Category: Khayalan ku


Lelaki dengan Novel Burung Manyar


Chapter-1
Pertemuan pertama

Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas wajahnya ketika aku bisa duduk satu bangku dibelakangnya di kereta taksaka, jurusan jakarta jogjakarta. Aku sudah melihatnya semenjak berada di peron stasiun, lelaki itu duduk cuek sembari membaca sebuah novel karangan romo mangun. Kalau aku liat sekilas, sepertinya lelaki itu membaca burung-burung manyar. Lama aku mencuri pandang, di antara ribuan pemudik yg masih dengan setia menanti kereta yang akan berangkat pukul 20:45 itu.

Jarak antara tempatku duduk dengan lelaki itu cukup jauh, aku hanya bisa melihatnya secara samar. Entah mengapa, aku suka melihat penampilannya yang sangat cuek tanpa berusaha mempedulikan keadaan sekitarnya yang sangat hectic. Sesekali, lelaki itu membetulkan letak kacamata hitam yg menempel di wajahnya.

“Klik..”

Aku mencoba untuk memotretnya dengan kamera handphone ku, namun hasilnya kurang memuaskan, dan sangat kabur.

Ketika ada sebuah kursi kosong didepannya, aku segera mungkin menuju tempat itu, namun baru saja aku mau mengangkat kaki ini, ada seorang wanita yang sudah lebih dahulu mengambil tempat strategis itu.

“Arrgghh..” geramku

Pandanganku berubah mengamati wanita muda tadi, memang cantik sih, dan ternyata wanita tadi juga mencuri pandang ke lelaki dengan novel burung manyar itu. Aku terus saja melihat kejadian yang tidak menyenangkan hatiku itu. Ingin rasanya aku menghalangi pandangan strategis wanita itu.

“Apaaa… dia mengeluarkan handphone.. ahhh..”

“Sial, dia sudah mengambil gambar lelaki itu..” gerutu semakin menjadi

Aku kemudian melangkah maju, sembari membawa tas karier dipunggungku, aku memutari tempat itu, dengan harapan dia melihatku. Namun, sial saja, tatapannya masih asyik melihat novel yang sedang dibacanya.

Kulirik jam tangan yang aku beli ketika aku PTT di kalsel dulu, 20:30, dan ketika pandangan ini beralih kulihat tempat duduk di pojokan sudah ditinggal penghuninya, dan juga wanita itu sudah tidak ada. Aku segera berlari, hampir saja aku terpeleset di anak tangga kedua stasiun yang menuju ke peron.

“Hati-hati mbak,keretanya masih 15 menit lagi kok” sapa petugas KAI dengan ramah.

Aku hanya tersenyum simpul saja, sembari segera naik ke atas. Sesampainya diatas, mata ini terus berusaha mencari sosok itu, namun tetap belum ketemu.

“Mbak, di gerbong berapa?” Tanya petugas kereta

“Oh iya, sebentar pak, saya liat tiket dulu, taksaka 6, 8D..” sahutku setelah melihat tiket yang sudah lusuh itu

Setelah aku masuk, aku kemudian mencari tempat duduk itu. Segera aku rebahkan diri di pojok dekat jendela.

“Ohh.. lelaki itu masuk gerbong ini,semoga dia duduk disisiku..” sembari memeluk jaket dan berdoa khusuk.

Satu, dua dan tiga langkah lelaki itu berhenti, melihat tiket dan diapun segera memasukkan tasnya diatas,tepat diatas kursi 8CD.

“Asyikkkk….” batinku

Aku pun memejamkan mata, karena aku tidak kuat untuk menerima anugerah ini. Aku masih saja memejamkan mata ini, sembari menunggu suara dentuman kursi disebalahku.

“Buukk..” suara itu terdengar lemah..

Aku segera membuka mata dan ingin mengucapkan sedikit salam kepadanya. Namun,bukan lelaki itu yang aku liat, seorang ibu2 yang ternyata duduk disampingku.

“Dimana dia?”

Sontak aku beranjak dari tempat duduk ku, dan mata ini melotot ketika melihat lelaki burung manyar itu duduk didepan ku bersama wanita yang sudah mencuri2 pandang di peron tadi.

“Ahhh sialan, lucky bitch…” amukku

Ingin aku menjambak rambutnya,namun keinginan itu aku pendam. Terdengar obrolan didepanku, renyah juga suaranya, dengan buku yang sudah di tutup dan berada di pangkuannya.

“Tri… oh bukan ternyata cewek itu yang namanya putri..”

Aku masih saja cuek mencuri dengar, percakapan yang sangat menyenangkan, kadang diiringi dengan suara tertawa dari kedua orang di depanku, yang tentu saja hal itu membuat ku sangat gondok dan jengkel setengah mati. Aku merasa perjalanan ini akan memakan waktu yang sangat lama dan tentu saja menyebalkan. Sambil meraih roti yang ada di tempat kecil sampingku, dan ku kunyah dengan sadis.

“Maaf mba..” kata ibu2 disampingku

Apaan sih ini orang, mengganggu kenikmatan ku saja, apa dia tidak tahu kalau aku lagi bete dan jengkel. Ditambah manggil aku lagi..

“Iya, ibu.. kenapa?” Sungutku dengan wajah yang kubuat manis

“Itu yang mbak makan roti saya, roti mbak kan sudah habis dimakan semenjak ada di cikampek tadi” katanya menjelaskan.

“Oh..iya ya.. maafkan saya ibu, aduh gimana ini.. adududu maaf ken” wajahku mendadak semakin tidak enak untuk dipandang, dan rona wajahku pun memerah tidak lucu. Untung saja, ibu itu mau mengerti, barangkali dilihatnya aku mungkin terlalu lapar.

