Kita pasti masih ingat dengan kejadian 33 pekerja tambang yg terkubur selama 17 hari diperut bumi tanpa akses keluar dengan minimnya logistic  serta berada pada kedalaman hampir 800 meter di Chile beberapa waktu yang lalu. Ketika tambang itu runtuh, pada 15 menit awal mereka yang terjebak panik dan mengurusi diri mereka sendiri, semua kacau, tidak ada pemimpin sama sekali dan mereka pun tidak tahu ada berapa orang yg terjebak disana.

“Jika saya mati, maka saya akan mati” kata mario sepulveda

Namun sesaat kemudian mereka segera bisa memetakan semua dan berangsur pula kepanikan itu mereda, walaupun wajah ketakukan itu tetap menghiasi wajah mereka. Mereka segera mengumpulkan apa yg kiranya bisa diambil untuk bertahan hidup, dan akhirnya di lemari penampung mereka menemukan beberapa kaleng tuna saja, serta obat2an. Untuk minum mereka mendinginkan air kotor yang berada di sekitar mereka (suhu dibawah sekitar 40 deg C). Dalam membuat penerangan, mereka memcopot aki kendaraan dan dibuat lampu penerangan seadanya. Semua yg terjebak ialah pekerja, tidak ada satupun insinyur didalamnya. Semua pekerja itu berjumlah 33 orang, dan mereka termasuk tim yang solid. Bahkan semenjak hari pertama terjebak, mereka sudah mulai untuk mengkoordinasikan semuanya

“Kalau ada satu insinyur yang ikut terperangkap dg kami, maka kami pasti akan cepat mati” kata Mario Sepulveda Perry, salah satu pekerja tambang.

Dia menambahkan bahwa dalam situasi seperti itu, insinyur akan membanggakan gelarnya, cenderung arogan serta menonjolkan egonya. Dan semenjak awal, semua pekerja itu kompak untuk bertahan bersama dan tidak menyerah dg keadaan.

+++

Diatas bumi, perusahaan tambang dan pemerintah jg mulai berencana untuk melakukan evakuasi, namun semua tidak terencana dg baik dan malah terkesan menunggu. Oleh karena itu, Lely Gomez istri dari Mario gomez (penambang paling tua), berinisiatif untuk mendirikan kemah dan berusaha menarik perhatian khalayak, usaha ini berhasil. Akhirnya seluruh Chile melihat dan mendengar, semua nya fokus serta memberikan bantuan untuk segera bisa mengeluarkan mereka dari perut bumi.

“Kami hanya ingin mereka peduli, jangan kalian tinggalkan dan abaikan para korban yang tertimbun” seru Lely

+++

Kembali lagi ke bawah, mereka masih tetap berusaha untuk survive  dengan makan makanan kaleng yang dimakan tiap 2hari sekali satu sendok makan. Kondisi tubuh pun menjadi sangat buruk, bahkan Avega Barrios kehilangan berat sampai 16kg. Sebanyak 33 cangkir gelas telah dibagikan rata, dan setiap waktunya makan, hanya dengan tuna ditambah dengan air. Dengan beralaskan kardus mereka menghabiskan hari, entah itu siang maupun malam.

Avega barrios merupakan sosok seorang yang suka dengan humor, untuk membangkitkan semua optimisme, selain sering berusaha untuk menghibur dengan kejenakaannya, dia sering membayangkan bahwa dia sedang berkumpul dengan keluarga tercinta dengan putri cantiknya. Dengan begitu rasa optimisme itu selalu ada di dadanya.

“Saya menulis surat ini untuk istri saya yang cantik, kamu harus meneruskan semua hidup dan menatap masa depan” kata Avega sembari terus menulis sampai 2 lembar banyaknya.

“Saya akan membungkus surat ini dalam plastik, sehingga ketika jenazah saya rusak, surat ini tidak rusak dan bisa dibaca. “ kata nya sembari menitikkan air mata

 +++

Para sukarelawan serta petugas penyelamat, masih berdebat untuk menentukan dimana tepatnya lokasi mereka, mereka melakukan banyak  pengeboran ke dasar bumi, dan setelah lubang itu terbentuk mereka menyertakan sebuah kamera untuk melihat kondisi didalam. Namun semua itu masih sia-sia, dan mereka hanya mendapati puing-puing tanpa melihat adanya tanda-tanda kehidupan maupun korban.

