengan sangat aneh menurut saya.

“Welcome…stranger”

Setelah melakukan peregangan sekenanya, kami kemudian mulai menyusuri kebun teh tersebut, nampak pohon teh yang telah lapuk dimakan usia, mulai memudar dan mengering. Langkah demi langkah ini terus menjejak, dan semakin lama rute ini pun semakin menggairahkan, masih dikelilingi oleh hijaunya pohon teh dan udara yang semakin menyegarkan. Ada kalanya menanjak, tidak sedikit pula ada turunan yang harus kami lewati, semak belukar pun mewarnai perjalanan kami.

“mulai untuk mendaki”

“Menuruni lewat tengah kebun Teh”

“masi turun…”

“i’m Veriiii Teaaaa”

“wuiii ada semak belukar juga”

Setelah beberapa lama, kami naik dan turun sepanjang kebun teh digunung mas, kami pun menemukan sebuah mata air yang teramat sangat jernih. Kami pun segera membasuh muka ini dengan segarnya mata air yang menyembul di gunung mas tersebut.

“air yang sangat jernih”

Perjalanan pun masih dilanjutkan, naik dan turun, melewati indahnya kebun teh. Sampai akhirnya sampai juga di pemberhentian terakhir, yaitu di masjid atta’awun. Dan dilanjutkan menginap di sekitar kebun teh dengan membuka tenda dan menikmati indahnya malam dengan jagung bakar.

“indahnya…”

“from different angle”

“indahnya kebersamaan…”