“Ah, sialan, gara2 lelaki itu aku jadi malu setengah dewa”

Perjalanan kereta pun semakin mendekat ke jawa tengah, dan dengan banyak kegalauan aku pun lelap dipeluk dinginnya AC taksaka itu, selimut biru itu tidak lupa aku tarik untuk menutup semua badanku.

“Perhatian, bagi penumpang yang turun di stasiun purwokerto harap menyiapkan diri”

Aku terbangun mendengar suara itu, segera aku mengusap mata serta menutup mulut karena mendadak uap kantuk dari mulutku keluar.

“Apaaaaa….”

Kulihat gadis itu sudah bersandar di pundak lelaki itu, pasti hal itu dilakukannya dengan sengaja, dan dia pasti mencuri semua kesempatan itu.

“Curang….” kataku setengah berteriak

Mendadak semua mata tertuju kepadaku, ternyata teriakan ku lumayan keras,tak lupa lelaki didepanku juga berbalik melihatku. Malu, tentu saja, dan aku hanya diam tertunduk malu, sembari berpura-pura mengigau dengan membuat gerakan mengucek mata. Kulihat lelaki depanku sekilas tadi menampakkan senyuman yang manis, dan setidaknya karena teriakan ku tadi, gadis itu sudah tidak bersandar lagi dipundaknya.

Segera aku merapatkan kembali selimutku. Sambil tetap menahan malu yang sangat membuatku mati gaya.

Pukul 5:30 kereta sudah mulai masuk ke stasiun tugu. Kulihat semua penumpang sudah siap sedia, termasuk lelaki itu dan kulihat lelaki itu memakai kaos kagama, aku melihat kecil lambang itu, dan sebuah tulisan “kagama virtual”

“Ahhhh…kesempatan ini” gumangku

Sebelum berpisah aku harus tahu namanya. Setelah kereta berhenti aku pun berdiri didekatnya.

“Mas, kagama juga ya? Aku juga kagama. Namaku Neta” kataku dengan cepat padat singkat.

Oh ternyata orang nya itu, yang sering aku dengar serta aku baca tulisannya.

“What a small world ya” katanya singkat.

Oh, senyumnya menggetarkan hatiku, suaranya sangat menenangkanku. Dan obrolan singkat itu mewarnai hari pertama ku di jogja, 2 hari terakhir berpuasa untuk menyambut lebaran dikota kelahiranku. Oh sungguh indah jogja pagi ini.

Advertisements

Sebuah Ungkapan Hati


            Tepat tanggal 25, kebersamaan ini berusia 3 bulan….ya 3 bulan pertama kita, yang terisi dengan indahnya cerita cinta, canda tawa disertai dengan problemantika kehidupan yang datang silih berganti. Namun, itu semua tidak menjadikan kita patah arang, kalut, risau, serta goyah akan terpaan badai kehidupan yang selalu datang berganti tanpa memperdulikan bagaimana pedihnya perasaan kita.

            Karena kutahu dan kusadari, bahwa aku hanyalah satu dari sekian banyak kumbang yang terlalu beruntung, untuk dapat hinggap dalam mekarnya mahkota bungamu, kau peluk aku dengan harum mewangi, yang terpancar dari dalam kalbumu. Jika boleh aku berkata jujur, ku tidaklah pantas untuk dapat mengisi ruang kehidupanmu, hadir dalam setiap mimpi-mimpimu…,sekali lagi, aku terlalu beruntung dapat memiliki hatimu.

            Kita sepakat, walau kejadian yang menimpa kita berlangsung teramat cepat, namun kita akan senantiasa untuk saling belajar memahami dan mengerti. Ku yakin…., dalam relung hati kita yang terdalam, masih banyak pertanyaan yang mengganggu dan akan selalu menyembul ke permukaan dari indahnya cerita yang kita rajut dan kita renda bersama dengan campur tangan dari DIA pemilik indahnya rasa ini.  Selama ini, ku mungkin terlalu banyak menuntut dirimu, aku juga merasa bahwa ku masih terlalu egois, namun engkau tetap sabar dan berusaha menyenangkanku. Dan dengan segala keterbatasanku engkaupun rela menerimaku apa adanya tanpa syarat. Dan dengan teriring senyum yang selalu mengembang, engkau membukakan pintu hatimu serta selalu menyambutku dengan penuh ketulusan dan kelembutan hati.

            Seiring dengan berputarnya sang waktu, detik pun berganti menit, menit bergulir menuju jam dan jam pun berjalan kearah hari. Dan hari ini kau tergolek dalam panasnya suhu tubuh yang melebihi normal. Hari ini keceriaan yang selama  ini selalu menyertaimu hilang terbakar panas yang menyelimuti tubuhmu. Dalam ketidakberdaayanku, kuhanya bisa memberikan waktuku yang tidak berharga untuk menemani, untuk selalu bersama dan menjaga dirimu…, tanpa bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk membuatmu menjadi lebih baik. Sekali lagi aku hanya mempunyai waktu, waktu yang akan habis termakan oleh kejamnya hari, waktu dimana dia akan terus berjalan, pergi, menjauh, menjauh dan semakin menjauh sampai batas cakrawala kehidupan dan tidak akan pernah kembali.

            Saat hati dan jiwa ini telah terwarnai oleh kehadiranmu, raga ini telah hanyut terbawa jalur kehidupanmu. Rasa yang telah kutanam di dalam palung jiwaku ini, mulai bersemi oleh karena arti penting hadirmu dalam bingkai-bingkai kehidupanku. Ketika rasa ini semakin merona untuk menikmati indahnya rasa yang akan kita tempuh dan lalui bersama, engkau terbaring lemah tidak berdaya.

