Category: Kampung UGM ku



Tartine restaurant Cilandak Town Square Jakarta Selatan 03 Februari 2011 11.00 – 14.30

disini saya tidak akan banyak menulis, biarlah gambar ini berbicara, dan menggambarkan betapa akrabnya kalau kita semua sudah bertemu di dunia nyata. ketika mata ini sudah saling bertatap, kulit ini saling menyentuh dan raga ini sudah berkumpul menjadi satu, maka kita akan menjadi suatu keluarga utuh, keluarga kampong  UGM

“French Coffee”

2 tahun yang lalu munas pertama saya ikuti, semua nya datang, pakdhe Vick dari Malaysia juga datang, Bank Al datang juga dari Kuwait, semuanya bisa kumpul menjadi satu di kafe betawi. tepat minggu lalu, tanggal 3 Februari 2011 kembali semuanya berkumpul di Tartine, minus Bank Al, mba Tika. Namun dari peserta, munas kali ini tergolong luar biasa, semua artis bisa hadir dan termasuk membawa keluarga masing-masing ke acara ini (matur nuwun uda mensukseskan acara ini).

“diskusi the grand design”

Obrolan kali ini berkisar bukunya Stephen Hawking, the grand design. semuanya melebur menjadi satu dan diskusi ini pun semakin ramai. semuanya mengemukakan argumentasi, semua mempertahankan pendapat dan kadang kala ada yang tertohok karena argument nya terpatahkan..hehehe

namun begitu ada yang terpatahkan semuanya ketawa ngakak. semua melebur menjadi satu, satu irama..

“tawa lepas”

adapun peserta nya ialah : Om Nukman Lutfhie, Om Eshape, Pakdhe Kibroto, Kang Bondan, Mas Tri, Ruri, Mba Tatik, Mba Intan, Mas Anung, Mba Raisah, Om Goen, dan Om Yasser.

“kang Bond dan si Imut nya”

“Om Nukman dan jagoan Om Ya”

“mas Anung dan Mba Tatik (loh yellow)?”

“Om Eshape dan Nyonyah”

“Yu Raisah”

“mas Tri and Fams”

kadang kala ketika di dunia maya kita sudah agak jenuh untuk berdiskusi dan mengemukan semua argumentnya, maka kadang ada inisiatif untuk melakukan munas ala kampong, dimana para jagoan dari negeri Gadjah Mada berkumpul menjadi satu dalam sebuah meja, tidak hanya untuk melepas kangen, namun yang jelas untuk eyel2an, disinilah ke kritisan kita diuji, dan ternyata para Kampongers dari GMU emang sangat kritis dan cerdas..

berikut ramenya diskusi munas kemaren…gayeng dan penuh dengan energi

“begini loh..”

“ya bukan begitu lah..”

“my favorit moment”

sebuah komunitas yang coba terus dipertahankan untuk sebuah almamater. acara ini ditutup sekitar puku l 14.30an, dan entah kapan lagi kita akan berkumpul dan bertemu lagi..

already miss U all…

 

Advertisements

masih banggakah kita


masih  banggakan saya dengan almamater saya?

kalo pertanyaan itu dilemparkan kepada saya, maka saya akan menjawab bahwa saya bangga dengan almamater saya. Ya pastilah saya bangga dengan Gadjah Mada, dan saya akan berusaha untuk selalu menjunjung tinggi civilitas saya, saya akan menjaga nama baik Gadjah Mada dan saya akan berusaha untuk memberikan sumbang sih, walaupun itu hanya kecil dan mungkin tidak seberapa.

sudah berapa ribu Gadjah Mada meluluskan mahasiswanya? mungkin hampir mencapai 200ribu. berapa persen yang masih peduli alamamaternya? i dont know.

saya dan semua alumni, pastilah menyadari bahwa kita ini bisa menjadi seperti saat ini ya karena Gadjah Mada, pasti semuanya pernah mengalami masa-masa penempaan diri, dan begitu semua proses ini sudah terlewati, maka lewat Graha Saba kita akan menyongsong dunia luar, untuk mengembangkan semua ilmu yang sudah kita peroleh untuk semuanya saja.

seiring dengan kemajuan akan teknologi serta perubahan GMU yang menjadi BHMN, dimana subsidi dari pemerintah untuk melangsungkan rutinitas dihapus, maka untuk biaya operasional GMU pastilah akan berusaha untuk mencari dana itu, dimana pastilah dana itu tidak sedikit ( sebagai gambaran tahun 2002 saja untuk biaya listrik, GMU mengeluarkan kurang lebih 200 juta) itu hanya dari biaya listrik saja, belum biaya yang lain. mungkin kita yang tidak memahami hal itu, pastilah akan menilai GMU itu mahal, tidak pro rakyat, kapitalis dll.

