Sukapura, merupakan tempat pertama kali aku mengenal Jakarta. Disebuah daerah yang bisa dikatakan kumuh aku kos untuk pertama kalinya. Berdua dengan temanku, kami membayar harga 200K IDR untuk pondokan satu bulan. Selama kurang lebih setengah tahun aku berada di tempat itu. Ditempat itu aku mengenal para pekerja yang rata2 mempunyai keahlian menjahit dari berbagai daerah, ada yang dari Sragen, Padang, Pemalang, Kebumen, Purworejo, Lampung dan dari Cirebon. Kost tempat ku berteduh itu terdiri dari 20 kamar tidur dengan 5 kamar mandi. Didepan nya ada sebuah padang rumput yang agak kotor bertumpukan sampah serta tidak lupa pula ada sebuah kandang kambing, dimana kadang kala kambing-kambing itu suka berkeliaran dengan bebasnya, bahkan sampai diperumahan mewah disebelahnya. Hanya dibatasi sebuah sekat dari tembok, dua pemandangan kontras itu terhampar di mata aku, ironis memang dan hal itu membuat aku kembali berpikir, “apakah aku akan tinggal di Jakarta dan beraktivitas dengan lingkungan seperti ini?”. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sembari menarik nafas panjang.

Aktivitas ku selama enam bulan itu mungkin bisa dikatakan statis namun penuh dengan warna. Malam hari, seperti biasanya aku dan teman-teman di kos selalu mengisi ember ukuran +- 10 L untuk mandi di keesokan harinya, jika kami tidak menampung air dimalam hari, maka pagi hari nya kami agak kesusahan untuk mengisi air, dikarenakan air pam dipagi hari aliran airnya sangat kecil bahkan bisa mati. Namanya juga kos, ada juga teman yang “jahil methakil” dimana mereka malas untuk mengisi ember mereka sendiri dan pagi harinya mereka bangun lebih pagi dan kemudian mengambil punya teman yang lain. Bahkan ada yang sampai dihabiskan satu ember penuh. Itulah aktivitas statis dimalam sampai pagi hari di tempat itu.

Setelah mandi serta memakai pakaian rapi, kami berdua dengan berjalan kaki berangkat menuju ke perusahaan pembuat spare part untuk otomotif terbesar di Indonesia. Melalui perumahan mewah, dimana pedangdut Mansyur S mempunyai rumah di tempat itu, kami berjalan. Kami melihat ibu-ibu yang berjualan bubur ayam yang dijajakan dengan sepeda jengki butut dan tidak lupa pula diiringi teriakan khas yang terdengar cempreng, “buurr ayaammmm, buburrr ayamm”.

Setelah keluar dari perumahan kami masih harus berjalan menuju ke jalan utama Semper-Pulo Gadung, dan masih harus melanjutkan dengan mempergunakan angkot merah. Menyusuri jalan pergangsaan 2 selama 10-15 menit untuk sampai ditempat kami magang kerja. Lagi-lagi pikiran ini beradu pendapat, “haruskah hidup di kota ini? Jalanan yang macet, sungai yang menghitam dan menimbulkan bau yang sangat menyengat luar biasa serta tingkat polusi yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya”

Di tempat itulah perusahaan itu memeras semua otak dan fisikku dengan imbalan yang sangatlah kecil untuk bisa hidup layak di Jakarta. Entahlah, namun aku menjalani itu semua hampir setengah tahun dan aku hanya berpikir bahwa itu merupakan sebuah siklus kuliah yang harus aku selesaikan.

+++

Sabtu dan minggu ku kadang aku habiskan hanya dengan duduk bengong sambil belajar bermain Gitar, dan kadang pula bercakap dengan teman yang sedang tidak bekerja sabtu ataupun minggu itu. Oia aku belum bercerita kalau kos itu merupakan kos campuran, ada cowok dan cewek serta satu keluarga dengan satu anak kecil. Aku sering kali menggali banyak hal dari mereka, kehidupan mereka serta banyak hal yang aku telusuri. Dua cewek padang yang sangat keras dan kadang pula mereka berpakaian seksi hanya dengan hot pant dan tank top yang memperlihatkan sebagian kulit putihnya, ada pula gadis asal sragen lulusan sekolah menengah pertama yang sangat cuek dan sangat bebas begaul dengan pacarnya, dan ada pula mas-mas yang religious. Semua bercampur menjadi satu kontrakan dan menggoreskan sedikit cerita dikontrakan dua puluh kamar itu. Dikarenakan dikos itu hanya aku dan temanku saja yang mengeyam bangku kuliah, maka banyak dari mereka yang sering minta pendapat tentang masalah mereka, entah pekerjaan, pacar dan berbagai mimpi mereka.

Malam minggu merupakan malam yang sangat menjengkelkan, dikarenakan banyak yang “ngamar” dengan pasangan masing2, walaupun pintu dibuka, namun tetap saja hal itu menyebalkan bagiku. Entah apa yang mereka lakukan aku tentu saja tidak mengetahui dan tidak mau tahu.

“Jakarta seperti ini ya pergaulannya?” entahlah.

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kabar, bahwa ada temen cewek kos yang hamil diluar nikah dan di usir dari tempat itu. Oia, aku juga belum bercerita tentang orang asli didaerah itu yang cenderung rese, mereka sering mengambil sandal, sabun cuci, sabun mandi serta sering berisik dimalam hari dengan bermain musik sangat keras. Aku juga mengamati ada sekelompok orang yang kerjaannya main kartu dan hanya main kartu selama enam bulan itu. Didekat kandang kambing itu mereka bermain kartu dengan dibumbui uang ribuan sebagai pelengkapnya.

Hujan deras di akhir 2003 itu sering melanda Jakarta termasuk sukapura, dan momen inilah yang sangat aku sukai, dimana semua jalan terendam dan kekumuhan itu sedikit sirna diterjang oleh air yang menggenang sekitar 20cm. Ditemani lagu dari incubus, aku menikmati banjir itu. Aku sering menyusuri daerah yang aku anggap kumuh itu, bau got pun terasa sangat menyengat disela-sela rumah yang sempit itu. Ada beberapa tempat makan ditempat itu, dan kadang pula aku melakukan kas bon ditempat makan itu, salah satunya diwarung makan milik orang semarang itu.

+++

Gambaran enam bulan hidup di Jakarta serta bekerja dalam tanda kutip disebuah pabrik produksi membuatku terus berpikir dan berpikir serta merujukkan ke sebuah kesimpulan sederhana, bahwa aku tidak mau hidup di kota ini, serta dengan lingkungan seperti ini. Sekitar bulan maret, tugas magangku selesai dan aku harus kembali lagi ke Jogja, sebuah hal yang sangat menyenangkan bagiku. Sukapura, Semper, Plungpang, Kelapa Gading, Pulo Gadung serta jalan sepanjang trayek Mayasari P8 dilanjutkan menuju ke depok itu telah memberikan gambaran Jakarta yang sangat tidak menyenangkan untukku. Itulah sekelumit kecil gambaran Jakarta dimata seorang ndeso yang menginjakkan Jakarta untuk pertama kalinya.