Ketika aku boleh mengatakan bahwa hati ini tersusun oleh sebuah kepingan-kepingan segitiga, maka aku akan dengan senang hati mensyukurinya. Dimana jika kemudian disusun, maka kepingan segitiga ini akan menjadi sebuah segi enam. Entah kenapa bentuk segi enam ini sangat mempunyai arti bagiku.

“my heksa”

Segitiga yang mempunyai tiga sudut akan dapat membentuk sebuah heksagon sempurna ketika ada enam buah segitiga yang bergabung menjadi satu kesatuan. Ya, 3+3+3+3+3+3 = heksagon. Sebuah analogi yang mungkin akan teramat sangat sederhana dan bisa dipahami semuanya. Sebuah cara sederhana namun semua ini teramat sangat bermakna dan mempunyai makna begitu mendalam.

Tidak terasa hari sudah berganti pagi, salju semakin hari semakin lebat saja. Suasana Hokkaido sangatlah putih, mungkin bisa dikatakan kalau tidak ada pemanas dikamarku aku bisa saja mati kedinginan. Namun aku tidak perlu khawatir karena segitiga-segitiga itu akan senantiasa memberiku pijar dalam kepingan heksagon ku, meskipun kepingan itu belum lah sempurna, namun tetap saja bisa menghangatkanku.

Kopi pahit yang kemaren aku beli dari pasar tradisional masih ada dan tersimpan dengan rapi, dengan merek blendy, warna kemasannya pun sangat menarik, sehingga tidak tega rasanya untuk menyobek kemudian berusaha menyeduhnya. Namun dengan berat hati aku harus meminummu. Dengan takaran dua sendok makan dicampurkan air panas 180 ml, aku segera menyeduhnya dengan air panas bersuhu 92 deg C, selang beberapa waktu telah tercium aroma kopi blendy ini, harum dan mengepulkan asap yang menggoda.

Sampai lupa ternyata aku masih menyusun potongan potongan segitiga itu di mejaku, kulihat dari kejauhan, nampak belum sempurna bentuk heksagon itu, masih nampak satu segitiga lagi yang belum terbentuk. Potongan potongan korek api itu kelihatan begitu menarik, sangat menarik, namun sayang aku belum bisa menyelesaikannya. Hampir setiap malam aku menyusun potongan-potongan kecil segitiga kemudian aku akan merangkainya menjadi sebuah heksagon, namun tetap saja tidak pernah bisa menjadi sempurna bentuknya, masih ada satu keping lagi yang tidak bisa aku buat. Hmmm mungkin sudah hampir 3 bulan ini aku selalu mencoba untuk merangkainya, namun tetap saja tidak bisa.

Apakah karena potongan koreknya kurang ya?

Entah lah, aku tidak pernah membeli korek batangan lagi setelah aku memutuskan untuk berhenti merokok. Ya itulah potongan korek terakhir dan tetap aku simpan sampai aku terdampar di Hokkaido ini. Apakah ini sebuah dilema ketika aku menemukan dan hampir saja bisa aku melengkapi kepingan heksa ku, namun ternyata koreknya kurang.

Seperti sebuah cerita dalam novel saja, pernah teman satu apartment ku bilang sampai bosen kepadaku:

“Ka, kenapa kamu ga beli korek api batang lagi? Sudah hampir 3 bulan ini kamu melakukan kegiatan yang sama, dan hasilnya pun sama, kepingan heksa itu tidak bisa terbentuk sempuna karena koreknya kurang”

Entah sudah berapa kali dia bilang ke aku, dan aku hanya cengengesan saja mendengarnya. Namun tahukan kamu bahwa di dalam hati ini, aku sedang mencurahkan air mata, aku sedang mencurahkan rinduku, aku sedang mencurahkan semua rasaku. Mungkin kamu tidak tahu, bahwa setiap batang itu mempunyai cerita tersendiri, kenapa ada garis melingkar satu, ada dua bulah garis dan seterusnya di batangan korek itu. Itu kisahku Rey, dan kamu tidak perlu tahu. Mungkin kamu hanya tahu, bahwa aku itu kurang kerjaan, menyusun potongan-potongan korek api dari bentuk sgitiga yang mempunyai tiga sudut, kemudian aku berusaha menyatukan kepingan segitiga itu menjadi sebuah bentuk heksa yang mempunyai enam sudut.

Ketika aku memulai untuk merangkai batangan korek pertama, maka kepingan pertama tadi akan membawa ku ke waktu dimana aku bertemu dengan nya, menggoreskan kata salam ini kepadanya pun dengan kepingan korek nomer sepuluh itu, akan membawa ku menuju ke sebuah malam di tepi tugu pancoran, hari sabtu malam dengan gerimis membasahi kulit ari ku.. dan semuanya memang mempunyai makna…semua itu sangat lah spesial bagiku dan mungkin kepingan terakhir itu ada padanya.

Ahh..sudahlah aku tidak perlu bercerita panjang lebar lagi dan aku tidak perlu menjelaskan semuanya kepada orang yang tidak tepat. Biarlah aku sendiri yang mengetahui itu semua.

-ths, ketika semua ini menjadi biru-