Sebal dan benci ketika aku mendengar namamu..

Ingin rasanya aku menonjok hidungmu jika melihatmu..

Goresan hati ini terus aku tumpahkan melalui coretan coretan berwarna merah capital, diatas kertas A4 warna putih. Suasana hati yang sangat panas ini, semakin menjadi dengan ditambah cuaca Jakarta yang sangat menyengat siang itu.

 

“Dini, kamu itu kenapa..?”

 

Suara kakakku memecahkan konsentrasi marahku, bukanya tambah tenang, namun amarah ini semakin menumpuk. Segera aku keluar dari kamar, mengambil kunci motor Mio ku dan menghilang dari rumah saat itu juga. Terlihat wajah bengong yang terpancarkan dari wajah kakak, namun aku tetap tidak memperdulikannya.

Menyusuri jalan Jagakarsa yang lengang siang itu, aku pun terus berpacu di atas Mio hitamku. Selang beberapa menit, gerbang pintu masuk kebun binatang Ragunan sudah terlihat, segera aku membelokkan motor ke arah parkiran motor yang letaknya disebelah utara kebun binantang ragunan.

 

“wadhuhhh..saya lupa bawa STNK bang, boleh masuk ya?” pintaku

 

Akhirnya dengan jurus muka memelas, aku pun dapat masuk dan memarkirkan motor mungilku. Begitulah aku, Dini Amanda Puspasari, masih kuliah semester 2 di Fakultas Teknik, disebuah Universitas Negeri di kota Yogyakarta.  Ketika aku sedang dilanda kalut pastilah aku lari ke kebun binatang, entah kenapa, namun aku bisa mengekspresikan semua kekalutanku.

Segera saja aku berkeliling tanpa arah, nampak kulihat penjual kerak telur tengah melayani pembeli, dan ada pula anak kecil yang bermain dengan balonnya..

 

“ihhh..ingin rasanya aku menjahili anak itu dengan meletuskan balonnya…”

 

Akhirnya kutemukan bangku disebuah taman yang sejuk di dalam taman Ragunan. Kurebahkan pelan badan ini, kuhirup udara yang lumayan segar menyejukkan di siang panas yang mendera Jakarta siang itu. Hampir saja aku lupa dengan masalahku, namun ingatan itu kembali muncul lagi, menari dan berlari lari dikalbuku.

 

Aku kan sudah menganggapnya sahabat..

Pun aku tidak pernah ada rasa dengannya..

Jangankan rasa, mengingatnya saja tidak pernah..

Dian itu kan sahabat baikku, Dian itu ahhh sudahlah, nasi sudah menjadi bubur…

 

Aku tidak pernah akan menyangka bahwa perkenalanku dengan Dodi, cowok baru Dian akan membawa dampak yang sangat buruk dalam persahabatanku dengan Dian. Sudah hampir 1th, kami sebagai anak rantau di kota Yogya bersahabat, walaupun kami berbeda daerah asal, beda jurusan, namun  persahabatan telah menyatukan kami, kami tidak terpisahkan, dimana ada Dini disitu ada Dian. Namun pertemanan ini menjadi aneh, semenjak perkenalanku dengan cowok itu.

 

“dasar..apakah semua cowok itu memang bisa dengan mudahnya untuk mengatakan cinta serta mengumbar kata2 sayang?”

“namun ketika mereka bosan, apakah mereka akan dengan mudahnya untuk melupakan dan meluapkannya ke sosok yang lain?”

Dini..bodohnya kamu…

Ahhh..aku pikir aku tidak salah, aku hanyalah sosok cewek yang senang bergaul, senang menambah teman dan yang jelas tanpa sekalipun aku membawa rasa. Terus terang saja aku tidak bisa merubah sikap dan sifatku ini, ya its me..Dini

Namun kadang sikapku yang seperti ini sering disalah artikan oleh cowok2 itu. Memang sih, aku itu cantik..(hihihihi), dengan tinggi 160cm, berat badan 45an, rambut hitam lurus terjuntai sebahu dengan paduan kulit kuning langsat, dan ditambah lagi kalau aku ketawa akan nampak lesung pipit yang menggemaskan..

 

“..ahh, bukan salah Dini lah kalau Dini dilahirkan cantik..”

 

Harus dengan cara apalagi aku menjelaskan semua ini kepada Dian, semua pikiran dan energi ini sudah aku curahkan, namun tetap saja Dian belum memberikan respon psositif terhadapku. Aku tahu bahwa Dian itu orangnya keras, namun kenapa dia tidak memercayai semua penjelasanku.

 

“dasar cowok sialan…”