Tepat tanggal 25, kebersamaan ini berusia 3 bulan….ya 3 bulan pertama kita, yang terisi dengan indahnya cerita cinta, canda tawa disertai dengan problemantika kehidupan yang datang silih berganti. Namun, itu semua tidak menjadikan kita patah arang, kalut, risau, serta goyah akan terpaan badai kehidupan yang selalu datang berganti tanpa memperdulikan bagaimana pedihnya perasaan kita.

            Karena kutahu dan kusadari, bahwa aku hanyalah satu dari sekian banyak kumbang yang terlalu beruntung, untuk dapat hinggap dalam mekarnya mahkota bungamu, kau peluk aku dengan harum mewangi, yang terpancar dari dalam kalbumu. Jika boleh aku berkata jujur, ku tidaklah pantas untuk dapat mengisi ruang kehidupanmu, hadir dalam setiap mimpi-mimpimu…,sekali lagi, aku terlalu beruntung dapat memiliki hatimu.

            Kita sepakat, walau kejadian yang menimpa kita berlangsung teramat cepat, namun kita akan senantiasa untuk saling belajar memahami dan mengerti. Ku yakin…., dalam relung hati kita yang terdalam, masih banyak pertanyaan yang mengganggu dan akan selalu menyembul ke permukaan dari indahnya cerita yang kita rajut dan kita renda bersama dengan campur tangan dari DIA pemilik indahnya rasa ini.  Selama ini, ku mungkin terlalu banyak menuntut dirimu, aku juga merasa bahwa ku masih terlalu egois, namun engkau tetap sabar dan berusaha menyenangkanku. Dan dengan segala keterbatasanku engkaupun rela menerimaku apa adanya tanpa syarat. Dan dengan teriring senyum yang selalu mengembang, engkau membukakan pintu hatimu serta selalu menyambutku dengan penuh ketulusan dan kelembutan hati.

            Seiring dengan berputarnya sang waktu, detik pun berganti menit, menit bergulir menuju jam dan jam pun berjalan kearah hari. Dan hari ini kau tergolek dalam panasnya suhu tubuh yang melebihi normal. Hari ini keceriaan yang selama  ini selalu menyertaimu hilang terbakar panas yang menyelimuti tubuhmu. Dalam ketidakberdaayanku, kuhanya bisa memberikan waktuku yang tidak berharga untuk menemani, untuk selalu bersama dan menjaga dirimu…, tanpa bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk membuatmu menjadi lebih baik. Sekali lagi aku hanya mempunyai waktu, waktu yang akan habis termakan oleh kejamnya hari, waktu dimana dia akan terus berjalan, pergi, menjauh, menjauh dan semakin menjauh sampai batas cakrawala kehidupan dan tidak akan pernah kembali.

            Saat hati dan jiwa ini telah terwarnai oleh kehadiranmu, raga ini telah hanyut terbawa jalur kehidupanmu. Rasa yang telah kutanam di dalam palung jiwaku ini, mulai bersemi oleh karena arti penting hadirmu dalam bingkai-bingkai kehidupanku. Ketika rasa ini semakin merona untuk menikmati indahnya rasa yang akan kita tempuh dan lalui bersama, engkau terbaring lemah tidak berdaya.

           Ketika engkau terjatuh, dengan segenap kekuatan yang melekat dalam rapuhnya diriku, ku akan menangkapmu, mendekapmu, memberikan sedikit kenyamanan dan akan selalu menunggu hadirmu dalam keceriaan. Didalam kegoncanganku, ku akan selalu menunggu sampai keriangan itu berkilau lagi dan kedua bulan itu, memancarkan indahnya sinar yang akan datang mengisi hari-hari kita. Walau waktu demi waktu yang akan datang silih berganti, tanpa akan ku ketahui kapan munculnya sinar dari kedua bulan itu, namun ku akan selalu menunggu dan akan tetap  menunggu.

            Saat ini DIA menghendaki kita untuk menerima indahnya rasa yang datang ini, ingin kita lebih membuka cakrawala berpikir dalam menyingkapi keluh kesah kehidupan. DIA ingin kita tabah dan rela dalam menghadapi semuanya, dan ku yakin DIA teramat sangat menyayangi kita.

            Di sudut indahnya matamu, dengan disertai derasnya butiran-butiran halus yang mengalir tanpa dapat aku hentikan, ku bersimpuh sembari menengadahkan kedua tangan kotor ini dalam indahnya doaMU, demi bersinarnya kembali dua bulan yang berada dalam kuasa mutlakMu, dimana hal tersebut teramat berarti dalam kehidupanku.