Category: Serba-Serbi Jakarta ku


Bluwok Pulau Rambut


Ada sebuah momen yang menurut saya sangat luar biasa di Pulau Rambut. Kejadian yang bisa menunjukkan sebuah hubungan yang sangat harmonis antara manusia, alam dan burung. Saya lupa tidak sempat untuk menanyakan namanya, sebut saja pak Udin, dia orang yang bertugas di pulau itu.

Keseharian yang nampak sangat sederhana namun bersahaja. Ya, dari nya lah, saya diperlihatkan sebuah interaksi yang sangat manis antara burung bluwok dengan dirinya.

Karena saya lupa untuk mengabadikannya, disini saya coba untuk mendiskripsikan saja. Pada suatu siang pak Udin memanjang salah satu sarang dari bluwok tersebut, sebuah kamera digital 16 mp, tak lupa diikatkan dengan sebuah bambu untuk merekam kejadian itu, pada awalnya setelah naik dan berada di dekat bluwok tersebut beliau bicara mengenai spesies itu, ya bluwok itu tidak terbang menjauh, setelahnya dia pun memegang kaki bluwok itu dan masih saja, burung itu diam seribu bahasa. So sweet. Sayang untuk elang laut hanya ada fotonya saja.

Saya jadi teringat acara sejenis discovery channel, hampir mirip namun lebih sederhana. Sebuah interaksi antara manusia dengan makhluk habitat dimana dia berada.

Bapak tersebut secara tersirat mengajarkan kepada saya khususnya untuk selalu mencintai alam dan isinya, jagalah dalam buaianmu, sayangilah seolah dia pualam hatimu. Maka alampun akan mencintai semua ketulusanmu.

(Mari kita membiasakan diri untuk mengurangi penggunaan stirofoam, gelas plastik dan barang yang tidak mudah terurai ketika kita melakukan aktivitas sehari2, demi sebuah kombinasi hidup yang indah)

Advertisements

Sukapura, merupakan tempat pertama kali aku mengenal Jakarta. Disebuah daerah yang bisa dikatakan kumuh aku kos untuk pertama kalinya. Berdua dengan temanku, kami membayar harga 200K IDR untuk pondokan satu bulan. Selama kurang lebih setengah tahun aku berada di tempat itu. Ditempat itu aku mengenal para pekerja yang rata2 mempunyai keahlian menjahit dari berbagai daerah, ada yang dari Sragen, Padang, Pemalang, Kebumen, Purworejo, Lampung dan dari Cirebon. Kost tempat ku berteduh itu terdiri dari 20 kamar tidur dengan 5 kamar mandi. Didepan nya ada sebuah padang rumput yang agak kotor bertumpukan sampah serta tidak lupa pula ada sebuah kandang kambing, dimana kadang kala kambing-kambing itu suka berkeliaran dengan bebasnya, bahkan sampai diperumahan mewah disebelahnya. Hanya dibatasi sebuah sekat dari tembok, dua pemandangan kontras itu terhampar di mata aku, ironis memang dan hal itu membuat aku kembali berpikir, “apakah aku akan tinggal di Jakarta dan beraktivitas dengan lingkungan seperti ini?”. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sembari menarik nafas panjang.

Aktivitas ku selama enam bulan itu mungkin bisa dikatakan statis namun penuh dengan warna. Malam hari, seperti biasanya aku dan teman-teman di kos selalu mengisi ember ukuran +- 10 L untuk mandi di keesokan harinya, jika kami tidak menampung air dimalam hari, maka pagi hari nya kami agak kesusahan untuk mengisi air, dikarenakan air pam dipagi hari aliran airnya sangat kecil bahkan bisa mati. Namanya juga kos, ada juga teman yang “jahil methakil” dimana mereka malas untuk mengisi ember mereka sendiri dan pagi harinya mereka bangun lebih pagi dan kemudian mengambil punya teman yang lain. Bahkan ada yang sampai dihabiskan satu ember penuh. Itulah aktivitas statis dimalam sampai pagi hari di tempat itu.

