Kabupaten Kotabaru adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Kotabaru. Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten pertama dalam provinsi Kalimantan dahulu. Dan di masa Hindia Belanda merupakan Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe dengan ibukota Kota Baru. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 13.044,5 km² dan berpenduduk sebanyak 290.651 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) dengan nelayan laut sebanyak 15.961 jiwa. Motto daerah ini adalah “Sa-ijaan” (bahasa Banjar) yang memiliki arti: Semufakat, satu hati dan se-iya sekata.

“kotabaru”

++++++

 

Setelah mengepak semua perlengkapan dan semua barang yang akan kubawa untuk mengarungi kalimantan, aku masih saja menanyakan kepada diriku sendiri, apakah aku memang telah siap untuk melakukan ini semua, jauh dari orang tua, jauh dari sanak saudara, dan sendirian di pulau seberang.

 

“..ahh aku tidak mau Nglokro, kan aku sudah berniat untuk melakukan PTT di kalimantan, semua ijin sudah aku peroleh, tinggal berangkat kesana, masak aku harus menyerah sebelum tiba di medan perang?”

 

Kadang antara niat yang telah aku bulatkan sering terbentur dengan ketakutan ketakutan tidak beralasan yang selalu menghantui diriku.

Singkat kata akhirnya sampai juga aku ditempat itu, daerah yang sangat terpencil dan jauh dari peradaban. Di sebuah kota kecamatan yang bisa dicapai dengan mengendarai feri melintasi sungai sarungan, selama 3jam, setelah itu dilanjutkan dengan naik kendaraan sejenis strada dengan uang tarif sebesar 75 ribu.

 

“………”

 

Aku tidak bisa berkata apa2 untuk pertama kalinya ketika aku menginjakkan tempat itu. Tanggapan dingin dari warga telah mengkerdilkan semangatku untuk mengabdi. Namun aku harus tetap menguatkan semangatku.

Segera aku menuju mess yang telah disediakan untuk ku, kulihat dan mata ini segera menyapu sekeliling tempat itu, sebuah rumah kecil dibelakang puskesmas tempat ku melakukan praktek, dimana air tidak ada, listrik pun belum tersedia,pun semuanya masih serba seadanya.

 

“………………………..”

 

Sekali lagi aku hanya diam, menatap nanar tanpa suatu arahan yang jelas, hanya mencoba untuk menguatkan tekat ini, membulatkan tekat ini untuk tidak menyerah akan perlakuan di hari pertama aku menginjakkan bumi di kota baru.

Ingin rasanya aku menangis saat itu juga, ingin meluapkan semua rasa yang tidak bisa aku ungkapkan, namun air mata itu urung unutk aku keluarkan, air mata itu aku simpan rapat bersama dengan tekat yang telah aku bulatkan selama beberapa bulan ini.

 

“…Annita apakah kamu bisa melalui semua ini semua?”

“pastilah aku bisa melampui ini semua, aku yakin sebenarnya mereka itu baik, hanya saja mereka belum mengenal akan diriku..pastilah mereka akan segera menerima keberadaanku di kota mererka ini…”

“..benarkah demikian..?

 

Kecamuk ini terus saja bergolak, adu pendapat, berdiskusi dengan diriku sendiri trus aku lakukan, tanpa aku sadari hari sudah mulai beranjak senja.

tidak ada listrik, tentu saja tidak ada penerangan.

 

“………………………………..”

 

Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat, segera aku menyalakan lilin yang aku beli dari warung yang letaknya tidak jauh dari mess yang aku tempati. Kupandangi nyala lilin kecil itu, dan tanpa aku sadari air mata ini mulai menitik membasahi pipi ku, bulir panas ini segera membasahi semua. Lilin kecil itu tetap saja diam memancarkan sinar redupnya. Masih dengan tetesan buliran panas, aku segera mengambil roti yang aku beli di bandara, kugigit perlahan dan ku mencoba untuk menelannya, dengan dipadukan dengan air mineral yang masih tersisa, aku menikmati malam pertamaku jauh dari keluarga, jauh dari semuanya.

 

Tidak terasa aku pun segera terlelap diatas meja kayu. Meninggalkan sejenak kegalauan hati ini.

 

++++++

 

Pagi itu, aku merasa harus lebih bersemangat untuk menggapai semua mimpi yang tengah aku rajut. Setelah merapikan semua bekal yang aku bawa dari Jogja, serta merapikan rumah dinas tersebut, aku segera mencoba untuk bersosialisasi dengan penduduk sekitar, mencoba untuk meraih hati mereka, untuk mencoba meraih simpati mereka. Selain itu aku juga minta tolong untuk disambungkan listrik ke rumah dinasku. Akhirnya setelah berputar putar ada juga yang bersedia untuk menawarkan bantuan, termasuk membantuku memasangkan sambungan listrik di rumah dinas kecil ini.

 

Semangat ini pun mulai terkumpul, dimana pada akhirnya aku bertemu dengan doker yang sudah terlebih dahulu praktek disana, bertemu dengan perawat perawat yang sangat baik hati dan peduli dengan semuanya, termasuk dengan ku sebagai gadis kecil yang baru saja datang ke daerah asing tanpa siapapun yang dikenalnya.

 

“..wah Bu Nita, pemberani ya, cewek seorang diri, merantau menjadi PTT di Kalsel ini? semoga bisa betah ya Bu, nanti kalau ibu memerlukan sesuatu bilang kami saja” kata ibu-ibu yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku.

 

“……hemmm…iya Bu…”

 

Aku pun segera memulai semua aktifitas ku, semua aku lakukan dengan penuh dengan rasa suka, dengan menyimpan semua air mata ini rapat di dalam simpul hatiku.

