Kadang aku berpikir, kenapa aku tidak berani untuk melangkah lebih kedepan. Kadang aku berpikir bahwa melajang merupakan pilihanku. Walaupun hal itu banyak sekali bertentangan dengan keluarga besarku. Serta aku pun sudah menebalkan telinga ini dari komentar komentar miring disekelilingku. Kata orang aku itu cantik, pinter walaupun kadang jutek, wajarlah dikarenakan aku yakin semua orang pasti ada sifat jutek ini. Namun terlepas dari itu semua, aku memang cenderung seorang pemilih. Ya wajar lah, aku ingin mendapatkan sosok yang terbaik untuk kehidupanku, aku berpikir demikian karena lelaki itu akan mendampingi ku seumur hidup. Begitu sempitkah pemikiranku?

Gerimis menyapu kota depok, dari bangkon lantai 2 rumah om ku, aku melihat riuh orang berlarian menghindari sang gerimis. Tukang ojek pun segera berteduh di emperan toko furniture. Angkot pun masih saja seenaknya berhenti dipinggir jalan raya bogor itu. Sabtu-minggu aku sering habiskan waktu ini di Depok, berkumpul dengan adik adik sepupu ku, ngajak mereka nonton di bioskop serta makan bersama dengan mereka. Bukan..ini bukan pelarianku. Kenapa aku tidak ikut kegiatan almamaterku, kenapa aku tidak ikut kegiatan luar. Siapa tahu aku akan menemukan sosok itu. Kenapa juga aku tidak sering maen ke UI.

“cari aja di UI Dee”

“gila kamu, masak gue nyari anak kuliahan”

Teh hitam yang aku bawa dari Kebun mas puncak itu telah larut dalam teko kaca, warna nya semakin memekat. Tidak lupa aku menambahkan kulit jeruk untuk memberikan aroma segar dalam teh ku.

“kamu mau pakai gula batu atao ga Sa?”

Rissa, teman baikku dari SMA, Kuliah dan sampai saat ini. Kami berdua sering berkengkrama di balkon ini. Pun malam minggu ke sekian puluh telah aku lewati dengan hal yang sama, berulang dan akan terus berulang. Rissa sampai saat ini terus menemaniku, sering kali dia menomor dua kan pasangannya. Gadis cantik dengan rambut hitam lurus terjuntai sampai punggung, dengan lesung pipit serta gigi gingsulnya, itulah Rissa.

“apa kamu mau sepertiku aja Dee?” katanya dengan penuh senyum mengerikan😀

“ehhh…enak aja..” :p

Malam semakin larut, teh ini sudah terasa sangat dingin, walaupun demikian jalan depan rumah ini tidak pernah menampakkan sepinya.

“pesen 14022 donk, laper ini. Sapa tahu nanti mas yang nganter ganteng..hahahahaha”

“dasar nenek jelek, kalau ganteng nanti kita culik aja.. hahahaha..”

Kurang lebih 20 menit kami menunggu, akhirnya 4 buah ayam goreng spicy dengan 2 kentang goreng extra besar dan tidak lupa 2 sup porsi kecil telah diantarkan. Gerimis sudah menyingkir, bintang pun mulai menampakkan senyumnya.

“tumben kamu ga pakai saos Sa? Pasti ada sesuatu”

“Gue lagi ga ingin mbahas ini dulu..nanti Gue ngambek ma Elo..”

++++

Jogjakarta, 5 tahun yang lalu, disebuah warung jagung bakar di perempatan kentungan

“kamu gitu ya Dee, kan uda aku bilang aku belum mau cerita, kamu kok maksa sih, nanti kalau aku sudah tenang aku pasti akan cerita ma kamu..” sentak Rissa di kamar rumahku

Setelah itu wajahnya berubah cemberut dan untuk meredakannya aku mengajaknya makan jagung bakar di kentungan ini. Ya, jagung bakar merupakan cemilan favoritnya dan tentu saja dengan saos yang dioleskan. Aku mengetahui kebiasaan “aneh” nya ini sudah semenjak semester awal sekolah di SMA, dan aku mulai mengamati kebiasaannya ini. Makan roti pakai saos, makan sate pakai saos, makan makan jagung pakai saos dan yang lebih konyol lagi makan buah pun harus memakai saos. “Dee, asalkan ada saos aku bisa hidup kok, pokoknya ada saos..hahahaha”

Setelah jagung pesanan kami selesai dibakar, kami pun pergi be Boulevard UGM, disana kami duduk sembari menikmati jagung ini, tidak lupa pula cuci mata. Motor kami parkir tidak jauh dari tempat kami duduk. Tidak lupa kami memesan ronde untuk pelengkap jagung yang kami santap.