           Ketika engkau terjatuh, dengan segenap kekuatan yang melekat dalam rapuhnya diriku, ku akan menangkapmu, mendekapmu, memberikan sedikit kenyamanan dan akan selalu menunggu hadirmu dalam keceriaan. Didalam kegoncanganku, ku akan selalu menunggu sampai keriangan itu berkilau lagi dan kedua bulan itu, memancarkan indahnya sinar yang akan datang mengisi hari-hari kita. Walau waktu demi waktu yang akan datang silih berganti, tanpa akan ku ketahui kapan munculnya sinar dari kedua bulan itu, namun ku akan selalu menunggu dan akan tetap  menunggu.

            Saat ini DIA menghendaki kita untuk menerima indahnya rasa yang datang ini, ingin kita lebih membuka cakrawala berpikir dalam menyingkapi keluh kesah kehidupan. DIA ingin kita tabah dan rela dalam menghadapi semuanya, dan ku yakin DIA teramat sangat menyayangi kita.

            Di sudut indahnya matamu, dengan disertai derasnya butiran-butiran halus yang mengalir tanpa dapat aku hentikan, ku bersimpuh sembari menengadahkan kedua tangan kotor ini dalam indahnya doaMU, demi bersinarnya kembali dua bulan yang berada dalam kuasa mutlakMu, dimana hal tersebut teramat berarti dalam kehidupanku.

PIN kamu berapa?


“PIN Loe berapa?”
“apa?”

“Loe kan uda lama kerja di jakarta kenapa tidak punya PIN?”
“loh emang aku tidak tahu, apa sih yang kamu maksud PIN.”

sejenak mari kita dengarkan percakapan kedua anak manusia yang saya tafsir berumur 19 tahun, entahlah siapa yang kurang pergaulan atau siapakah yang terlalu termakan akan mode. Kurang jelas, siapakah nama kedua anak manusia itu, namun untuk lebih amannya mari kita pangil dia Bejo dan Surti. Bejo seorang anak dari desa yang begitu lulus sekolah menengah pertama kemudian merantau di jakarta, dengan logat bahasa yang masih sangat kentara dia pun mencoba untuk merubah nasibnya, mungkin pilihan ini bukan  pilihan nya, dikarenakan Bejo sering kali menyinggung masalah sekolah sampai kuliah. Sedangkan Surti sendiri seorang anak gaul Jakarta dengan gaya yang lumayan trendi.

Di pojok swalayan yang terletak diperempatan Tendean sembari menata kaleng2 susu serta makanan ringan di rak mereka melanjutkan pembicaraannya. mari kita dengarkan sambungannya.

“Sur, lah aku itu emang tidak ngerti bener, pie to?”
“ah Elo Jo, hari gini ntu tiap orang punya PIN, kemana mana kalo ketemu ame orang baru terus tanya PIN. itu keren lagi Jo”

“wealah..itu liat kamu nantanya jadi ngawur gara2 ngomongin masalah PING, eh opo mau, kalo kamu kerja itu ya mbok yang bener to Sur”
“yang penting Gaye Jo, pokoknya tanya PIN itu sudah bisa gaye, Elo itu yang udik ga tahu PIN”

masih saja percakapan yang kadang diselingi bahasa jawa medok itu hanya mbulet saja, PIN dan PIN. saya sendiri tidak habis pikir kenapa si Surti hanya tanya sedangkan Bejo ya tetap njawab ga tahu. sudah hampir 30 menit percakapan tidak ada arah itu berlangsung. eh sebentar, saya keliling dolo, biar tidak dicurigai mereka.

“kalo begitu coba kamu kenalan sama mas yang makai dasi kae Sur, terus minta PIN nya?”
“kae kae..ini jakarte sodara..lagian ngapain juga Gue minta PIN ke orang itu, kan ga keren itu orang.”

“loh, katanya tadi biar keren, dan itu kan orang baru Sur. gimana to kamu itu, tidak konsiten”
“eeee,,sejak kapan raden mas Bejo ini jadi pintar? ahh Loe Jo, harus nya ente belajar sama ane biar keren..”

“karepmu lah Sur, aku ga dong. pancen aneh koen iku, lagi sedino didadekne sak shift ndek awakmu wes mumet sirahku”
“sirahmu sirahmu ape Loe kate?..”

duh Gusti, saya hampir saja tertawa ngakak mendengar keluh kesah Bejo, saya sendiri menebak apa Bejo itu emang Goblok, lah masak PIN saja tidak tahu. saya menebak mungkin Surti itu tanya PIN BB, namun dari tadi saya liat tidak ada BB yang keluar sama sekali, yang ada hanyalah PIN dan PIN yang diulang ulang seperti kaset rusak.

“PIN Loe apa”
“embuh”

“apa Loe punya PIN?”
“luweh karepmu”

“udik ga punya PIN”
“……..”

pengen sekali saya menimbung dalam percakapan dua orang yang tidak jelas juntrungnya itu, namun saya urungkan. coba kita lihat apakah besok mereka akan mengobrolkan hal yang sama, saya pun segera pergi ke kasir untuk membayar beras pandan wangi 1.5 kg saya dengan masih menyimpan penasaran apa yg dimaksud dengan PIN itu.

Kapan Aku Harus Melangkah


Kadang aku berpikir, kenapa aku tidak berani untuk melangkah lebih kedepan. Kadang aku berpikir bahwa melajang merupakan pilihanku. Walaupun hal itu banyak sekali bertentangan dengan keluarga besarku. Serta aku pun sudah menebalkan telinga ini dari komentar komentar miring disekelilingku. Kata orang aku itu cantik, pinter walaupun kadang jutek, wajarlah dikarenakan aku yakin semua orang pasti ada sifat jutek ini. Namun terlepas dari itu semua, aku memang cenderung seorang pemilih. Ya wajar lah, aku ingin mendapatkan sosok yang terbaik untuk kehidupanku, aku berpikir demikian karena lelaki itu akan mendampingi ku seumur hidup. Begitu sempitkah pemikiranku?