Dan mungkin juga banyak yang akan mencerca kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan GMU, namun tahu kah kita sebenarnya buat apa kebijakan itu diambil? ketika kita tidak suka dengan kebijakan itu, cobalah untuk berdiskusi dengan pihak yang terkait, jangan hanya “muni-muni” tanpa ada dasar dan cenderung untuk menyerang civitas GMU. saya pernah membaca tulisan seorang oknum alumni yang menjelekkan GMU termasuk civitas didalamnya dengan kata-kata yang tidak sopan dan cenderung merendahkan, tidakkah oknum itu ingat akan siapa dan dari mana dia dilahirkan? ahh orang kalau sudah lulus S1 dari GMU, kemudian melanjutkan S2 dan S3 di LN, dan kemudian melupakan hakikat dirinya itu berasal dari mana?

ahhh..mungkin juga karena dia lulusan LN maka dia merasa bahwa dia itu sangat hebat dan semua pemikirannya itu sangat revoluisioner, namun benarkah demikian? saya merasa bahwa oknum itu hanyalah orang yang cenderung kecewa dan tidak pantas menyandang predikat alumni GMU, daripada berteriak untuk suatu hal yang tidak berguna, kenapa pikiran kita tidak kita pergunakan untuk berusaha memajukan GMU. ahhhh semua nya pasti sudah mempunyai kepentingan abadi masing-masing dan mana mungkin bersedia untuk mikir alumni nya.

 

-tHs-

menjunjung tinggi kebanggaan sebagai seorang alumni GMU


Jumat Malam, 30 Juli 2010 saya mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Kafispolgama DKI dan Kagama DKI. Jam dikantor telah menunjukkan pukul 17.00 namun dikarenakan pekerjaan saya masih harus berkutat dengan data-data dari vendor. Akhirnya pukul 17.30 saya berhasil keluar dari kantor, dari TB Simatupang, saya langsung memacu kendaraan ini ke kantor Menpora yang berada di seputaran Senayan. Macet pun semakin larut kian parah, dimulai dari Citos sampai Trakindo, kemudian disambung lagi di warung buncit. Namun kendaraan ini terus saya membelah kemacetan yang menjadi sarapan bagi penduduk ibukota.

Sampai di perempatan Gatot Subroto, saya ambil jalan menuju senayan, lancar dengan sedikit macet di daerah semanggi, kemudian belok kiri menuju ke lokasi yang bersebelahan dengan gedung TVRI. Sesampainya disana, saya langsung memarkir kendaraan dan menemui panitia untuk konfirmasi kehadiran. Pukul 19.20 saya sampai juga, dan telah banyak alumni Gadjah Mada yang telah berkumpul, khususnya dari Fisipol.

” Sugeng rawuh.. “

” Daftar ulang dolo… “

Dipandu oleh mas Bambang Gundul dan Anang Batas, acara pun semakin ramai dan meriah, serta terlihat pula mas Gugun Gondrong yang hadir di malam itu (semoga semakin sehat mas Gugun, Semangat).

” mas Gugun dan duo MC kocak 🙂 “

Suasananya pun teramat sangat khas jogja, ada bakmi Godog, ada angkringan pula. Ya angkringan mas Jabrik, sungguh luar biasa, seperti membawa miniature Jogjakarta ke Jakarta. Hidangan khas angkringan mulai dari sego kucing, kopi joss, wedhang jahe, gorengan dan tak lupa pula jadah bakar yang harum mewangi..saya cinta angkringan 🙂

“Angkringan…aku padamu :)”

“jadah Bakar…”

“Bakmi Jogja”

“suasana semakin meriah”

Kurang lebih pukul 20.45, nampak Bang Andi Mallarangeng, datang ke acara, dengan setelah batik merah orange, dan tidak lupa pula Beliau didaulat menyanyi oleh duo MC kocak. Hadir pula Cak Imin serta Mas Roy Suryo, acara pun semakin ramai dan meriah. Dari pihak UGM nampak Bapak Dr. Pratikno hadir pula memberikan kabar kampus Fisipol yang rencananya akan dipugar menjadi lebih modern lagi.