Setelah mandi serta memakai pakaian rapi, kami berdua dengan berjalan kaki berangkat menuju ke perusahaan pembuat spare part untuk otomotif terbesar di Indonesia. Melalui perumahan mewah, dimana pedangdut Mansyur S mempunyai rumah di tempat itu, kami berjalan. Kami melihat ibu-ibu yang berjualan bubur ayam yang dijajakan dengan sepeda jengki butut dan tidak lupa pula diiringi teriakan khas yang terdengar cempreng, “buurr ayaammmm, buburrr ayamm”.

Setelah keluar dari perumahan kami masih harus berjalan menuju ke jalan utama Semper-Pulo Gadung, dan masih harus melanjutkan dengan mempergunakan angkot merah. Menyusuri jalan pergangsaan 2 selama 10-15 menit untuk sampai ditempat kami magang kerja. Lagi-lagi pikiran ini beradu pendapat, “haruskah hidup di kota ini? Jalanan yang macet, sungai yang menghitam dan menimbulkan bau yang sangat menyengat luar biasa serta tingkat polusi yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya”

Di tempat itulah perusahaan itu memeras semua otak dan fisikku dengan imbalan yang sangatlah kecil untuk bisa hidup layak di Jakarta. Entahlah, namun aku menjalani itu semua hampir setengah tahun dan aku hanya berpikir bahwa itu merupakan sebuah siklus kuliah yang harus aku selesaikan.

+++

Sabtu dan minggu ku kadang aku habiskan hanya dengan duduk bengong sambil belajar bermain Gitar, dan kadang pula bercakap dengan teman yang sedang tidak bekerja sabtu ataupun minggu itu. Oia aku belum bercerita kalau kos itu merupakan kos campuran, ada cowok dan cewek serta satu keluarga dengan satu anak kecil. Aku sering kali menggali banyak hal dari mereka, kehidupan mereka serta banyak hal yang aku telusuri. Dua cewek padang yang sangat keras dan kadang pula mereka berpakaian seksi hanya dengan hot pant dan tank top yang memperlihatkan sebagian kulit putihnya, ada pula gadis asal sragen lulusan sekolah menengah pertama yang sangat cuek dan sangat bebas begaul dengan pacarnya, dan ada pula mas-mas yang religious. Semua bercampur menjadi satu kontrakan dan menggoreskan sedikit cerita dikontrakan dua puluh kamar itu. Dikarenakan dikos itu hanya aku dan temanku saja yang mengeyam bangku kuliah, maka banyak dari mereka yang sering minta pendapat tentang masalah mereka, entah pekerjaan, pacar dan berbagai mimpi mereka.

Malam minggu merupakan malam yang sangat menjengkelkan, dikarenakan banyak yang “ngamar” dengan pasangan masing2, walaupun pintu dibuka, namun tetap saja hal itu menyebalkan bagiku. Entah apa yang mereka lakukan aku tentu saja tidak mengetahui dan tidak mau tahu.

“Jakarta seperti ini ya pergaulannya?” entahlah.

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kabar, bahwa ada temen cewek kos yang hamil diluar nikah dan di usir dari tempat itu. Oia, aku juga belum bercerita tentang orang asli didaerah itu yang cenderung rese, mereka sering mengambil sandal, sabun cuci, sabun mandi serta sering berisik dimalam hari dengan bermain musik sangat keras. Aku juga mengamati ada sekelompok orang yang kerjaannya main kartu dan hanya main kartu selama enam bulan itu. Didekat kandang kambing itu mereka bermain kartu dengan dibumbui uang ribuan sebagai pelengkapnya.