Gerimis menyapu kota depok, dari bangkon lantai 2 rumah om ku, aku melihat riuh orang berlarian menghindari sang gerimis. Tukang ojek pun segera berteduh di emperan toko furniture. Angkot pun masih saja seenaknya berhenti dipinggir jalan raya bogor itu. Sabtu-minggu aku sering habiskan waktu ini di Depok, berkumpul dengan adik adik sepupu ku, ngajak mereka nonton di bioskop serta makan bersama dengan mereka. Bukan..ini bukan pelarianku. Kenapa aku tidak ikut kegiatan almamaterku, kenapa aku tidak ikut kegiatan luar. Siapa tahu aku akan menemukan sosok itu. Kenapa juga aku tidak sering maen ke UI.

“cari aja di UI Dee”

“gila kamu, masak gue nyari anak kuliahan”

Teh hitam yang aku bawa dari Kebun mas puncak itu telah larut dalam teko kaca, warna nya semakin memekat. Tidak lupa aku menambahkan kulit jeruk untuk memberikan aroma segar dalam teh ku.

“kamu mau pakai gula batu atao ga Sa?”

Rissa, teman baikku dari SMA, Kuliah dan sampai saat ini. Kami berdua sering berkengkrama di balkon ini. Pun malam minggu ke sekian puluh telah aku lewati dengan hal yang sama, berulang dan akan terus berulang. Rissa sampai saat ini terus menemaniku, sering kali dia menomor dua kan pasangannya. Gadis cantik dengan rambut hitam lurus terjuntai sampai punggung, dengan lesung pipit serta gigi gingsulnya, itulah Rissa.

“apa kamu mau sepertiku aja Dee?” katanya dengan penuh senyum mengerikan 😀

“ehhh…enak aja..” :p

Malam semakin larut, teh ini sudah terasa sangat dingin, walaupun demikian jalan depan rumah ini tidak pernah menampakkan sepinya.

“pesen 14022 donk, laper ini. Sapa tahu nanti mas yang nganter ganteng..hahahahaha”

“dasar nenek jelek, kalau ganteng nanti kita culik aja.. hahahaha..”

Kurang lebih 20 menit kami menunggu, akhirnya 4 buah ayam goreng spicy dengan 2 kentang goreng extra besar dan tidak lupa 2 sup porsi kecil telah diantarkan. Gerimis sudah menyingkir, bintang pun mulai menampakkan senyumnya.

“tumben kamu ga pakai saos Sa? Pasti ada sesuatu”

“Gue lagi ga ingin mbahas ini dulu..nanti Gue ngambek ma Elo..”

++++

Jogjakarta, 5 tahun yang lalu, disebuah warung jagung bakar di perempatan kentungan

“kamu gitu ya Dee, kan uda aku bilang aku belum mau cerita, kamu kok maksa sih, nanti kalau aku sudah tenang aku pasti akan cerita ma kamu..” sentak Rissa di kamar rumahku

Setelah itu wajahnya berubah cemberut dan untuk meredakannya aku mengajaknya makan jagung bakar di kentungan ini. Ya, jagung bakar merupakan cemilan favoritnya dan tentu saja dengan saos yang dioleskan. Aku mengetahui kebiasaan “aneh” nya ini sudah semenjak semester awal sekolah di SMA, dan aku mulai mengamati kebiasaannya ini. Makan roti pakai saos, makan sate pakai saos, makan makan jagung pakai saos dan yang lebih konyol lagi makan buah pun harus memakai saos. “Dee, asalkan ada saos aku bisa hidup kok, pokoknya ada saos..hahahaha”

Setelah jagung pesanan kami selesai dibakar, kami pun pergi be Boulevard UGM, disana kami duduk sembari menikmati jagung ini, tidak lupa pula cuci mata. Motor kami parkir tidak jauh dari tempat kami duduk. Tidak lupa kami memesan ronde untuk pelengkap jagung yang kami santap.

“Dee..kamu jangan kaget ya..aku akan bercerita hal yang selama ini belum aku ceritakan ke kamu, aku masih menunggu saat yang tepat untuk mengutarakan hal ini. Saat ini belum ada yang mengetahui hal ini, kamu lah yang akan menjadi yang pertama..”

Untuk beberapa saat Rissa menghela nafas panjang…

“sebenarnya….janji kamu ga marah ya Dee?”

“iyah..aku janji..”

“tapi…aku masih ragu untuk mengungkapkannya, aku takut kamu membenci dan marah kepadaku.”

“enggak lah, kita kan sudah berteman semenjak SMA, kamu juga udah tahu aku kan?”

“sebenarnya…aku..

Untuk beberapa saat suasana hening, hanya kadang motor lalu lalang lewat boulevard. Angin malam pun bertiup menggigit kulit ini, segera aku membetulkan letak jaketku yang agak terbuka, sembari menunggu kata itu terucap dari bibir tipisnya Rissa.

“iyaaaaaaa..aku mencintaimu Dian Anggraini…”

+++++

“itu saosnya buat aku aja ya Dee?”

Kami pun semakin asyik menggigit daging ayam crispy itu. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Kami pun masih asyik berhaha hihi hoho..

“Gue lagi sebel ma Kheisa, makanya Gue mau disini sampai pagi, biarin aja dia mau kemana..”

“kamu ya, waktu kamu bilang sama aku bahwa kamu mencintaiku, aku syock tahu. Kenapa sih kamu itu bisa jadi menyukai sesama mu sih Sa?”

“ahahaha… habis lo cantik banget sih, makanya Gue cintai Elo waktu itu..”

