Sebuah nama, yang pada awalnya saya pikir seorang laki-laki.  Namun begitu mendenger namanya ternyata dia ialah seorang perempuan yang mempunyai profesi sebagai pembantu rumah tangga.

 

“tri harso could you help me, I don’t understand with my maid say, could you ask her, what she want to say?”


Sebuah permintaan dari teman expat saya. Kemudian saya menelpon Nardi tersebut,

 

“haloo..ibu, saya teman dari pak kenichi, ada yang bisa saya bantu untuk menyampaikan pesan kepadanya?”

“gini mas, saya kan mau masak dan kebetulan gas nya habis. Saya tidak tahu harus membeli dimana?

“knowledge”

Pikiran ini kemudian melayang dan tertuju kepada saudara saudara kita yang menjadi pahlawan devisa di timur tengah Malaysia, singapura, hongkong dll. Dimana tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari majikannya, disiksa, gaji tidak dibayarkan dan bahkan pula ada yang pulang tinggal nama saja. Ya Tuhanku.

Kenapa hal itu bisa sering terjadi. Mungkin analisa saya masih dangkal dikarenakan hanya bersumber dari satu orang pembantu yang bernama Yu Nardi. Yu Nardi membukakan sedikit pandangan saya tentang banyak nya TKI yang merantau di Luar Negeri. Dari dia saya tahu bahwa tidak sedikit TKI kita yang sangat lack of knowledge, terutama masalah bahasa. Apalagi bahasa ini merupakan hal yang sangat krusial untuk menyampaikan apa yang diinginkan oleh majikan, jika majikan menginginkan sayur sop, namun sang maid masak sayur lodeh. Pastilah semua hal itu  jika dilakukan berulang-ulang akan mengakibatkan majikan marah, dan mereka akan cenderung untuk menganiyaya mereka.

Kenapa dan kenapa, mereka diberangkatkan dengan modal yang minim, setidaknya mereka harus mempunyai modal bahasa, dan bisa paham apa yang dimaksudkan oleh sang majikan. Ketidakpedulian lembaga pemberangkatan TKI, kurangnya perhatian pemerintah dan mungkin dikarenakan kondisi perekonomian keluarga yang miskin, membuat mereka “nekat” untuk menjadi TKI.

Salah satu dari sekian banyak problemantika yang melanda negeri ini. Ada banyak Yu Nardi yang keberadaannya tidak kita ketahui, kita pun tidak tahu bagaimana mereka bisa survive untuk hidup dinegeri orang dengan modal yang sangat minim. Salut untuk perjuangan mereka demi memperjuangkan nasib dan kehidupan.

Namun alangkah baiknya lagi jika mereka melakukan ini semua dengan perhitungan – perhitungan yang lebih matang, dan lebih mendapatkan perhatian dari pihak yang terkait.