 +++

Selama 4 hari pertama terjebak di perut bumi, mereka tidak pernah mendengar adanya sebuah kegiatan penyelamatan dari atas, entah itu suara bor ataupun suara lainnya. Mereka hanya bisa saling menguatkan satu dengan yang lain, serta memasrahkan semua kepada Tuhan.

 “Saya menggantungkan semuanya di atas kepala saya, saya pasrah, namun jika saya tidak pernah bisa keluar dari tempat ini dan mati, saya tidak akan pernah menyalahkan Tuhan” Kata Avega

 Memasuki hari kesepuluh, kondisi mereka masih tetap sama, dan Avega pun berkeliling melihat kondisi rekannya.

 “Kenapa kamu menangis?”

“Kamu tahu, aku tidak akan pernah bisa lagi melihat perkembangan anakku, aku tidak pernah bisa mendidik mereka lagi” kata Zamora

Mendengar itu semua, Avega pun berjanji bahwa dia akan berusaha untuk bertahan hidup dan bisa keluar dari tempat itu, dia pun kemudian kembali ke pembaringannya yang berupa karton tebal. Memasuki hari ke 14, para pekerja yang terjebak itu mendengar suara bor, senter itu kemudian mereka arahkan ke langit2, dan berusaha untuk melihat dari sudut manakah alat bor itu akan keluar. Namun, beberapa saat kemudian suara bor itu hilang dan hilanglah harapan mereka. Suasana pun senyap.

Hari ke 16, disaat mereka akan makan Tuna terakhir, mendadak Avega Barrios bilang untuk tidak makan lagi selama 24 jam. Kondisi Avega saat itu sangatlah parah diantara rekan yang lain, namun dia mengusulkan untuk menghemat persediaan makanan itu. Dan mereka pun tidak makan, selama 72 jam perut mereka kosong tanpa ada makanan yang masuk

 “Aku sudah pasrah, aku tidak yakin bahwa akan selamat dari sini, namun aku tidak mau terlihat konyol ketika aku harus mati” Kata Mario.

Kemudian, dia mengenakan seragam tambangnya, lengkap dengan sepatu boot serta helm dikepalanya, kemudian dia merebahkan diri ditempat itu, tanpa daya, dan pandangan mata mulai sangat kabur. Namun, memasuki hari ke 17, sayup mereka mendengar suara bor itu lagi, suara itu semakin jelas dan akhirnya sebuah mata bor sampailah menembus bunker bawah tanah itu, sontak semua gembira, dan ketika mata bor itu berhenti bergerak, mereka segera memukul dengan segenap hati, untuk mengabarkan bahwa mereka masih ada. Dentuman metal itu pun beradu dan menandakan akan adanya sebuah harapan. Kemudian mereka menyelipkan sebuah pesan bahwa mereka masih hidup kemata bor tadi.

 +++

 “Surat dari perut bumi, mereka masih hidup” seru Sebantian Pinera dilokasi kejadian

 Sontak semua bersorak gembira, namun tidak dengan Lely Gomez, karena dia yakin bahwa suaminya masih hidup, karena dia selalu berdoa kepada Maria, dengan sembari memegang roknya.

 “aku tahu kamu tidak pernah mengecewakan doa ku” katanya.

Selanjutnya para pekerja itu dievakuasi dengan sebuah kapsul yang bisa mengangkat satu orang dari perut bumi. Saat ini pertambangan itu sudah ditutup dan para pekerja menuntut pabrik karena safety yang sangat kurang. Semoga tidak ada kejadian serupa yang terjadi

Moral of the story:

–          Untuk teman2 yang bekerja di konstruksi, tambang, oil Co pastikan selalu bahwa semua perlengkapan darurat itu tersedia.

–          Pastikan bahwa lingkungan kerja anda safe dan jika menemukan gejala akan sebuah bencana, maka segera dilakukan pencegahan.

–          Dalam bekerja selalu hati2 dan mentaati prosedur, karena keluarga anda selalu menanti anda pulang kerumah.

–          Ketika dalam keadaan kritis, janganlah membawa ego masing2, karena ego itu bisa membunuh anda.

–          Bekerja sama serta saling menguatkan untuk menyelesaikan permasalahan.

–          Selalu ingat untuk berdoa J

 

Ths

Reff: Discovery channel, internet, History