Aku tidak habis pikir dengan Rissa, menurut cerita nya waktu itu, dia tidak bisa percaya lagi sama cowok, dia melihat kelakuan para lelaki di lingkungannya, termasuk di keluarganya. Entahlah, yang aku tahu seperti itu. Mungkin juga Rissa trauma dengan semua itu. Dan memutuskan untuk mencari kenyamanan dari sesama nya, walaupun orang pertama yang di tembak nya itu aku.

Kembali lagi ke persoalanku, persoalan hidupku, masa depanku. Aku takut di usia ku yang sudah meninjak dua puluh sekian ini, aku akan semakin menjauhi itu semua dikala aku mencari kesempurnaan itu. Ahh mungkin benar hal yang ideal itu hanyalah gas ideal. Tidak ada kehidupan yang ideal, walaupun aku mencoba untuk menurunkan kadar ideal itu. Aku juga berdoa supaya aku tidak terpengaruh oleh Rissa, ya aku masih ingin menjadi seorang normal dengan kehidupan normal pula. Ketika aku mengingat malam itu,malam dingin di boulevard kampus tercinta, aku tersenyum getir. Aku tidak menyangka bahwa dia seperti ini.

Ya, hampir satu bulan aku tidak berbicara dengan nya, aku hanya bisa diam tanpa tahu harus berbuat apa lagi.

“heyyy.. pasti lagi ngayal jorok ya?”

“idih enggak lagi.. kamu itu yang jorok dari dulu :p”

Tiba-tiba kami pun berpelukan saling menitikkan air mata, buliran panas ini pun jatuh membasahi pipi kami berdua. Malam semakin hening, semilir angin bertiup mematikan lilin terapi yang kami kami nyalakan untuk menyegarkan pikiran akhir minggu kami. Untuk sementara kegalauan hidup kami pun terbawa angin malam, tergerus embun pagi yang mulai turun membasahi bumi.

Entahlah..untuk saat ini aku tidak berani untuk menyibakkan kabut tebal itu, ku akui aku takut untuk melangkah, ku akui aku terlalu rapuh untuk sekedar meraba dan aku hanya ingin dimengerti, setidaknya untuk saat ini.

Demi uang 2000 rupiah


“demi uang 2000 rupiah pak”

Sebuah kata-kata yang sangat polos meluncur dari mulut gadis kecil berusia kurang lebih 6tahun an. Kebetulan sore ini Jakarta diguyur hujan lumayan deras. Dan hujan deras ini membawa berkah bagi mereka anak-anak kecil penjaja jasa payung.

“emang tidak takut masuk angin ya dik? Kan hujan-hujanan” tanyaku

“enggaklah pak, daripada dirumah ga ngapa2in mending disini, kan sekali nganter orang bisa dapat duit 2000 perak.”

Ya, mereka telah memilih atau kah memang tidak ada pilihan? tidak tahu. Saya melihat tidak hanya ada 2 atau 3 orang anak kecil saja, namun mungkin ada sekitar 10an anak kecil yang membawa payung untuk disewakan. Saya juga tidak mengetahui juga apakah mereka masih bersekolah atau kah sudah putus sekolah. Mungkin juga mereka ada yang sudah harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Ya dengan resiko mengorbankan masa kecil mereka, serta tidak mempedulikan kesehatan mereka, dengan payung mereka mencoba (mungkin) meraih mimpi2 mereka, meraih asa dan cita mereka. Dan semoga saja mereka tidak dikoordinir seorang oknum yang memanfaatkan mereka untuk kepentingan oknum tersebut.

Teruntuk Ibu


Sudah hampir separuh kehidupanku di dunia ini telah aku jalani, dan selama ini pula engkau selalu membimbingku, selalu mengingatkanku dan tidak lupa pula engkau tidak pernah lelah untuk senantiasa memanjatkan doa untuk anakmu ini. Aku tahu mungkin aku belum bisa untuk membahagiakanmu saat ini, aku masih saja kerap menyusahkanmu dengan semua tindakan-tindakan tololku. Namun. Ibu senantiasa sabar untuk tidak bosan-bosannya menyayangiku. Semua keluhku, semua kesahku senantiasa engkau bersedia untuk menampungnya, engkau selalu menyediakan semua waktumu bagiku.

Ibu, tidak terasa keriput sudah menghiasi wajahmu, sudah menjalar keseluruh kulit tubuhmu, tatapan mata mu pun semakin sayu, ku melihat ada selaput tipis yang mulai mengganggu penglihatanmu, genggaman tanganmu pun tidak sekuat sewaktu engkau merawatku dahulu. Semua itu telah berkurang dan akan terus berkurang. Ingin aku membawamu turut serta, namun engkau selalu bilang

“ kamu harus fokus dengan semua jalanmu, biarlah ibu menikmati hari tua ini dengan berkebun, menanam bungan serta menikmati desa ini, desa dimana engkau dahulu menghabiskan masa kecilmu dengan bermain”

Setiap jejak langkah yang ada didesa itu menyimpan banyak sekali kenangan, kenangan yang sewaktu waktu akan menyeruak ke permukaan, jalanan, pepohonan serta rumah tua yang semakin lapuk dimakan jaman itu tetap akan menjadi saksi kenakalanku, kemanjaanku serta menemaniku tumbuh menjadi seorang pemuda seperti saat ini.

Ya aku bisa menjadi seperti saat ini, semua itu dikarenakan perjuangan ibu yang tidak pernah menyerah.

“le, ibu ora isa nyangoni koe bondho, ning isane ibu nyangoni koe ilmu, mangkane lehmu sekolah sek temenan, ben isa go dalan koe urio sesuk”

Aku dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga guru, dimana ibu seorang guru akuntansi disebuah SMK negeri didesaku. Semenjak kecil didikan keras selalu engkau tanamkan kepadaku, mulai dari hal sederhana seperti mencuci piring, mencuci baju, membereskan kamar serta bangun pagi. Engkau pasti akan marah jika aku bangun setengah enam, engkau pasti akan membanting pintu jika aku belum juga bangun.

