Sudah hampir satu bulan lama nya pena ini tidak menggores agenda kecilku, dan selama waktu itu pula aku hanya menghabiskan waktu ini untuk sekedar termenung. Aku sadar bahwa telah banyak waktu produktifku yang telah terbuang dengan sia-sia, akan tetapi, pikiran serta hatiku masih belum mau untuk bersinergi dan mencoba untuk menggerakkan tubuh ini untuk melakukan hal yang lebih menarik lagi.

Mentari pagi di bulan November itu telah menunjukkan mukanya, kuning keemasan dengan sedikit rona kemerahan di sampingnya. Masih dengan diselimuti perasaan malas, aku mencoba untuk menggoreskan pena ini. Satu persatu agenda pun sudah mulai tersusun, walaupun aku sendiri tidak yakin mampu untuk menjalankan semuanya. Hampir satu setengah jam aku menyusun agenda mingguan ini, banyak terlihat coretan-coretan disana sini, namun aku merasa cukup puas, terlepas apakah aku akan mampu untuk menyelesaikannya.

Setelah tertunda lama, akhirnya aku harus mulai untuk menemui satu persatu tokoh yang akan aku wawancarai, dimana kemudian akan aku kumpulkan menjadi satu kesatuan inspirasi dibalut dalam sederhananya sebuah angan dan mimpi.

Pagi buta aku sudah bangun, kurang lebih pukul 3 dini hari, aku mulai sibuk mempersiapkan semuanya. Setengah jam kemudian, setelah selesai berkemas, aku segera meluncur ke kawasan taman suropati di daerah Jl Imam Bonjol. Dingin sangat menusuk pagi itu, namun tidak begitu aku pedulikan. Selang beberapa waktu, akhirnya aku telah sampai. Mata ini masih mencoba mencari dalam sayu pagi hari. Mata ini pun masih belum menemukan sosok orang tersebut, namun rupanya telinga kanan ku mendengar sayup-sayup suara gesekan sapu lidi yang menggores jalan..”srek..srek…srek..”

“eh..bapak sudah ada disini ya..saya kirain hari ini libur”

“…Libur bagaimana Nak, walaupun kalender berwarna merah, bapak ya harus tetap menyapu di daerah Imam Bonjol ini..”

Pak Bejo, masih terus menyapu jalanan itu, aku pun menunggu di pos penjagaan yang letaknya tidak jauh darinya. Tepat pukul 5 pagi, pak Bejo berjalan kearahku, sembari memanggul sapu tuanya. Nampak pula keringat itu mengalir dari wajah keriputnya, wajah yang telah mengalami berbagai macam zaman serta manis getirnya kehidupan.

“..mbok minum terlebih dahulu pak, saya lihat dari tadi bapak menyapu terus..?” tegurku

Segera diambilnya tempat air minum dari botol minuman mineral bekas, diteguknya setetes demi tetes. Kemudian disusul asap yang keluar dari rokok kretek yang dinyalakannya.

“..Ya beginilah setiap pagi nya kegiatan Bapak, Nak..sampai senja disore hari kegiatan ini akan diulang dan terus diulang..”

Bapak pun segera menghela nafas panjang, dihisapnya rokok itu dalam-dalam…

“…Nak, kalau bapak tidak bekerja, bagaimana bapak dan ibu bisa makan?..bapak bersyukur masih bisa bekerja, masih bisa memberikan uang jajan untuk cucu bapak. Mungkin juga hal ini dikarenakan keadaan bapak dari keluarga miskin, jadi lah memang harus terus berjuang. Namun yang perlu diingat bapak menikmati ini semua, dan pantang bagi bapak untuk mengeluh..”

Tertegun juga aku mendengar penjelasannya, ingin rasanya aku berteriak bahwa negeri ini tidak adil terhadap rakyatnya…ahhh..mungkin hal itu hanyalah ungkapan kekesalanku saja.

“Bapak, berangkat dari Cinere sekitar jam 3an, sampai disini jam 4an. Kadang bapak langsung menyapu jalanan, selanjutnya kadang bapak rebahan di bangku itu Nak..”

Kulihat bangku taman, yang terbuat dari beton ada dibeberapa tempat. Makin nanar mata ini mencoba untuk membayangkan, kondisi fisik yang begitu renta harus menjalani ini semua, namun dera semangat itu dapat aku rasakan. Beberapa saat setelah berbincang, kembali lelaki tua itu berjalan untuk menyapu jalanan yang mulai dipenuhi dengan dedaunan yang jatuh tertiup angin.

Banyak hal yang aku dapatkan pagi itu, terutama tentang artinya sebuah semangat, dimana semangat itu bisa kita pergunakan untuk berjuang demi orang yang kita sayangi. Kumulai untuk menuliskan semua “pitutur” dan hasil perbincangan kami pagi itu, dengan sesekali kamera Nikon D3000 ini mulai membidik beberapa momen-momen kecil yang terjadi pagi itu.

“terima kasih Pak..saya pulang dulu ya..” pamitku

Jam pun telah menunjukkan pukul 08.00 pagi, dan aku bergegas pulang untuk menyusun semua data yang aku dapatkan pagi itu. Perjalanan baru saja dimulai teman…. (to be..)