Category: Jalan-jalan ku



Beberapa waktu yang lalu, mungkin sekitar bulan Desember 2009, saya bersama rekan pecinta alam, mencoba untuk menaklukan indahnya alam gunung GedePangrango. Gunung GedePangrango ini ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980, mempunyai luas sekitar 21.975 hektar, dimana kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh indahnya hutan hujan tropis pegunungan, dan hanya berjarak 2 jam (100 km) dari Jakarta.

“Peta ke GedePangrango”

Dari Jakarta kami berangkat sekitar pukul 06.00 pagi hari, dengan naik bus kami meluncur menuju lokasi pendakian. Dengan bus jurusan tasikmalaya kami serombongan melakukan perjalanan penaklukan GedePangrango. Kurang lebih pukul 11.00 kami telah sampai di pos awal pendakian, kemudian setelah semua syarat dan ijin dibereskan, seperti fotokopi KTP, kami bersiap untuk melakukan pendakian. Nampak juga rombongan dari Bekasi dan Banten. Sambil menunggu waktu pendakian, kami pun sempatkan bercakap-cakap dengan mereka dan bertukar pengalaman tentang pendakian yang telah dilakukan. Tepat pukul 13.30 kami pun sudah boleh melakukan pendakian, dimulai dari menelusuri rute datar melewati suatu padang tanah rumput yang dipergunakan untuk permainan outbond. Di Pos masuk GedePangrangp, kami diharuskan mengisi form untuk pendakian ini, dan kami pun harus menyerahkan parang kami, dikarenakan kita tidak boleh membawa parang  ketika melakukan pendakian.

“welcome adventurer”

Rute awal pendakian belum lah terlalu berat, sampai kami di Telaga Biru,  telaga yang mempunyai warna hijau kecoklatan, namun pada suatu saat air di telaga ini bisa berubah warna menjadi biru penuh nuansa magis.

“Telaga Biru yang mistis”

“Papan arah”

Perjalanan pun semakin menantang, rute yang dilewati lumayan terjal walaupun kemiringan masih diambang batas wajar. Sampailah kami di air terjun, dimana air terjun tersebut mengalirkan air panas yang menyegarkan, sewaktu melewatinya, detak jantung ini terpacu dengan sangat, dengan dibantu sebuah tambang kami menyusuri air terjun dari atasnya. Air panas ini pun menyentuh dan membasahi kaki ini, mungkin suhunya berkisar 60 deg Celsius.

“Jembatan air Panas”

Jam pun telah menunjukkan pukul 17.00. kabutpun mulai turun, sebelum perjalanan dilanjutkan, kami mulai mengatur regu perjalanan, senter pun tidak lupa kami siapkan untuk menempuh perjalanan di malam hari, dengan rute yang masih asing, kami pun melanjutkan pendakian. Gelap telah menyusupi GedePangrango, rombongan pun dijaga dengan jarak yang berdekatan, ujung tombak dan skipper di belakang telah siap dengan peluit yang siap dibunyikan jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Menyusun Rencana”

Aneh.. jalan yang kami lewati sangat berair dan cenderung makin lama semakin deras, ternyata kami masuk ke rute sungai, dan peluit pun dibunyikan dengan segera, setelah memastikan semua masih lengkap, kami segera berputar lagi menuju rute awal. Pukul 11 malam, akhirnya kami sampai di kandang Badak, dan disanalah kami mendirikan tenda,serta mengisi perut ini dengan bekal nasi yang harus kami masak dengan menyalakan paraffin. Ditambah dengan indomie rebus sebagai lauk kami. Setelah itu kami memutuskan untuk segera beristirahat. Pukul tiga pagi, kami segera memberesi semua, dan kami pun segera beringsut melanjutkan pendakian, dan puncak yang kami tuju ialah puncak Gede, sedangkan Pangrango harus menunggu pendakian berikutnya. Rute pendakian semakin terjal, dan sampailah kami di tempat yang mempunyai kemiringan hampir 90 derajat, kami pun segera mendaki dengan mempergunakan tali yang ada, tegang dan mendebarkan.

“tanjakan 90 derajat”

“menitih tali”

Dan setelah beberapa waktu sampailah kami di puncak, walaupun kami ketinggalan sunrise untuk beberapa saat, namun kami puas telah menaklukan Gunung Gede. Setelah puas menikmati pemandangan dan indahnya alam Gede Pangrango, kami kemudian turun lewat jalur gunung putrid, jalur yang sangat terjal dan berbatu, dan sampailah kami di padang edelweiss.