 

Mungkin dari hal kecil itulah bisa membentuk aku menjadi seorang yang mandiri, tidak tergantung kepada orang lain, dan bisa hidup dalam kondisi apapun. Selain hal itu masih banyak yang engkau ajarkan, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

“le, nek dadi uwong ki ojo dumeh karo ojo rumongso yo?”

Sebuah kalimat yang entah berapa ratus kali aku mendengar dari Beliau, dan hal itu sangat mengena bagiku, bisa memberiku sebuah rambu rambu untuk selalu berada dijalan yang “genah”.

Ibu, mungkin saat ini aku belum bisa membalas semua jasamu, aku mungkin baru bisa membelikanmu bakso, ataupun hal sepele lainnya. Dan engkau pun selalu bilang..

“Le, mbok duite iku dicelengi wae, ibu wes cukup kok, lah iki duit pensiun wae isa go maem karo go nyangoni ponakanmu”

Setiap kali aku memberi ibu bingkisan dan setiap kali kata itu keluar.  Namun aku tidak bisa, untuk berdiam diri saja, aku ingin membuatmu bahagia, aku ingin engkau bisa menikmati hari tuamu dengan pikiran yang tenang, aku ingin selalu melihat senyum itu terkembang dari mu Ibu. Ibu, entah satu atau dua tahun  lagi bingkisan ini akan selesai, setidaknya aku bisa memberikanmu suatu bingkisan kecil untukmu, entah itu di 67 tahunmu atau di 68 tahunmu…

 

Ibu aku sayang kamu..

~mampang prapatan dengan kerinduan~

My Heksagon Piece


Ketika aku boleh mengatakan bahwa hati ini tersusun oleh sebuah kepingan-kepingan segitiga, maka aku akan dengan senang hati mensyukurinya. Dimana jika kemudian disusun, maka kepingan segitiga ini akan menjadi sebuah segi enam. Entah kenapa bentuk segi enam ini sangat mempunyai arti bagiku.

“my heksa”

Segitiga yang mempunyai tiga sudut akan dapat membentuk sebuah heksagon sempurna ketika ada enam buah segitiga yang bergabung menjadi satu kesatuan. Ya, 3+3+3+3+3+3 = heksagon. Sebuah analogi yang mungkin akan teramat sangat sederhana dan bisa dipahami semuanya. Sebuah cara sederhana namun semua ini teramat sangat bermakna dan mempunyai makna begitu mendalam.

Tidak terasa hari sudah berganti pagi, salju semakin hari semakin lebat saja. Suasana Hokkaido sangatlah putih, mungkin bisa dikatakan kalau tidak ada pemanas dikamarku aku bisa saja mati kedinginan. Namun aku tidak perlu khawatir karena segitiga-segitiga itu akan senantiasa memberiku pijar dalam kepingan heksagon ku, meskipun kepingan itu belum lah sempurna, namun tetap saja bisa menghangatkanku.

Kopi pahit yang kemaren aku beli dari pasar tradisional masih ada dan tersimpan dengan rapi, dengan merek blendy, warna kemasannya pun sangat menarik, sehingga tidak tega rasanya untuk menyobek kemudian berusaha menyeduhnya. Namun dengan berat hati aku harus meminummu. Dengan takaran dua sendok makan dicampurkan air panas 180 ml, aku segera menyeduhnya dengan air panas bersuhu 92 deg C, selang beberapa waktu telah tercium aroma kopi blendy ini, harum dan mengepulkan asap yang menggoda.

Sampai lupa ternyata aku masih menyusun potongan potongan segitiga itu di mejaku, kulihat dari kejauhan, nampak belum sempurna bentuk heksagon itu, masih nampak satu segitiga lagi yang belum terbentuk. Potongan potongan korek api itu kelihatan begitu menarik, sangat menarik, namun sayang aku belum bisa menyelesaikannya. Hampir setiap malam aku menyusun potongan-potongan kecil segitiga kemudian aku akan merangkainya menjadi sebuah heksagon, namun tetap saja tidak pernah bisa menjadi sempurna bentuknya, masih ada satu keping lagi yang tidak bisa aku buat. Hmmm mungkin sudah hampir 3 bulan ini aku selalu mencoba untuk merangkainya, namun tetap saja tidak bisa.

Apakah karena potongan koreknya kurang ya?

Entah lah, aku tidak pernah membeli korek batangan lagi setelah aku memutuskan untuk berhenti merokok. Ya itulah potongan korek terakhir dan tetap aku simpan sampai aku terdampar di Hokkaido ini. Apakah ini sebuah dilema ketika aku menemukan dan hampir saja bisa aku melengkapi kepingan heksa ku, namun ternyata koreknya kurang.

Seperti sebuah cerita dalam novel saja, pernah teman satu apartment ku bilang sampai bosen kepadaku:

“Ka, kenapa kamu ga beli korek api batang lagi? Sudah hampir 3 bulan ini kamu melakukan kegiatan yang sama, dan hasilnya pun sama, kepingan heksa itu tidak bisa terbentuk sempuna karena koreknya kurang”

Entah sudah berapa kali dia bilang ke aku, dan aku hanya cengengesan saja mendengarnya. Namun tahukan kamu bahwa di dalam hati ini, aku sedang mencurahkan air mata, aku sedang mencurahkan rinduku, aku sedang mencurahkan semua rasaku. Mungkin kamu tidak tahu, bahwa setiap batang itu mempunyai cerita tersendiri, kenapa ada garis melingkar satu, ada dua bulah garis dan seterusnya di batangan korek itu. Itu kisahku Rey, dan kamu tidak perlu tahu. Mungkin kamu hanya tahu, bahwa aku itu kurang kerjaan, menyusun potongan-potongan korek api dari bentuk sgitiga yang mempunyai tiga sudut, kemudian aku berusaha menyatukan kepingan segitiga itu menjadi sebuah bentuk heksa yang mempunyai enam sudut.