Pasien datang hilir mudik, bertemu dengan orang dengan latar belakang budaya yang berbeda, dengan semua keanekaragaman dan keunikan pribadi mereka.

Hal ini membuatku semakin kaya akan pengalaman hidup, membuat pikiran ini semakin terbuka dengan semua perbedaan, aku mulai bisa lebih menghargai kehidupan, aku lebih mulai bisa untuk memaknai apa itu hidup bermasyarakat yang sebenarnya.

 

Ternyata aku bisa menunjukkan kepada semua orang bahwa Annita bisa berdiri diatas kakinya sendiri, bisa bergerak untuk mandiri, dan bisa memulai untuk merajut mimpi-mimpina menjadi satu, walaupun jalan ini masih jauh dari sempurna, masih banyak kehidupan terjal didalamnya.

 

“ini nomer handphone saya Pak, nanti semisal hasil cabut gigi tersebut ada masalah, bapak bisa langsung hubungi nomer ini..” kataku

 

Aku tidak pernah memberikan kontak pribadiku kepada pasienku, namun dikarenakan hasil cabut gigi yang baru saja selesai aku lakukan, terdapat pendarahan yang lumayan hebat, maka mau tidak mau aku harus memberikan nomer ini, dan supaya juga aku bisa lebih untuk mengkontrol pasienku tersebut.

 

Aku tidak pernah berpikiran buruk, niatku satu yaitu ingin mengabdi dan berusaha untuk membantu mereka, yang hidup di pedalaman dengan kondisi keuangan yang masih jauh dari ideal. Namun, semua niat baik ini tidak selalu direspon dengan positif. Setelah kondisi pasien tersebut berangsur membaik, hal yang tidak aku juga terjadi juga. Hal yang sudah biisa dikategotikan mengganggu kehidupan awalku disana, sms-sms pun mengalir dengan derasnya, tanya ini lah, tanya itulah. Sempat juga aku takut akan keadaanku, semenjak peristiwa ini. aku selalu lebih waspada ketika melangkah. Namun semua ini akhirnya bisa terselesaikan dengan baik, dimana akhirnya orang tersebut mulai mundur, setelah aku menaggapi semua ini dengan bahasa yang teramat sangat formil dan dengan tata bahasa yang sopan.

 

Satu lagi pelajaran hidup yang aku peroleh di pulau ini, dimana dengan mempergunakan pikiran yang santun, semua akan lebih bisa diterima oleh semuanya, tanpa emosi dan tanpa harus ada luka yang terjadi akibat peristiwa tersebut.

Dan lambat laun mereka pun bisa menerima keberadaan Annita, semua persabatan yang mulai terangkai ini aku rasakan sangat tulus, tanpa adanya suatu niat untuk meraih sesuatu atau bersahabat dikarenakan menginginkan sesuatu.

 

Annita pun semakin menikmati keadaan ini, semakin menikmati hari2nya di kotabaru..semua cerita ini mulai terangkai dan semua kisah ini baru akan diabadikan oleh pulau Borneo.

 

++++++

 

ketika ada pelaksanaan posyandu dipuskesmasku, aku pun selalu membantu kegiatan ini, anak-anak kecil ramai berdatangan bersama dengan orang tua mereka, dan ada satu anak yang menarik perhatian dan anak tersebut kemudian dekat denganku, sebut saja namanya Latif, anak tunggal dari pasangan suami istri yang telah tinggal di derah tersebut selama lebih kurang 5 tahun.

 

“….mama…..Latif mau nenemin Bu Nita kewarung ya…ini uda mau jalan…..” teriak latif kepada mamanya diikuti dengan senyuman manis yang menghias bibir kecil itu.

 

Hampir bisa dipastikan Latif selalu bermain di rumahku, anak tunggal berumur hampir 5tahun itu selalu bergelayut manja denganku.

Aku pun menjadi sayang dengan anak itu, dimana kemudian aku pun menghadiahi nya sebuah bantal boneka kepadanya.

Namun, pada suatu sore, aku tidak menemukannya bermain dirumah, dan akhirnya dikarenakan penasaran aku pun menghampirinya dirumahnya.

 

“…de Latif kenapa…? kok menangis seperti itu…”

 

“………….hiks…”

isakan tangis itu masih saja terdengar, sembari menempelkan wajahnya ke boneka bantal pemberianku.

 

“….Latif kangen Bu Nita…” katanya sambil masih sesenggukan

 

tanpa berkata aku langsung saja memeluk erat anak itu.

 

++++++

 

Sudah hampir satu tahun lamanya aku menghabiskan waktu untuk mengabdi, dan tiba saatnya aku harus mengucapkan kata perpisahan ini, semua warga mendadak membantuku untuk mempersiapkan semua,termasuk memanggilkan kendaraan yang akan membawa ku pergi, mungkin untuk selamanya dari daerah itu.

Kulihat mata kecil itu masih saja menatap, menatap dalam dengan tulus, disertai dengan tetesan air mata yang terus mengalir. Aku tidak ingin semua nya menjadi berat, aku tidak ingin meninggalkan semua memori yang telah terangkai dengan indah ini dan aku hanya ingin tetap membawa goresan nada ini serta menyimpannya di kalbuku

 

Segera kudekati mereka, kusalami satu demi satu. Air mata ini masih tetap aku tahan, masih tetap tidak ingin aku keluarkan, namun ketika aku menatap mata kecil itu lagi, air mata ini sudah tidak bisa aku bendung lagi, bulir demi bulir panas kemudian menetes dengan derasnya, membasahi ruang rindu yang baru saja akan tercipta…..(ths).