Hujan deras di akhir 2003 itu sering melanda Jakarta termasuk sukapura, dan momen inilah yang sangat aku sukai, dimana semua jalan terendam dan kekumuhan itu sedikit sirna diterjang oleh air yang menggenang sekitar 20cm. Ditemani lagu dari incubus, aku menikmati banjir itu. Aku sering menyusuri daerah yang aku anggap kumuh itu, bau got pun terasa sangat menyengat disela-sela rumah yang sempit itu. Ada beberapa tempat makan ditempat itu, dan kadang pula aku melakukan kas bon ditempat makan itu, salah satunya diwarung makan milik orang semarang itu.

+++

Gambaran enam bulan hidup di Jakarta serta bekerja dalam tanda kutip disebuah pabrik produksi membuatku terus berpikir dan berpikir serta merujukkan ke sebuah kesimpulan sederhana, bahwa aku tidak mau hidup di kota ini, serta dengan lingkungan seperti ini. Sekitar bulan maret, tugas magangku selesai dan aku harus kembali lagi ke Jogja, sebuah hal yang sangat menyenangkan bagiku. Sukapura, Semper, Plungpang, Kelapa Gading, Pulo Gadung serta jalan sepanjang trayek Mayasari P8 dilanjutkan menuju ke depok itu telah memberikan gambaran Jakarta yang sangat tidak menyenangkan untukku. Itulah sekelumit kecil gambaran Jakarta dimata seorang ndeso yang menginjakkan Jakarta untuk pertama kalinya.

Tergoda Gado-gado


Tebet merupakan surga makanan enak, dari makanan laut, baik ikan air tawar maupun air laut, berbagai jenis masakan ayam, gado-gado serta masih banyak makanan enak lainnya. namun saya akan mengulas sedikit mengenai gado-gado saja. Sudah banyak sekali saya mencoba untuk membandingkan gado2 di Tebet ini, kebanyakan memang berjualan dengan gerobag dorong, walaupun demikian jangan khawatir, rasanya ada yang lumayan enak. Entah mengapa, saya sangat menyukai masakan ini. Perpaduan bumbu kacang, sayuran serta telur yang di mix menimbulkan rasa yang sangat tasti di lidah saya. Dan mungkin juga ketika di Jogja saya sering sekali makan gado2 ini (gado2 teteg, gado2 sagan serta gado2 utara peternakan UGM). Mari kita coba saja gado2 di tebet. disini saya hanya mereview tiga tempat saja, mulai dari yang paling enak dan kurang direkomendasikan. 1. Gado2 paling enak nomer 1 Penjual gado2 ini berada di basement pasar ramayana. Simbok dan putra nya ini berjualan di tengah2 percetakan yang dominan di area itu. Dari depan pasar (pintu sebelah barat) cari jalan ke underground, kemudian masuk dan cari disebelah utara. Tapi perlu diingat ketika kita jajan pas jam istirahat akan banyak sekali antrian. Bumbu yang diracik Simbok sangatlah pas, baik dari segi campuran kacang, gula, garam dan bumbu lain, selain itu walaupun di uleg namun tingkat kehalusan bumbu sangat mantab. Dan yang paling menggugah selera ialah taburan bawang merah goreng yang sangat banyak banget. mantab. Selain itu kita juga bisa pesan es jeruk yang dibikin dari jeruk asli (2-3 buah jeruk diperas) whoala. its recommended place dude.

Harga: 15.000 rupiah sama telur

Es jeruk: 3000 rupiah

“gado-gado underground”

2. Gado2 nomer dua terenak

Letak penjual ini ada diseberang utara pasar ramayana depan BCA dekat dengan penjual buah. Yang berjualan ialah suami istri, sang suami meracik bumbu sedangkan sang istri meracik campurannya. Gado2 tempat ini merupakan gado2 pertama di tebet yang saya coba dan rasanya waktu itu sangatlah enak, sebelum mengetahui underground.Campuran bumbu pun sangat pas. Selain itu cita rasa sayuran juga sangat segar di mulut, walaupun masih kalah, namun saya merekomendasikan gado2 didepan BCA ini
Harga: 9000 sudah sama telur
“gado-gado depan BCA tebet”
3. Gado2 model Blora