Ketika aku memulai untuk merangkai batangan korek pertama, maka kepingan pertama tadi akan membawa ku ke waktu dimana aku bertemu dengan nya, menggoreskan kata salam ini kepadanya pun dengan kepingan korek nomer sepuluh itu, akan membawa ku menuju ke sebuah malam di tepi tugu pancoran, hari sabtu malam dengan gerimis membasahi kulit ari ku.. dan semuanya memang mempunyai makna…semua itu sangat lah spesial bagiku dan mungkin kepingan terakhir itu ada padanya.

Ahh..sudahlah aku tidak perlu bercerita panjang lebar lagi dan aku tidak perlu menjelaskan semuanya kepada orang yang tidak tepat. Biarlah aku sendiri yang mengetahui itu semua.

-ths, ketika semua ini menjadi biru-

Suatu Pagi di stasiun Tugu


Dua minggu yang lalu kebetulan sayah pulang ke Jogja, sesampainya di Jogjakarta sayah disambut hujan gerimis, tidak terlalu deras, namun jika terlalu lama kehujanan pastilah basah semua. Kebetulan sayah senang sekali naek kereta api, jadi sering laju Jogja – Jakarta dengan naek kereta, bolehlah dikatakan hidup sayah berada di atas rel kereta. Dikarenakan kereta berangkat dari stasiun senen agak telat, maka bisa dipastikan bahwa sampai di Tugu juga akan molor. Tidak terasa pagi sudah menjelang, sampai di jogja pukul 6.00 AM. Udara pun masih segar dan aromo jogja sangat terasa, sembari menunggu jemputan, sayah menyempatkan diri untuk membeli teh panas dan sedikit gorengan.

Ndilalahe beberapa saat kemudian, muncul lah pasangan suami istri yang tidak dikaruniai penglihatan yang sempurna, sang suami sebutlah dia Bambang yang membawa tongkat untuk penunjuk arah dan sekaligus sebagai mata mereka, dimana sang istri sebutlah Yu Sri, selalu berjalan sembari berpegangan pada tangan kanannya. Suami istri tersebut kemudian memesan teh panas segelas untuk berdua, dan makan sedikit gorengan.

‘loh pak, kenapa hanya pesan satu gelas saja?’

‘gpp mas, biar kita merasakan kondisi yang sama, minum dari gelas yang sama, merasakan manis yang sama, merasakan panas yang sama. Dikarenakan hanya itulah yang bisa kami lakukan untuk merasakan indahnya kebersamaan.’

Pak bambang dan Yu Sri, setiap hari bisa menempuh lebih dari 10km berjalan kaki mengelilingi kota Jogja, dengan tulisan tergantung di dada nya

“TUKANG PIJAT”

Mereka mencari nafkah sebagai tukang pijat keliling, dimana pasien mereka ialah orang yang mereka temui dijalan dan memerlukan jasa pijat mereka.

“apa tidak capek Pak, keliling dan jalan kaki tiap hari gini?”

“kalau dipikir pastilah capek mas, namun saya tidak mau mengeluh dan menyalahkan nasib, kenapa saya mempunyai keterbatasan. Yang saya tahu bahwa saya harus selalu berusaha, berdoa dan juga kebetulan saya diberikan keahlian sebagai tukang pijat. Saya tidak mau hanya mengharapkan belas kasian dari orang lain. Saya harus mandiri dan berdiri diatas kaki saya sendiri mas…”

Yu Sri hanya manggut2 saja, tidak banyak kata yang keluar dari bibirnya, seperti nya ia mengamini semua perkataan suaminya.

Dikarenakan yang menjemput saya sudah datang, saya kemudian pamitan dengan mereka berdua. Sembari membayari apa yang mereka makan, tentu saja tanpa bilang kepada mereka. Terima kasih untuk pembelajaran hidupnya Pak Bambang dan Yu Sri.

Semoga semangat kalian bisa menular kepada semua orang yang kalian jumpai

-ths stasiun tugu 15 January 2011, gerimis di jogja-

Rasa yang sempurna


“Ketika seorang koki ingin menyajikan sebuah masakan pastilah dia akan memilih untuk menampilkan semua bumbu dan bahan-bahan yang terbaik untuk mendapatkan cita rasa yang sangat luar biasa, jadi para pemirsa harus senantiasa melakukan hal itu jika ingin memasak. Oke kalau begitu, kita akan jumpa lagi minggu depan untuk resep yang lain. Salam kuliner, pokoe nyamleng”

Segera aku mengambil remote dan mematikan acara kuliner itu, sembari merebahkan diri ini dikursi kemalasan, sebuah kursi yang aku namakan kemalasan karena jika sedang malas ataupun sedang banyak pikiran aku selalu duduk dikursi itu untuk beberapa saat lamanya. Kulihat gelas merah itu pun telah kosong, hanya menyisakan ampas dari kopi yang aku bikin semalam. Kuberdiri sejenak untuk meluruskan semua badan ini, terdengar bunyi tulang yang saling berdentuman dan berbunyi dengan indahnya.

Masih saja dengan sedikit rasa malas ini, ku segera menambahkan air panas kedalam gelas merah itu, warna keruh pun segera menggumpal bercampur dengan air panas dari dispenser. Masih wangi pikirku, jadi tidak ada salahnya jika aku kembali minum kopi ini. Aku tidak bisa berpikir, kenapa dan kenapa, kenapa pagi itu ada resep dengan rasa yang sempurna.

