Sudah hampir separuh kehidupanku di dunia ini telah aku jalani, dan selama ini pula engkau selalu membimbingku, selalu mengingatkanku dan tidak lupa pula engkau tidak pernah lelah untuk senantiasa memanjatkan doa untuk anakmu ini. Aku tahu mungkin aku belum bisa untuk membahagiakanmu saat ini, aku masih saja kerap menyusahkanmu dengan semua tindakan-tindakan tololku. Namun. Ibu senantiasa sabar untuk tidak bosan-bosannya menyayangiku. Semua keluhku, semua kesahku senantiasa engkau bersedia untuk menampungnya, engkau selalu menyediakan semua waktumu bagiku.

Ibu, tidak terasa keriput sudah menghiasi wajahmu, sudah menjalar keseluruh kulit tubuhmu, tatapan mata mu pun semakin sayu, ku melihat ada selaput tipis yang mulai mengganggu penglihatanmu, genggaman tanganmu pun tidak sekuat sewaktu engkau merawatku dahulu. Semua itu telah berkurang dan akan terus berkurang. Ingin aku membawamu turut serta, namun engkau selalu bilang

“ kamu harus fokus dengan semua jalanmu, biarlah ibu menikmati hari tua ini dengan berkebun, menanam bungan serta menikmati desa ini, desa dimana engkau dahulu menghabiskan masa kecilmu dengan bermain”

Setiap jejak langkah yang ada didesa itu menyimpan banyak sekali kenangan, kenangan yang sewaktu waktu akan menyeruak ke permukaan, jalanan, pepohonan serta rumah tua yang semakin lapuk dimakan jaman itu tetap akan menjadi saksi kenakalanku, kemanjaanku serta menemaniku tumbuh menjadi seorang pemuda seperti saat ini.

Ya aku bisa menjadi seperti saat ini, semua itu dikarenakan perjuangan ibu yang tidak pernah menyerah.

“le, ibu ora isa nyangoni koe bondho, ning isane ibu nyangoni koe ilmu, mangkane lehmu sekolah sek temenan, ben isa go dalan koe urio sesuk”

Aku dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga guru, dimana ibu seorang guru akuntansi disebuah SMK negeri didesaku. Semenjak kecil didikan keras selalu engkau tanamkan kepadaku, mulai dari hal sederhana seperti mencuci piring, mencuci baju, membereskan kamar serta bangun pagi. Engkau pasti akan marah jika aku bangun setengah enam, engkau pasti akan membanting pintu jika aku belum juga bangun.

 

Mungkin dari hal kecil itulah bisa membentuk aku menjadi seorang yang mandiri, tidak tergantung kepada orang lain, dan bisa hidup dalam kondisi apapun. Selain hal itu masih banyak yang engkau ajarkan, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

“le, nek dadi uwong ki ojo dumeh karo ojo rumongso yo?”

Sebuah kalimat yang entah berapa ratus kali aku mendengar dari Beliau, dan hal itu sangat mengena bagiku, bisa memberiku sebuah rambu rambu untuk selalu berada dijalan yang “genah”.

Ibu, mungkin saat ini aku belum bisa membalas semua jasamu, aku mungkin baru bisa membelikanmu bakso, ataupun hal sepele lainnya. Dan engkau pun selalu bilang..

“Le, mbok duite iku dicelengi wae, ibu wes cukup kok, lah iki duit pensiun wae isa go maem karo go nyangoni ponakanmu”

Setiap kali aku memberi ibu bingkisan dan setiap kali kata itu keluar.  Namun aku tidak bisa, untuk berdiam diri saja, aku ingin membuatmu bahagia, aku ingin engkau bisa menikmati hari tuamu dengan pikiran yang tenang, aku ingin selalu melihat senyum itu terkembang dari mu Ibu. Ibu, entah satu atau dua tahun  lagi bingkisan ini akan selesai, setidaknya aku bisa memberikanmu suatu bingkisan kecil untukmu, entah itu di 67 tahunmu atau di 68 tahunmu…

 

Ibu aku sayang kamu..

~mampang prapatan dengan kerinduan~