Chapter-1
Pertemuan pertama

Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas wajahnya ketika aku bisa duduk satu bangku dibelakangnya di kereta taksaka, jurusan jakarta jogjakarta. Aku sudah melihatnya semenjak berada di peron stasiun, lelaki itu duduk cuek sembari membaca sebuah novel karangan romo mangun. Kalau aku liat sekilas, sepertinya lelaki itu membaca burung-burung manyar. Lama aku mencuri pandang, di antara ribuan pemudik yg masih dengan setia menanti kereta yang akan berangkat pukul 20:45 itu.

Jarak antara tempatku duduk dengan lelaki itu cukup jauh, aku hanya bisa melihatnya secara samar. Entah mengapa, aku suka melihat penampilannya yang sangat cuek tanpa berusaha mempedulikan keadaan sekitarnya yang sangat hectic. Sesekali, lelaki itu membetulkan letak kacamata hitam yg menempel di wajahnya.

“Klik..”

Aku mencoba untuk memotretnya dengan kamera handphone ku, namun hasilnya kurang memuaskan, dan sangat kabur.

Ketika ada sebuah kursi kosong didepannya, aku segera mungkin menuju tempat itu, namun baru saja aku mau mengangkat kaki ini, ada seorang wanita yang sudah lebih dahulu mengambil tempat strategis itu.

“Arrgghh..” geramku

Pandanganku berubah mengamati wanita muda tadi, memang cantik sih, dan ternyata wanita tadi juga mencuri pandang ke lelaki dengan novel burung manyar itu. Aku terus saja melihat kejadian yang tidak menyenangkan hatiku itu. Ingin rasanya aku menghalangi pandangan strategis wanita itu.

“Apaaa… dia mengeluarkan handphone.. ahhh..”

“Sial, dia sudah mengambil gambar lelaki itu..” gerutu semakin menjadi

Aku kemudian melangkah maju, sembari membawa tas karier dipunggungku, aku memutari tempat itu, dengan harapan dia melihatku. Namun, sial saja, tatapannya masih asyik melihat novel yang sedang dibacanya.

Kulirik jam tangan yang aku beli ketika aku PTT di kalsel dulu, 20:30, dan ketika pandangan ini beralih kulihat tempat duduk di pojokan sudah ditinggal penghuninya, dan juga wanita itu sudah tidak ada. Aku segera berlari, hampir saja aku terpeleset di anak tangga kedua stasiun yang menuju ke peron.

“Hati-hati mbak,keretanya masih 15 menit lagi kok” sapa petugas KAI dengan ramah.

Aku hanya tersenyum simpul saja, sembari segera naik ke atas. Sesampainya diatas, mata ini terus berusaha mencari sosok itu, namun tetap belum ketemu.

“Mbak, di gerbong berapa?” Tanya petugas kereta

“Oh iya, sebentar pak, saya liat tiket dulu, taksaka 6, 8D..” sahutku setelah melihat tiket yang sudah lusuh itu

Setelah aku masuk, aku kemudian mencari tempat duduk itu. Segera aku rebahkan diri di pojok dekat jendela.

“Ohh.. lelaki itu masuk gerbong ini,semoga dia duduk disisiku..” sembari memeluk jaket dan berdoa khusuk.

Satu, dua dan tiga langkah lelaki itu berhenti, melihat tiket dan diapun segera memasukkan tasnya diatas,tepat diatas kursi 8CD.

“Asyikkkk….” batinku

Aku pun memejamkan mata, karena aku tidak kuat untuk menerima anugerah ini. Aku masih saja memejamkan mata ini, sembari menunggu suara dentuman kursi disebalahku.

“Buukk..” suara itu terdengar lemah..

Aku segera membuka mata dan ingin mengucapkan sedikit salam kepadanya. Namun,bukan lelaki itu yang aku liat, seorang ibu2 yang ternyata duduk disampingku.

“Dimana dia?”

Sontak aku beranjak dari tempat duduk ku, dan mata ini melotot ketika melihat lelaki burung manyar itu duduk didepan ku bersama wanita yang sudah mencuri2 pandang di peron tadi.