saya kecewa dengan gado2 ini, selain harganya sangat mahal rasanya sangat tidak tasti. saya kurang tahu persis dimana letaknya dikarenakan hanya nitip OB kantor. namun secara keseluruhan saya kecewa dengan rasanya, terlalu manis dan aneh. Jika ada teman yang menawari untuk makan gado2 model blora di tebet saya merekomendasikan untuk tidak makan.
Harga 18.000
“gado-gado model Blora”
selain itu ada beberapa penjual gado2 yang kurang pas menurut saya (seperti bumbu kasar, rasanya kacau, dominan gula serta ada yang pure rasa kacang) di per4an depan pasar tebet serta depan kantor saya di Dr Soepomo Jaksel.
sudah kah anda bergado2 hari ini?
terima kasih

Tidak terasa, tiga tahun sudah saya menjalani hidup di Ibukota, tiga tahun dengan berbagai macam lika dan liku yang silih berganti menghampiri. Saat ini hampir 5 hari Ramadhan datang menghampiri, dan ini merupakan tahun ketiga pula saya berpuasa di Jakarta. Pada awalnya memang terasa agak sedikit aneh, banyak hal yang hilang, banyak hal yang berbeda dan sangat baru. Saya tidak lagi berbuka dengan Kolak buatan Pisu saya, sayur dipadukan tempe bawang uyah yang di goreng juga oleh Pisu tercinta. Kadang kala saya kangen dengan semua suasana tersebut.

But. live must goes on, dan saya pun menjalani semua ritual baru di Ibukota ini. Bangun pagi biasanya pukul 04.00 WIB, dengan mata masih separuh terbuka, selanjutnya seperti biasanya sahur dengan sekerat roti ditambah dengan segelas susu coklat, entah dikarenakan malas untuk mencari makan atau memang belum terbiasa makan pagi, jadi asal isi saja.

“Sekerat Roti dilapisi Selai”

Setelah semua ritual pagi itu selesai, dilanjutkan dengan melakukan ibadah subuh, dan menunggu jadwal utk bergerak ke kantor. Namun, puasa tahun ini agak berbeda, Jakarta masih saja diguyur hujan, padahal bulan sudah masuk musim ke 2 penanggalan Jawa. Setelah kewajiban dikantor terpenuhi, tepat pukul 16.00 saya biasanya sudah bersiap untuk pulang dari kantor, kurang lebih 30 menit saya telah sampai di kost, bersiap untuk berbuka puasa, mulai dari mencari menu diseputaran Tegal Parang sampai di depan Trans TV, banyak menu yang telah tersedia, mulai dari kolak, es buah, makanan kecil, es selendang mayang, serta lauk pauk yang menghias dengan cantiknya.

“Kadang dengan Teh Panas”

Es buah, lauk dan sayur biasanya menemani sore hari saya. Saya jarang sekali membeli nasi, dikarenakan sudah menanak sendiri. Sekitar pukul 18.00, saya pun segera menyegerakan untuk berbuka, namun pada saat saat seperti ini saya selalu ingat akan masakan yang dibuat  oleh pisu saya. Walaupun cuma kolak yang berisi dengan pisang dan ketela, dengan teh tubruk panas. ahh saya kangen dengan Pisu saya.

Ibu, selamat berbuka puasa

Ibu, doa lirih anakmu ini senantiasa menemanimu dalam sahurmu.


Darah, merupakan penyokong kehidupan kita, tanpa darah tubuh kita akan menjadi lemah dan akhirnya berhenti beroperasi. Dikarenakan darah merupakan komponen yang sangat vital, yang mempunyai peran untuk membawa nutrisi dan asupan oksigen ke dalam organ-organ tubuh, jika darah yang beredar dalam tubuh jumlahnya sedikit, maka organ seperti otak jantung, hati akan kekurangan nutrisi, dan ujung-ujungnya akan mengakibatkan kematian. Jika hal itu terjadi, maka kita memerlukan pasokan darah dari luar, dengan jalan transfusi darah. Namun ketersediaan darah itu pastilah akan tetap ada jika kita sebagai seorang yang sehat bersedia untuk melakukan donor darah.