“mas Roy Suryo dan Bang Andi”

“bersama Cak Imin”

“menjawab berbagai pertanyaan”

“mas Gugun dan Bang Andi”

Sekitar pukul 24.00, dikarenakan mata ini tidak dapat mehanan kantuk, akhirnya saya memutuskan untuk pulang, dengan banyak pengalaman luar biasa selama beberapa jam di Plasa Menpora. Semoga ikatan ini akan semakin kuat, dan akan menular ke semua fakultas di Gadjah Mada. Terima kasih untuk malam yang sangat luar biasa, dan memang benar Cintaku hanya untuk kampus Biru.

“maju teruss..”


hari : Rabu 07 octo 09
jam : 18.00 ~ sak2e
tempat : kafepisa CITOS

“we meet agen”

Mendung dan macet tidak menghalangi kami untuk bertemu. Bertemu untuk sekedar bercanda, diskusi dan membuat hati ini semakin dekat serta saling memiliki. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, dan aku sudah menginjakkan kaki di Citos lagi untuk kedua kalinya. Masih sama, dan memang benar masih sama. Munas di kafe pisa Citos ini merupakan munas kampung kedua yang aku ikuti, dan untuk acara hari aku ditunjuk menjadi EO nya. Cek sini cek sana, browsing sini browsing sana, dan akhirnya ketemulah tempat ini.

Nampak di ujung pojok, telah ada KH dan Kang Danar beserta keluarga telah asyik bercakap-cakap, segera aku menghampiri mereka berdua dan duduk manis untuk mendengarkan ceramah KH yang telah dimulai. Sembari tangan ini tidak lepas dari buku menu, untuk mencari dan mencoba semua yang ada di resto ala italia itu.

Sore itu, Jakarta diguncang macet yang luar biasa. Dan kemacetan pun mengurungkan niat Pakdhe Vick, Om Hendi dan Mbak Intan untuk mengikuti acara munas kampung ini, dan di last minute Om Eshape pun menelpon dan mengabari tidak bisa bergabung, dikarenakan Lilo sang putra bungsu sedang dirumah sendirian..

Beberapa saat setelah minuman dingin itu disajikan, datanglah duta dari BSD dengan senyuman khasnya. Sore itu mas Anung datang dengan setelan jaket warna hitam dan berkesan santai. Segera kami berempat meramaikan suasana sore yang diguyur hujan rintik mengarah ke deras.

“teh panas+diskusi agama semakin panas”

Ketika obrolan semakin panas, dengan topik-topik yang memberikan pencerahan, muncullah pakdhe Ki dengan tampilan Biker Harley Davidson. Semakin lama semakin panas dan membuat hati ini dag dig dug. Ceramah KH yang disusun dengan bahasa yang sistemtis dan disampaikan dengan penuh data data serta dalil-dalil membuat mata ini semakin cerah..ahhhh seperti mendapatkan air sejuk dikemaraunya gurun sahara.

“jagoan udah pada ngumpul”

Tangan kecil ini tak luput pula untuk mengajak maen Vian, putera Kang Danar yang begitu menggemaskan. Lucu dan mempunyai energy yang luar biasa, lari kesini, trus ngajak lari lagi kesana..

Beberapa saat kemudian nampak sosok gagah tinggi besar terlihat di ujung tangga,

“Alhamdulillah doa ku terkabul, Om Nukman ga dapet tiket Air Supply, jadine bisa datang ke Munas,,hehehehe”

Aku pun segera berjabat tangan dengan mas Anung, menandakan kemenangan.

Obrolan semakin rame, diselimuti pula dengan gumpalan rokok yang mengepul dan menggumpal. Semua pendapat keluar, semua argument tersampaikan dan ketika hal lucu itu datang, kami ketawa “ngakak”

Tidak terasa hari sudah beranjak malam, menandakan bahwa kami harus segera beranjak menutup acara sore itu, acara dimana kami mendapatkan apa yang dinamakan silaturahmi. Tidak hanya berkumpul, namun kami juga berbagi, bercanda dan membalut semua itu dalam sebuah wacana ala kampung.