“Ahhh sialan, lucky bitch…” amukku

Ingin aku menjambak rambutnya,namun keinginan itu aku pendam. Terdengar obrolan didepanku, renyah juga suaranya, dengan buku yang sudah di tutup dan berada di pangkuannya.

“Tri… oh bukan ternyata cewek itu yang namanya putri..”

Aku masih saja cuek mencuri dengar, percakapan yang sangat menyenangkan, kadang diiringi dengan suara tertawa dari kedua orang di depanku, yang tentu saja hal itu membuat ku sangat gondok dan jengkel setengah mati. Aku merasa perjalanan ini akan memakan waktu yang sangat lama dan tentu saja menyebalkan. Sambil meraih roti yang ada di tempat kecil sampingku, dan ku kunyah dengan sadis.

“Maaf mba..” kata ibu2 disampingku

Apaan sih ini orang, mengganggu kenikmatan ku saja, apa dia tidak tahu kalau aku lagi bete dan jengkel. Ditambah manggil aku lagi..

“Iya, ibu.. kenapa?” Sungutku dengan wajah yang kubuat manis

“Itu yang mbak makan roti saya, roti mbak kan sudah habis dimakan semenjak ada di cikampek tadi” katanya menjelaskan.

“Oh..iya ya.. maafkan saya ibu, aduh gimana ini.. adududu maaf ken” wajahku mendadak semakin tidak enak untuk dipandang, dan rona wajahku pun memerah tidak lucu. Untung saja, ibu itu mau mengerti, barangkali dilihatnya aku mungkin terlalu lapar.

“Ah, sialan, gara2 lelaki itu aku jadi malu setengah dewa”

Perjalanan kereta pun semakin mendekat ke jawa tengah, dan dengan banyak kegalauan aku pun lelap dipeluk dinginnya AC taksaka itu, selimut biru itu tidak lupa aku tarik untuk menutup semua badanku.

“Perhatian, bagi penumpang yang turun di stasiun purwokerto harap menyiapkan diri”

Aku terbangun mendengar suara itu, segera aku mengusap mata serta menutup mulut karena mendadak uap kantuk dari mulutku keluar.

“Apaaaaa….”

Kulihat gadis itu sudah bersandar di pundak lelaki itu, pasti hal itu dilakukannya dengan sengaja, dan dia pasti mencuri semua kesempatan itu.

“Curang….” kataku setengah berteriak

Mendadak semua mata tertuju kepadaku, ternyata teriakan ku lumayan keras,tak lupa lelaki didepanku juga berbalik melihatku. Malu, tentu saja, dan aku hanya diam tertunduk malu, sembari berpura-pura mengigau dengan membuat gerakan mengucek mata. Kulihat lelaki depanku sekilas tadi menampakkan senyuman yang manis, dan setidaknya karena teriakan ku tadi, gadis itu sudah tidak bersandar lagi dipundaknya.

Segera aku merapatkan kembali selimutku. Sambil tetap menahan malu yang sangat membuatku mati gaya.

Pukul 5:30 kereta sudah mulai masuk ke stasiun tugu. Kulihat semua penumpang sudah siap sedia, termasuk lelaki itu dan kulihat lelaki itu memakai kaos kagama, aku melihat kecil lambang itu, dan sebuah tulisan “kagama virtual”

“Ahhhh…kesempatan ini” gumangku

Sebelum berpisah aku harus tahu namanya. Setelah kereta berhenti aku pun berdiri didekatnya.

“Mas, kagama juga ya? Aku juga kagama. Namaku Neta” kataku dengan cepat padat singkat.

Oh ternyata orang nya itu, yang sering aku dengar serta aku baca tulisannya.

“What a small world ya” katanya singkat.

Oh, senyumnya menggetarkan hatiku, suaranya sangat menenangkanku. Dan obrolan singkat itu mewarnai hari pertama ku di jogja, 2 hari terakhir berpuasa untuk menyambut lebaran dikota kelahiranku. Oh sungguh indah jogja pagi ini.