“Dari puncak Gede”

“sudut laen puncak Gede”

“kawah”

“jalanan pun menanjak”

“Pangrango”

“Dari Top View”

akhirnya kami pun berhasil menancapkan jejak dan goresan warna di puncak Gede, sungguh perjalanan yang sangat sarat akan emosi. terima kasih untuk sambutanmu Gede Pangrango. Kami akan selalu merindukanmu.

“terima kasih Gede Pangrango”


Beberapa waktu yang lalu, mungkin tepatnya 5 bulan yang lalu..hehehehe..saya bersama rekan kantor melakukan refreshing pikiran, adapun lokasi yang kami tuju ialah jalan-jalan sambil menikmati indahnya teh berjalan, eh jalan-jalan di kebun teh di Gunung Mas Mbogor.

Kebetulan tema yang diambil ialah backpakeran, dikarenakan dengan methode ini kita bisa menghemat biaya, dan bisa lebih menikmati hidup. Tepat pukul 06.00 WIB, saya sudah siap dengan peralatan mendaki saya, tas kapasitas 30liter telah diisi dengan dengan satu sleeping bag, matras, bekal makanan siap saji dan serta mengandung energi seperti roti tawar dengan selai, sosis siap makan, dan tak lupa pula beras pun uda masuk dalam kantong plastik dan siap direbus di medan penginapan. Pagi itu dari Mampang Prapatan, kami mengendarai Kopaja 57 jurusan Blok M – Pasar Rebo, ongkos yang kami keluarkan ialah 2000 rupiah, dan kebetulan kopaja tadi Full dengan AC (Angin Cendela) dan bergerak sangat cepat di pagi yang agak sedikit mendung yang menggelantung memayungi Jakarta.

Jam pun sudah menunjukkan pukul 6.30, dan kami pun sudah berada di pasar Rebo, lalu lintas cenderung masih sepi, namun sesepinya Jakarta masih saja kendaraan lalu lalang dengan seringnya. Dari pasar rebo kami kemudian naik bis jurusan Tasikmalaya. Penuh sesak bis ukuran ¾ yang kami tumpangi. Dengan bermodalkan uang 12.000 kami pun mulai menikmati detik demi detik perjalanan kami, cuaca pun semakin mendukung perjalanan kami, semilir dingin AC pun membikin kami terkantuk-kantuk.

Dua jam pun akhirnya kami tiba juga di pintu gerbang kebun teh Gunung mas, dimana kami telah disambut oleh segarnya udara pegunungan. Udara yang membebaskan kami dari belenggu polusi Jakarta.

Dan wisata ini akan segera dimulai, namun perut ini terasa memanggil. Dan saya putuskan untuk membeli 2 buah arem2 yang dijajakan seorang ibu paruh baya. Udara dingin menyegarkan ini membuat saya semakin lahap memakan arem2 yang dibungkus dengan sangat aneh menurut saya.

“Welcome…stranger”

Setelah melakukan peregangan sekenanya, kami kemudian mulai menyusuri kebun teh tersebut, nampak pohon teh yang telah lapuk dimakan usia, mulai memudar dan mengering. Langkah demi langkah ini terus menjejak, dan semakin lama rute ini pun semakin menggairahkan, masih dikelilingi oleh hijaunya pohon teh dan udara yang semakin menyegarkan. Ada kalanya menanjak, tidak sedikit pula ada turunan yang harus kami lewati, semak belukar pun mewarnai perjalanan kami.

“mulai untuk mendaki”

“Menuruni lewat tengah kebun Teh”

“masi turun…”

“i’m Veriiii Teaaaa”

“wuiii ada semak belukar juga”

Setelah beberapa lama, kami naik dan turun sepanjang kebun teh digunung mas, kami pun menemukan sebuah mata air yang teramat sangat jernih. Kami pun segera membasuh muka ini dengan segarnya mata air yang menyembul di gunung mas tersebut.

“air yang sangat jernih”

Perjalanan pun masih dilanjutkan, naik dan turun, melewati indahnya kebun teh. Sampai akhirnya sampai juga di pemberhentian terakhir, yaitu di masjid atta’awun. Dan dilanjutkan menginap di sekitar kebun teh dengan membuka tenda dan menikmati indahnya malam dengan jagung bakar.

“indahnya…”

“from different angle”

“indahnya kebersamaan…”