Ahh istilah ini kenapa pas sekali dalam hidupku, istilah yang aku dapatkan dari seorang chef di televisi dan kenapa semua itu bisa pas, pas aku mengalami dan pas pada saat itu pula aku mendapatkan istilah ini. Ya, sebuah rasa yang sempurna.

Kembali aku tertegun untuk sementara waktu, kukembali menerawang akan masa itu, aku mencoba untuk tidak menyalahkannya yang tidak mengenalkan ku kepadanya tempo waktu itu. Walaupun dalam teleponku aku kadang melontarkan nada2 protes kepadanya dan itu aku lakukan lebih dari 10x.

Why…You don’t introduce her to me when you are in one team with her?”

And that thing always there, when I call her. In every time a get a chance I always ask this matter.

Semua ini sangatlah berbeda dan sangat teramat spesial. Walaupun aku tahu bahwa semua itu akan sangat menjadi begitu dilematis. Ketika semua menjadi sangat sangat berarti, dan aku tidak akan pernah bisa melepaskan hal itu, akan aku simpan semuanya erat dalam ruang kalbuku. Jikalau aku boleh mengaku, maka aku akan bilang bahwa hal ini merupakan hal pertama dalam hidupku. Sebuah susunan kata-kata yang akan merangkai sebuah indahya kalimat dan kemudian akan dirangkai dalam sebuah cerita sederhana, namun akan mempunyai makna yang sangat dalam hidup, terutama bagi mereka yang menjalani nya.

Masih dengan terbalut rasa sempurna dari chef masak pagi itu, aku pun semakin larut dengan semua mimpi ini. Kuambil handphone ku dan segera aku memutar lagu nya David cook, semakin membuatku larut dalam semuanya. Ku ingat waktu itu aku sedang dalam perjalanan menuju ke Yokohama, ketika telephone itu untuk pertama kalinya bergetar, kebetulan pesawat yang akan membawaku masih berada entah dimana dan masih cukuplah waktu untuk sekedar bercakap.

“…halo…akhirnya telephone juga ya..ini sayah masih ada di Indonesia untungnya, jadi masih murahlah untuk bisa bergosip ria mba..hehehehe..”

“ah mas, ini bisa saja, ini sayah juga baru sampai di rumah je, jadi baru bisa telpone njenengan.”


Itulah awalnya dan semuanya mengalir dengan sangat indahnya, mengalir dengan diiringi sebuah nada-nada yang begitu sendu dan membentuk rangkaian lagu yang sangat menggugah hati. Semuanya berlangsung dengan sangat cepat dan semuanya sangatlah nyata. Semua ini menggugah rasa membangkitkan sebuah semangat untuk semakin menyalakan pijar itu.

Sudah hampir 2 bulan ini aku berada di Jepang, tepatnya di Yokohama, dan saat ini udara Yokohama berada di titik dingin yang menggigit tulang, namun dinginnya Yokohama tidak terasa dikarenakan pijar itu semakin lama menyala dan menghangatkan intuisiku. Jilbab abu2 yang engkau kirimkan ke Yokohama ini selalu aku dekap dan selalu menemaniku entah kemana aku pergi, dan aku hanya bisa bilang tiga kata “Aku Sayang Kamu”

~ths, gerimis di mampang prapatan 23 Jan 2011~

dimanakah jawaban itu??


aku sudah tidak lagi kuat untuk sekedar berjalan dan menggerakkan kaki ini, mungkin perjalanan ini baru tercapai sepertiganya saja. Namun sekali lagi aku sudah tidak mampu untuk sekedar menggerakkan langkah ini.

berat beban ini semakin membelenggu ku, aku tidak bisa harus berpikir seperti apa lagi untuk sekedar menghilangkan semua beban ini..tidak hanya sekedar menghilangkan namun aku ingin ini semua terselesaikan.

 

sesak sudah dada ini dipenuhi oleh semua hal yang mengganggu, rongga kerongkongan seperti tercekat oleh mata rantai yang sangat kuat membelenggu. untung saja aku masih kuat untuk sekedar menahan. kulihat dengan mata nanar pandangan didepanku, terbentang sebuah terowongan seperti tanpa ujung, gelap dan penuh dengan duri-duri tajam yang siap untuk menelanku. aku tidak tahu kapan aku bisa meraih garis terakhir itu, garis yang aku sendiri tidak yakin akan keberadaannya. sebuah garis imajiner yang membuatku harus melakukan perjalanan ini semua.

 

sudah semenjak awal aku tidak yakin bahwa aku bisa melalui itu semua, namun saat ini aku sudah dipertiga jalan, apakah aku harus memundurkan langkah kaki ini? dimana masi aku liat betapa terjalnya jalan yang telah aku lalui itu. sebuah hal yang membuat hati ini menjadi getir untuk merasakannya.  berderit perasaan ini, galau dan gundah pikiran ini.

 

Tuhan ku, ingin aku berkeluh kepadamu, satu hal saja yang ingin aku sampaikan, apakah aku bisa sampai ketujuan itu?

cobalah engkau memberikan aku secercah petunjuk untuk sekedar menguatkan langkah kaki ini, untuk sekedar membulatkan tekat ini kembali dan berusaha untuk kembali menatap tegak kedepan. kapankah aku akan menerima tanda itu darimu?

 

ingin saja aku letakkan semua nya dan aku mengakhiri semua perjalanan hidup ini di titik itu, dan aku tidak mau lagi untuk berpikir dan merasakan semua hal yang mendera. namun jika hal ini aku lakukan, sama saja aku sebagai seorang pecundang dan tidak lah pantas untuk sekedar hidup. akan tetapi hati ini sudah lelah dengan semua itu dan tidak ada tanda darinya yang diberikan khusus kepadaku, dan dimana hal itu bisa kembali untuk menguatkan dan menghidupkan asa ku..