masih  banggakan saya dengan almamater saya?

kalo pertanyaan itu dilemparkan kepada saya, maka saya akan menjawab bahwa saya bangga dengan almamater saya. Ya pastilah saya bangga dengan Gadjah Mada, dan saya akan berusaha untuk selalu menjunjung tinggi civilitas saya, saya akan menjaga nama baik Gadjah Mada dan saya akan berusaha untuk memberikan sumbang sih, walaupun itu hanya kecil dan mungkin tidak seberapa.

sudah berapa ribu Gadjah Mada meluluskan mahasiswanya? mungkin hampir mencapai 200ribu. berapa persen yang masih peduli alamamaternya? i dont know.

saya dan semua alumni, pastilah menyadari bahwa kita ini bisa menjadi seperti saat ini ya karena Gadjah Mada, pasti semuanya pernah mengalami masa-masa penempaan diri, dan begitu semua proses ini sudah terlewati, maka lewat Graha Saba kita akan menyongsong dunia luar, untuk mengembangkan semua ilmu yang sudah kita peroleh untuk semuanya saja.

seiring dengan kemajuan akan teknologi serta perubahan GMU yang menjadi BHMN, dimana subsidi dari pemerintah untuk melangsungkan rutinitas dihapus, maka untuk biaya operasional GMU pastilah akan berusaha untuk mencari dana itu, dimana pastilah dana itu tidak sedikit ( sebagai gambaran tahun 2002 saja untuk biaya listrik, GMU mengeluarkan kurang lebih 200 juta) itu hanya dari biaya listrik saja, belum biaya yang lain. mungkin kita yang tidak memahami hal itu, pastilah akan menilai GMU itu mahal, tidak pro rakyat, kapitalis dll.

Dan mungkin juga banyak yang akan mencerca kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan GMU, namun tahu kah kita sebenarnya buat apa kebijakan itu diambil? ketika kita tidak suka dengan kebijakan itu, cobalah untuk berdiskusi dengan pihak yang terkait, jangan hanya “muni-muni” tanpa ada dasar dan cenderung untuk menyerang civitas GMU. saya pernah membaca tulisan seorang oknum alumni yang menjelekkan GMU termasuk civitas didalamnya dengan kata-kata yang tidak sopan dan cenderung merendahkan, tidakkah oknum itu ingat akan siapa dan dari mana dia dilahirkan? ahh orang kalau sudah lulus S1 dari GMU, kemudian melanjutkan S2 dan S3 di LN, dan kemudian melupakan hakikat dirinya itu berasal dari mana?

ahhh..mungkin juga karena dia lulusan LN maka dia merasa bahwa dia itu sangat hebat dan semua pemikirannya itu sangat revoluisioner, namun benarkah demikian? saya merasa bahwa oknum itu hanyalah orang yang cenderung kecewa dan tidak pantas menyandang predikat alumni GMU, daripada berteriak untuk suatu hal yang tidak berguna, kenapa pikiran kita tidak kita pergunakan untuk berusaha memajukan GMU. ahhhh semua nya pasti sudah mempunyai kepentingan abadi masing-masing dan mana mungkin bersedia untuk mikir alumni nya.

 

-tHs-

menjunjung tinggi kebanggaan sebagai seorang alumni GMU