Kita semua pasti sudah mengetahui keberadaan Gunung berapi yang diapit oleh tiga kota besar di Jawa tengah  yaitu Yogyakarta, Magelang serta Klaten.  Adapun Kondisi pada saat ini Gunung berapi tersebut tengah melakukan aktivitasnya, menata diri dan memperbaruhi keadaan, dengan jalan menyemburkan material vulkanik ke luar dari perut Merapi. Ketika Merapi tengah melakukan hajatnya, kita tidak bisa meminta untuk menundanya. Jika hal tersebut harus terjadi, maka terjadilah. Dentuman dan gerumuruh akan terdengar, awan panas pun akan mengepul pekat ke angkasa dimana selanjutnya akan terbawa oleh angin.

“Letupan Merapi”

Di kalangan masyarakat kita, beredar banyak sekali pemikiran, pendapat, yang diikuti dengan  multi penafsiran. Ada sebagian dari mereka yang menyikapi letusan Merapi itu merupakan hal yang wajar, dikarenakan hal itu merupakan siklus tahunan dari Merapi, dan juga dikarenakan oleh adanya kemajuan teknologi yang semakin luar biasa majunya serta didukung oleh pakar-pakar Gunung api yang handal, yang membuat mereka menyikapi meletusnya Merapi secara logis. Namun dibalik itu semua, ada juga masyarakat yang masih menganggap hal itu sebagai peristiwa mistis, dikaitkan dengan penunggu Merapi yang sedang marah, mempunyai gawe dan akan meluluh lantahkan semuanya.

Saya disini akan melihat hal itu dari kacamata saya pribadi. Ketika kita berbicara mengenai gunung Merapi kita akan dapat melihatnya dari berbagai aspek, seperti aspek budaya, aspek teknologi serta mistis. Aspek ini menurut saya saling kait mengkait, dimana dengan teknologi kita dapat mengawasi serta memantau aktivitas dari Merapi. Kapankah Merapi akan meletus, bagaimana arah awan panasnya, jarak aman tinggal dsb. Sebagian orang juga ada yang lebih mempercayai ilmu titen dan hal-hal yang berbau mistis, Dengan mengandalkan intuisi dan kebiasaan yang mereka rekam selama ini, akan menjadi sebuah petunjuk dan tolok ukur, kapan mereka harus waspada dan kapan mereka harus bersikap biasa, padahal dari pakarnya sudah menyerukan untuk segera mengungsi, namun mereka tetap saja tidak beranjak.  Kalau kita melihat hal ini, merupakan tindakan yang konyol dan tidak masuk akal. Disini kita juga bisa melihat adanya budaya yang masih kental dimasyarakat jawa pada khususnya. Dimana mereka juga mengaitkan hal ini dengan para penunggu merapi yang sedang “do something”. Selanjutnya mereka akan melakukan selamatan yang dipimpin oleh juru kunci Merapi ( semoga Alloh menerima semua amalmu mbah), dengan berbagai ragam upacara adat dan uba rampenya, seperti juga memasang kelontong kupat dari janur kuning didepan pintu rumah.

“Menjadi sebuah Memori”

Ketiga hal yang saling berkaitan, sebagai seorang warga Jogja, saya tentu saja menginginkan Budaya ini tetap lestari, dan tetap ada. Baik itu juru kunci, keraton dan semua ritual-ritual budaya yang berada didalamnya. Kemajuan teknologi, janganlah menghapus budaya tersebut, budaya yang tentu saja masih diselimuti dengan aura mistis.  Saat ini banyak sekali budaya sudah hampir tergilas  dan musnah dengan kemajuan jaman. Selain itu kita sudah tidak peduli lagi dengan alam. Sosok almarhum mbah Marijan, menurut saya, merupakan sosok seseorang yang bisa  tampil sebagai kontrol budaya, dimana bisa menjembatani antara Budaya, keseimbangan alam dengan pesatnya teknologi.

Kenapa?

Saya melihatnya dari kerangka seorang pecinta alam, sebagai seorang yang kadang bermain-main di gunung di pulau jawa, saya tidak rela jika lingkungan alam ini dirusak oleh oknum yang mementingkan dirinya sendiri. Nah, saya melihat alm. Mbah Marijan ada di posisi ini. Saya tidak melihat beliau dari kacamata mistis, dikarenakan logika saya tidak akan mampu menjangkaunya. Ya, sosok karismatik itulah yang saya dilihat ada dalam Almarhum.

Ketika Alam sedang berbicara dengan kita semua dengan caranya, kita cenderung untuk mengabaikannya dan tidak menghiraukannya, dan ketika alam sudah marah, barulah kita risau, galau akan semuanya. Semoga kedepan akan semakin banyak sosok-sosok seperti Beliau yang peduli akan kelestarian alam, sehingga kita semua akan hidup bersinergi dengan alam Indonesia.

Sewaktu Merapi meledakkan amarahnya, saya berandai, jikalau Sri Sultan HB IX masih ada, mungkin mbah Marijan akan bersedia untuk mengungsi.

(THS, Mampang Prapatan 031110, setangkup rindu akan Merapi)