“Dee..kamu jangan kaget ya..aku akan bercerita hal yang selama ini belum aku ceritakan ke kamu, aku masih menunggu saat yang tepat untuk mengutarakan hal ini. Saat ini belum ada yang mengetahui hal ini, kamu lah yang akan menjadi yang pertama..”

Untuk beberapa saat Rissa menghela nafas panjang…

“sebenarnya….janji kamu ga marah ya Dee?”

“iyah..aku janji..”

“tapi…aku masih ragu untuk mengungkapkannya, aku takut kamu membenci dan marah kepadaku.”

“enggak lah, kita kan sudah berteman semenjak SMA, kamu juga udah tahu aku kan?”

“sebenarnya…aku..

Untuk beberapa saat suasana hening, hanya kadang motor lalu lalang lewat boulevard. Angin malam pun bertiup menggigit kulit ini, segera aku membetulkan letak jaketku yang agak terbuka, sembari menunggu kata itu terucap dari bibir tipisnya Rissa.

“iyaaaaaaa..aku mencintaimu Dian Anggraini…”

+++++

“itu saosnya buat aku aja ya Dee?”

Kami pun semakin asyik menggigit daging ayam crispy itu. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Kami pun masih asyik berhaha hihi hoho..

“Gue lagi sebel ma Kheisa, makanya Gue mau disini sampai pagi, biarin aja dia mau kemana..”

“kamu ya, waktu kamu bilang sama aku bahwa kamu mencintaiku, aku syock tahu. Kenapa sih kamu itu bisa jadi menyukai sesama mu sih Sa?”

“ahahaha… habis lo cantik banget sih, makanya Gue cintai Elo waktu itu..”

Aku tidak habis pikir dengan Rissa, menurut cerita nya waktu itu, dia tidak bisa percaya lagi sama cowok, dia melihat kelakuan para lelaki di lingkungannya, termasuk di keluarganya. Entahlah, yang aku tahu seperti itu. Mungkin juga Rissa trauma dengan semua itu. Dan memutuskan untuk mencari kenyamanan dari sesama nya, walaupun orang pertama yang di tembak nya itu aku.

Kembali lagi ke persoalanku, persoalan hidupku, masa depanku. Aku takut di usia ku yang sudah meninjak dua puluh sekian ini, aku akan semakin menjauhi itu semua dikala aku mencari kesempurnaan itu. Ahh mungkin benar hal yang ideal itu hanyalah gas ideal. Tidak ada kehidupan yang ideal, walaupun aku mencoba untuk menurunkan kadar ideal itu. Aku juga berdoa supaya aku tidak terpengaruh oleh Rissa, ya aku masih ingin menjadi seorang normal dengan kehidupan normal pula. Ketika aku mengingat malam itu,malam dingin di boulevard kampus tercinta, aku tersenyum getir. Aku tidak menyangka bahwa dia seperti ini.

Ya, hampir satu bulan aku tidak berbicara dengan nya, aku hanya bisa diam tanpa tahu harus berbuat apa lagi.

“heyyy.. pasti lagi ngayal jorok ya?”

“idih enggak lagi.. kamu itu yang jorok dari dulu :p”

Tiba-tiba kami pun berpelukan saling menitikkan air mata, buliran panas ini pun jatuh membasahi pipi kami berdua. Malam semakin hening, semilir angin bertiup mematikan lilin terapi yang kami kami nyalakan untuk menyegarkan pikiran akhir minggu kami. Untuk sementara kegalauan hidup kami pun terbawa angin malam, tergerus embun pagi yang mulai turun membasahi bumi.

Entahlah..untuk saat ini aku tidak berani untuk menyibakkan kabut tebal itu, ku akui aku takut untuk melangkah, ku akui aku terlalu rapuh untuk sekedar meraba dan aku hanya ingin dimengerti, setidaknya untuk saat ini.