Kusibakkan tirai jendela kamarku, nampak sang mentari telah menunjukkan sinarnya. Teman, panggil saja aku Annita, seorang gadis dari kota budaya yang sedang belajar untuk memaknai hidup, belajar untuk menegakkan kedua kaki ini diatas kerasnya kehidupan, dan sedang belajar untuk menjadi sosok yang lebih tegar serta menjadi seorang gadis yang tangguh.

 

Semua ini dimulai saat aku telah menyelesaikan sekolah pendidikan kedokteran gigi ku di salah satu universitas negeri  di Yogyakarta, kota kelahiranku tercinta. Aku pun segera berpetualang di bumi Borneo, disebuah kawasan kecil yang ditempuh dengan 2 hari perjalanan termasuk mempergunakan perahu boat kecil. Aku sangat menikmati diriku saat itu, saat dimana untuk pertama kali aku  terpisah jauh dari orang tuaku, dimana aku mencoba untuk menopang semuanya serta aku mempunyai kontrol penuh akan diriku sendiri. Mungkin itulah awal mula nya Annita mencoba untuk mengepalkan tangannya dan berjalan tegak diatas kaki nya sendiri, dan berkata

“aku bisa!!”

 

“Nit, kamu tidak pernah kost ya sebelumnya? “ kata temen ku

 

Terus terang aku malu mendengar pertanyaan itu, kenapa? Ya hal itu secara tidak langsung menilai aku sebagai sosok yang belum bisa mandiri dan masih terlabeli sebagai anak mama.

Terus terang aku tidak suka, dan jika ada hal yang kiranya aku tidak suka, maka kecenderungaku ialah untuk selalu berdiskusi dengan diriku sendiri, dan aku tidak pernah meminta pendapat orang laen. Namun aku tidak pernah peduli dengan itu semua, asal kan aku nyaman, its ok for me.

 

“loh..Bu Nita kok ngalamun di depan jendela ada apa?” kata seseorang yang membantu ku menjalankan usaha kecilku dikota ini.

 

“ah..simbok..tidak ada apa2 kok, hanya saja teringat akan teman2 yang ada di Kalimantan sana”

 

Kutarik nafas ini dalam-dalam sebelum untuk beberapa waktu aku tahan dan kukeluarkan lagi.

Entah kenapa pagi itu aku merasa galau, aku sendiri tidak mengetahui kenapa aku bisa sampai galau seperti itu. Apakah dikarenakan sebentar lagi aku akan memasuki jenjang usia kepala 3?

Entahlah..aku tidak ingin berbicara tentang hal yang berkaitan dengan angka-angka, dikarenakan itu semua merupakan hal yang pasti, sedangkan kegalauan hati ini tidak lah seperti itu.

Ku ingin merengkuh hal itu, ku ingin melengkapi keping-keping puzzle hatiku dengan warna yang ceria, dengan alur yang sempurna.. namun aku belum pernah bisa menemukan dimanakah puzzle-puzzle hati yang lain itu tersebar. Pernah pada suatu saat aku telah mengumpulkan kepingan itu, namun ketika akan kusatukan dan kubingkai dalam hati ini, semuanya tercerai berai, hancur berantakan tanpa bisa aku pertahankan.

“puzzle hati”

4 peristiwa bukan merupakan waktu yang singkat, selama 4 peristiwa itu lah aku berjuang keras untuk melengkapi semua ini. Seperti apakah aku menilai diriku? Seberapa pantaskan aku menyandang nilai ini? Ahh jika semua ini dari sudut pandangku, aku pastilah menilai diriku sebagai seorang yang sempurna. Aku mencoba untuk menelisik lebih jauh kedalam hatiku, kedalam sanubariku, namun disana pula aku tidak pernah menemukan jawaban yang pasti. Aku hanya menemukan bahwa semua ini harus sesuai  dengan kriteria ku, jika tidak maka gerbang itu dengan sendirinya akan menutup, tanpa ada seorangpun yang sangguh untuk membukanya.

Bodohkah aku TUHAN? Entahlah, namun aku ingin membingkai hidupku ini dengan indah, aku ingin semuanya nampak sempurna. Aku tentu saja boleh memilih, aku tentu saja boleh menolak. Namun sang waktu ini tidak pernah mau tahu dan peduli dengan semuanya..

 

..please jangan sebut lagi dengan angka, dikarenakan aku akan sebal dibuatnya..

 

Pandanganku pun tertuju kepada seorang anak kecil yang berlalu didepanku, mengingatkanku akan masa bermainku, mengingatkanku akan polosnya aku dulu. Selalu bersenandung tanpa harus memikirkan beban hidup.

Nita, kamu uda beda sekarang, bukankah kamu sekarang telah menjadi sosok seorang gadis dengan semua warna warninya? Tentu saja kamu tidak lah seperti anak kecil itu, ingatkah bahwa kamu menginginkan kehidupanmu sendiri?

Ahhh…aku tidak ingin sendiri..aku tidak mau sendiri..namun, ya TUHAN apakah sedemikian besarkan kesalahanku?

Semilir angin pun menerpa kerudung warna abu-abu muda ku..dan untuk beberapa saat bisa menenangkan hatiku…entah… (to be)

 

“(ths) semilir angin di pinggiran kota jakarta membuat peningku sedikit mereda”