Adapun syarat-syarat untuk menjadi pendonor darah inilah :

  • Mempunyai umur 17 – 60 th.
  • BB minimal ialah 45 kg
  • Nadi 60 – 100 / Menit
  • Tekanan darah 100 – 180 mmHg (sistolik) dan 60 – 100 mmHG (diastolic)
  • Hb : lebih dari 12,5 /dl
  • Jarak minimal donor darah ialah minimal 75 hari, dikarenakan pada waktu ini darah sudah matang dan siap untuk didonorkan, jadi sebelum 75 hari setelah donor terakhir, kita tidak boleh melakukan donor darah, selain darah belum siap pakai, hal ini juga bisa berefek kurang baik bagi pendonor.
  • Keadaan Umum : bukan pecandu alkohol atau narkoba, tidak menderita penyakit jantung, paru-paru, hati, ginjal, kencing manis, penyakit darah, gangguan pembekuan darah, epilepsi, kanker, penyakit kulit kronis, kecuali diperbolehkan oleh dokter yang merawat.
  • Selama haid, hamil, menyusui, tidak diperkenankan donor darah, boleh donor setelah 6 bulan melahirkan, 3 bulan setelah berhenti menyusui.
  • Tidur malam sebelum donor darah harus cukup minimal 5 jam.
  • Sudah sarapan / makan.

Setelah dirasa semuanya cukup, maka bolehlah kita segera menuju ke PMI terdekat untuk melakukan donor darah. Dikarenakan setetes darah kita, sangatlah berarti untuk mereka yang membutuhkan.

mas aku itu pengen donor darah, semua syarat sudah terpenuhi, lah terus caranya donor darah itu bagaimana to mas?”

“kamu pergi saja ke PMI dekat tempat tinggalmu Le, aku kasih contoh saja, pas melakukan donor darah di PMI pusat yang letaknya di jalan Kramat Raya Jakarta Pusat ya Le”

Beberapa waktu yang lalu saya melakukan donor darah yang ke 21 di PMI pusat di Jl. Kramat Raya No. 47 Jakarta Pusat 10450, yang mempunyai nomer Telp. : (021)3906666 (Hunting) Fax. : (021) 3101107

“gedung PMI”

“selamat datang di PMI”

Adapun rangkaian proses donor darah itu sendiri ialah, mulai dari mengisi formulir yang telah disediakan oleh PMI, dimana kita akan disuruh untuk mengisi beberepa data yang harus kita lengkapi.

“bagian muka”

“pertanyaan yang harus kita isi”

“data diri pendonor”

Setelah mengisi donor dengan lengkap, terus langkah berikutnya ialah menimbang berat badan kita, setelah itu dilakukan pengecekan data dan pengambilan darah untuk memastikan bahwa kita siap untuk diambil darahnya, kadar hemoglobinnya sebagai indikator bahwa kita dalam kondisi sehat dan bugar. Pastikan bahwa kita cukup tidur dan makan sayuran yang cukup sebelum donor darah.

“diperiksa kadar Hemoglobinnya”

“Ruang tunggu”

Selanjutnya, kita akan diperiksa tekanan darah, nadi oleh dokter yang bertugas.

“diperiksa oleh Dokter”

“mencatat hasil pemeriksaan”

Setelah semuanya dinyatakan bagus, setelah proses ini selanjutnya darah kita siap untuk diambil, biasanya berkisal 250 sampai 350 CC. Walaupun jarumnya lumayan besar, namun rasa sakit yang kita rasakan pas di suntik jarum ini tidaknya begitu sakit, hanya seperti digigit semut saja.