“Vian yang ngangeni”

keenam enjinir dari angkatan 72 sampai 2001 telah mewarnai sore mendung di CITOS
keenam enjinir dengan berbagai macam profesi itu larut dalam warna bumi yang selalu berotasi…
keenam enjinir itupun mempunyai warna yang khas…

ya…, 6 enjinir dimana 1 seorang kyai, 2 juragan dan 3 masih jadi enjinir. Kami akan segera bertemu dan berkumpul di kesempatan dan keadaan yang laen.


Cerita munas Kampung(an) UGM di Citos 08.07.09 (18.30 ~ 22.30 WIBCitos)

“ramee too…”

munas ini terjadi ketika aku belum punya blog. Makanya aku baru nulis sekarang, sekedar untuk mengingat dan mengenang lagi akan suasana malam itu, malam dimana aku bertemu dengan para sesepuh kampung ugm, yang selama ini hanya “kudengar” dari tulisannya, kulihat dari eyelannya dan kuamati dari gaya berpikirnya.

Malam itu tepat pukul 18.30 aku telah sampai di Citos, sebuah Mall yang terletak di jalan TB Simatupang Jakarta Selatan. Dengan modal P20 aku berangkat, setelah sampai di perempatan departemen pertanian aku segera menurunkan badan ini dan berganti dengan angkutan bernama taksi. Total biaya untuk transportasi 27.000 IDR.

Walaupun sudah hampir 1.5 tahun aku mencari “upo” diJakarta, baru malam itu aku menginjakkan bumi di Cilandak Town Square :D. ya sudahlah tidak apa2, lha wong ga dinilai ko..hehehehehe

Muter dan mencari Kafe betawi, setelah modal tanya sana dan sini, pak saptam dan bu satpam, akhirnya ketemu juga.

“Wah mana ya orang2nya?” sambil clingak-clinguk wajah ini mulai mencari.

Dan akhirnya aku menemukannya, nampak senyum ramah dari 2 orang yang akhirnya kuketahui bernama mas Anung dan Pakdhe Rovicky sang bapak dongeng geologi yang sudah sering kubaca blognya. Setelah salam sini salam sana, aku mendudukkan diri ini pada kursi yang telah ditata sedemikian rupa untuk acara munas malam itu.

“Pakdhe Vick bapak geologi”

Tak lama kemudian nampak Om Nukman, Om Eshape, Bank Al, mba Intan, mba Tika, mba Nita dll.

“mba Tik n sopo aku lali…”

Bank Al n Om Eshape juga”

“Nieta…”

Suasana pun semakin cair semakin rame, dikarenakan malam itu ialah malam setelah paginya diadakan pemilu, maka tema malam itu pun tidak lepas dari topik seputar pemilu, penggiringan opini public dan ahhh aku sendiri sudah lupa, lha wong kejadian ini terjadi 1tahun yang lalu je.

Oia, kalau yang tidak ikut munas pastilah akan dirasani, disini aku baru tahu, lha ini munas pertamaku dengan para pendekar kampung ugm.

Sebagai anak yang masih hijau dan miskin akan pengalaman serta pengetahuan, aku hanya sebagai pendengar setia. Rame itu pasti, seru itu jelas dan yang pasti ngeyel2an nya ada ekspresinya. Banyak hal yang bisa aku petik dari pengalaman pertama ku ini, pengalaman yang membuka akan cakrawala berpikirku. Oh hal ini lah yang membuatku jatuh cinta akan milis kampung ini, dimana kita akan bisa mengekspresikan diri sebebas2nya dan sengeyel ngeyelnya tanpa adanya jaim sedikitpun :D.

Begitulah, setelah malam ini semakin larut, dan sang waktu telah menunjukkan pukul 22.30, keluarga kecil ini segera membubarkan diri untuk bertemu lagi dalam kesempatan dan kesempitan yang laen.

“sampe ketemu lagi Kevin”

Ada Quote yang menarik :

“hobby bisa menjadi suatu pekerjaan dan menghasil kan”