Tidak terasa, tiga tahun sudah saya menjalani hidup di Ibukota, tiga tahun dengan berbagai macam lika dan liku yang silih berganti menghampiri. Saat ini hampir 5 hari Ramadhan datang menghampiri, dan ini merupakan tahun ketiga pula saya berpuasa di Jakarta. Pada awalnya memang terasa agak sedikit aneh, banyak hal yang hilang, banyak hal yang berbeda dan sangat baru. Saya tidak lagi berbuka dengan Kolak buatan Pisu saya, sayur dipadukan tempe bawang uyah yang di goreng juga oleh Pisu tercinta. Kadang kala saya kangen dengan semua suasana tersebut.

But. live must goes on, dan saya pun menjalani semua ritual baru di Ibukota ini. Bangun pagi biasanya pukul 04.00 WIB, dengan mata masih separuh terbuka, selanjutnya seperti biasanya sahur dengan sekerat roti ditambah dengan segelas susu coklat, entah dikarenakan malas untuk mencari makan atau memang belum terbiasa makan pagi, jadi asal isi saja.

“Sekerat Roti dilapisi Selai”

Setelah semua ritual pagi itu selesai, dilanjutkan dengan melakukan ibadah subuh, dan menunggu jadwal utk bergerak ke kantor. Namun, puasa tahun ini agak berbeda, Jakarta masih saja diguyur hujan, padahal bulan sudah masuk musim ke 2 penanggalan Jawa. Setelah kewajiban dikantor terpenuhi, tepat pukul 16.00 saya biasanya sudah bersiap untuk pulang dari kantor, kurang lebih 30 menit saya telah sampai di kost, bersiap untuk berbuka puasa, mulai dari mencari menu diseputaran Tegal Parang sampai di depan Trans TV, banyak menu yang telah tersedia, mulai dari kolak, es buah, makanan kecil, es selendang mayang, serta lauk pauk yang menghias dengan cantiknya.

“Kadang dengan Teh Panas”

Es buah, lauk dan sayur biasanya menemani sore hari saya. Saya jarang sekali membeli nasi, dikarenakan sudah menanak sendiri. Sekitar pukul 18.00, saya pun segera menyegerakan untuk berbuka, namun pada saat saat seperti ini saya selalu ingat akan masakan yang dibuat  oleh pisu saya. Walaupun cuma kolak yang berisi dengan pisang dan ketela, dengan teh tubruk panas. ahh saya kangen dengan Pisu saya.

Ibu, selamat berbuka puasa

Ibu, doa lirih anakmu ini senantiasa menemanimu dalam sahurmu.