“pengambilan darah”

Mungkin proses ini berlangsung sekitar 15menitan, setelah pengambilan darah selesai, kita tidak boleh menggerakkan tangan dengan akif terlebih dahulu, tunggu lah beberapa saat, setelah itu baru bisa kita gerakkan dengan bebas, jika hal ini tidak kita lakukan takutnya bekas luka tadi akan bocor dan darah pun akan keluar mengalir. Setelah itu, makan deh 😀

“menu setelah berdonor”

Jadi? sudah siapkan anda untuk melakukan donor darah?


Minggu ini tepat tanggal 3 dan 4 juli 2010 di Plasa Selatan Gelora Bung Karno Senayan, diadakan acara tahunan rutin dari Kecap Bango, yaitu Festival Jajanan Bango. Berhubung tahun yang lalu terlewatkan, maka pada even kali ini saya berusaha untuk meyambanginya.

“welcome to kampung Bango”

Lengkap dengan bermodalkan perut keroncongan yang belum saya isi dari pagi, hari minggu 4 juli kemaren saya bertolak ke Senayan. Berangkat Dari Mampang Prapatan dengan naik kendaraan seadanya, dan 30 menit berselang saya tiba juga ditempat Kecap Bango punya gawe. Jam telah menunjukkan pukul 12.30, nampak suasana Kampung Bango pun teramat semarak, meskipun cuaca siang itu sangat terik dan membuat keringat ini terus menetes dengan derasnya dari wajah maupun sekujur tubuh.

“ramee..”

Akan tetapi itu semua tidak menyurutkan tekat dan niat saya untuk mencicipi semua masakan dan hidangan yang telah tersaji dan mengajak perut ini untuk segera menari.

“Liat Gerobaknya dolo, baru nyicipin masakannya”

Bingung, itu yang saya alami, begitu banyak hidangan lezat dan cantik menggoda, kepulan asap, bercampur dengan bumbu2 khas yang silih berganti masuk dan menari di hidung saya.

Akhirnya saya putuskan untuk mencoba sate Maranggi, baluran daging ayam dan sapi berbumbu yang dipanggang dengan arang, telah membikin stand ini dipenuhi orang untuk mencicipinya.

“Membakar sate..harumnnyaaa”

Beringsut saya stand disampingnya yang menjual mie aceh, langsung saja saya memesan satu porsi mie aceh lengkap..hummmm nikmatnya. Tidak lupa pula es serutan timun yang sangat segar menemani mie aceh dan sate maranggi.

“Menikmati Mie Aceh”

Namun perut ini masih saja ingin dimanjakan dengan masakan yang laen, dan pilihan saya jatuh ke nasi goreng kambing kebon sirih…wuih masih mengepulkan asap yang sangat wangi..

“kepulan asap dan bumbunya…nikmat”

Satu dua tarikan nafas untuk sekedar melemaskan otot perut, dan pandangan mata ini langsung tertuju ke martabak Kubang, dan masuk juga Martabak satu porsi ini kedalam perut saya 😀

“martabak porsi kecil”

Weittsss…kok banyak sekali yang mengantri di stand tahu goreng, dikarenakan saya penasaran, langsung saja saya indent memesan tahu goreng itu. Sembari menanti matangnya tahu goreng, saya menikmati es cincau dan es lilin yang sangat menyegarkan disiang yang terik itu.

Penantian lama akan tahu tadi terbayar tuntas, dengan empuknya dan nikmatnya tahu goreng yang dipadukan dengan sambal kecap yang mengalir dan membasahi tahu itu.

“tahunya sangat empuk dan leleh dalam mulut”

Dengan porsi yang lumayan jumbo, mengakibatkan saya tidak bisa mencicipi semua menu yang ada, namun semua itu terpuaskan oleh beberapa masakan khas Indonesia yang telah sudi singgah bersama saya.

“Sop Buntut”

Semoga saya dapat menikmati wisata kuliner seperti itu lagi dan sukses selalu untuk kecap Bango yang telah memberikan sarana wisata kuliner untuk warga Ibukota dan sekitarnya. Pokoknya kalo ada even makan2 ndak datang, itu rugi dan dosa besar 😀 (ths)