Dua minggu yang lalu kebetulan sayah pulang ke Jogja, sesampainya di Jogjakarta sayah disambut hujan gerimis, tidak terlalu deras, namun jika terlalu lama kehujanan pastilah basah semua. Kebetulan sayah senang sekali naek kereta api, jadi sering laju Jogja – Jakarta dengan naek kereta, bolehlah dikatakan hidup sayah berada di atas rel kereta. Dikarenakan kereta berangkat dari stasiun senen agak telat, maka bisa dipastikan bahwa sampai di Tugu juga akan molor. Tidak terasa pagi sudah menjelang, sampai di jogja pukul 6.00 AM. Udara pun masih segar dan aromo jogja sangat terasa, sembari menunggu jemputan, sayah menyempatkan diri untuk membeli teh panas dan sedikit gorengan.

Ndilalahe beberapa saat kemudian, muncul lah pasangan suami istri yang tidak dikaruniai penglihatan yang sempurna, sang suami sebutlah dia Bambang yang membawa tongkat untuk penunjuk arah dan sekaligus sebagai mata mereka, dimana sang istri sebutlah Yu Sri, selalu berjalan sembari berpegangan pada tangan kanannya. Suami istri tersebut kemudian memesan teh panas segelas untuk berdua, dan makan sedikit gorengan.

‘loh pak, kenapa hanya pesan satu gelas saja?’

‘gpp mas, biar kita merasakan kondisi yang sama, minum dari gelas yang sama, merasakan manis yang sama, merasakan panas yang sama. Dikarenakan hanya itulah yang bisa kami lakukan untuk merasakan indahnya kebersamaan.’

Pak bambang dan Yu Sri, setiap hari bisa menempuh lebih dari 10km berjalan kaki mengelilingi kota Jogja, dengan tulisan tergantung di dada nya

“TUKANG PIJAT”

Mereka mencari nafkah sebagai tukang pijat keliling, dimana pasien mereka ialah orang yang mereka temui dijalan dan memerlukan jasa pijat mereka.

“apa tidak capek Pak, keliling dan jalan kaki tiap hari gini?”

“kalau dipikir pastilah capek mas, namun saya tidak mau mengeluh dan menyalahkan nasib, kenapa saya mempunyai keterbatasan. Yang saya tahu bahwa saya harus selalu berusaha, berdoa dan juga kebetulan saya diberikan keahlian sebagai tukang pijat. Saya tidak mau hanya mengharapkan belas kasian dari orang lain. Saya harus mandiri dan berdiri diatas kaki saya sendiri mas…”

Yu Sri hanya manggut2 saja, tidak banyak kata yang keluar dari bibirnya, seperti nya ia mengamini semua perkataan suaminya.

Dikarenakan yang menjemput saya sudah datang, saya kemudian pamitan dengan mereka berdua. Sembari membayari apa yang mereka makan, tentu saja tanpa bilang kepada mereka. Terima kasih untuk pembelajaran hidupnya Pak Bambang dan Yu Sri.

Semoga semangat kalian bisa menular kepada semua orang yang kalian jumpai

-ths stasiun tugu 15 January 2011, gerimis di jogja-